Lee Hee-ho, Eks Ibu Negara Korea Selatan Meninggal Akibat Kanker Hati

Oleh Siti Khotimah pada 12 Jun 2019, 16:01 WIB
Mantan ibu negara Korea Selatan Lee He-ho meninggal dalam usia 96 tahun (Ahn Jung-won/Yonhap via AP)

Liputan6.com, Seoul - Istri mendiang mantan Presiden Korea Selatan Kim Dae-jung meninggal dunia pada usia 96 tahun. Lee Hee-ho yang juga merupakan aktivis hak-hak perempuan telah berjuang melawan kanker hati dan menghembuskan napas terakhir di Seoul pada Senin 10 Juni 2019, menurut informasi asistennya.

Dianggap sebagai salah satu pelopor hak-hak perempuan di Korea Selatan, Lee secara aktif mendukung karir politik suaminya. sebagaimana dilansir dari The Japan Times pada Rabu (12/6/2019). Kim Dae-jung sendiri terkenal sebagai Nelson Mandela Asia dan mendapatkan Nobel Perdamaian.

Dalam periode ketika banyak perempuan di Korea Selatan memiliki akses terbatas terhadap pendidikan, Lee belajar di lembaga utama negara itu, Seoul National University. Ia kemudian melanjutkan studi di Amerika Serikat, sebelum mendirikan sejumlah organisasi yang peduli terhadap hak-hak perempuan di Seoul.

Sang mantan ibu negara pernah menginisiasi sebuah kampanye, memprotes politikus laki-laki yang berpoligami. Praktik itu bersifat umum di Korsel pada 1950-an, di mana saat itu para istri sering dipaksa meninggalkan anak-anak mereka karena suami memilih hidup dengan perempuan lain.

"Hari ini kita melihat orang hebat yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk perempuan," Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, mengatakan dalam sebuah pernyataan saat mengunjungi Finlandia.

"Dia juga berpartisipasi dalam gerakan pro-demokrasi dan memainkan banyak peran dalam pendirian Kementerian Kesetaraan Gender di bawah pemerintahan suaminya," lanjut Moon.

 

2 of 3

Aktif Mendukung Suami

Kim Dae-jung dianugerahi Nobel Perdamaian atas upayanya mewujudkan rekonsiliasi dengan pihak Korut.
Kim Dae-jung dianugerahi Nobel Perdamaian atas upayanya mewujudkan rekonsiliasi dengan pihak Korut (AFP)

Lee berperan banyak dalam pemerintahan suaminya yang menorehkan sejumlah prestasi. Mantan Presiden Korsel Kim paling diingat dengan kebijakan terhadap Korea Utara yang bersenjata nuklir. Ia sempat mengadakan pertemuan puncak bersejarah dengan almarhum ayah Kim Jong-un, Kim Jong-il pada 2000 lalu.

Kebijakan itu sebagian besar ditinggalkan ketika pemerintahan konservatif mengambil alih kekuasaan di Korea Selatan pada 2008 dan hubungan lintas perbatasan memburuk.

Lee melakukan perjalanan kemanusiaan yang tidak biasa ke Korea Utara pada tahun 2015, sekitar lima tahun setelah kematian suaminya. Namun, tidak bisa bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un selama kunjungan tersebut, meskipun berhasil melakukan hal itu pada perjalanan sebelumnya.

3 of 3

Kim Dae-jung Lebih Dulu Meninggal

Presiden Korea Selatan, Kim Dae-jung dan pemimpin Korut Kim Jong-il berpegangan tangan sebelum menandatangani perjanjian di tengah pertemuan bersejarah antara dua Korea di Pyongyang pada 14 Juni 2000.
Presiden Korea Selatan, Kim Dae-jung dan pemimpin Korut Kim Jong-il berpegangan tangan sebelum menandatangani perjanjian di tengah pertemuan bersejarah antara dua Korea di Pyongyang pada 14 Juni 2000 (AFP-JIJI)

Kim Dae-jung, suami Lee Hee-ho telah lebih dulu meninggal dunia, yakni pada Agustus 2009 lalu. Ia menghembuskan napas terakhir di usia 85 tahun karena gagal jantung.

Sejumlah politisi dan pejabat negara Korea Selatan memberi penghormatan terakhir pada Selasa, 18 Agutus 2009. Begitu pula mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Ban Ki-moon, yang sempat menjabat sebagai wakil menteri luar negeri di masa pemerintahan Kim.

Kim Dae-jung dikenang warganya sebagai sosok yang berhasil membuat hubungan Korsel dan Korea Utara menghangat.

Kim yang menjabat presiden dari 1998 hingga 2003 dianugerahi Nobel Perdamaian atas penerapan Sunshine Policy, sebuah tawaran insentif dan integrasi ekonomi kepada Pyongyang. Kebijakan ini terbukti ampuh menghapus kecurigaan dan ketegangan di antara kedua negara

Lanjutkan Membaca ↓