Aksi Nekat Greenpeace Tolak Sumur Minyak Baru di Skotlandia

Oleh Siti Khotimah pada 10 Jun 2019, 12:32 WIB
Industri pengeboran minyak lepas pantai di Kalimantan Timur (Abelda Gunawan/Liputan6.com)

Liputan6.com, Edinburgh - Sebuah organisasi lingkungan non-pemerintah melancarkan aksi yang berani dalam rangka menuntut diakhirinya pengeboran sumur minyak baru di bagian utara Skotlandia, Inggris.

Aktivis Greenpeace naik ke pengebor minyak (rig) berbobot 27.000 ton, saat alat itu ditarik keluar dari laut. Mereka kemudian melakukan protes di atas kapal.

Greenpeace menduga pengeboran minyak itu dioperasikan oleh perusahaan bernama BP. Para pengunjuk rasa menyerukan BP untuk mengakhiri pembuatan sumur minyak baru, sembari mengatakan bahwa mereka siap untuk tinggal berhari-hari di sana sebagai aksi penolakan.

Protes dimulai setidaknya pada Minggu 9 Juni 2019 malam pukul 18.30 waktu setempat, sebagaimana dilaporkan The Guardian dikutip Senin (10/6/2019).

Saat itu, seorang juru kampanye di sebuah kapal berhenti di samping alat pengebor raksasa di Kota Inverness, Skotlandia. Ia kemudian naik ke atas kepal dan membentangkan spanduk yang berisi keadaan darurat iklim.

Para aktivis Greenpeace ingin menghentikan pengeboran yang diduga dapat mencapai ladang minyak Vorlich, Skotlandia di mana operasi itu diyakini akan mengekstraksi hingga 30 juta barel minyak.

2 of 3

Lantang Menolak Bahan Bakar Fosil

Pelajar Belgia Bolos Sekolah Demi Aksi Perubahan Iklim
Pelajar Belgia menyuarakan sejumlah tuntutan saat menggelar unjuk rasa masalah perubahan iklim di kantor Uni Eropa, Brussels, Belgia, Kamis (21/2). Plakat-plakat itu berisi pesan tentang pemanasan global dan bahan bakar fosil. (Liputan6.com/HO/Arie Asona)

Seorang aktivis Greenpeace dari Skotlandia bernama Jo, yang berada di atas alat pengebor, mengatakan kalimat yang sangat berani.

"Kata-kata hangat mengalir dari BP tentang komitmen mereka untuk mengatasi perubahan iklim. Namun rig (alat pengebor) ini - dan 30 juta barel yang akan dibor - adalah tanda pasti bahwa BP berkomitmen pada bisnis seperti biasanya, memicu keadaan darurat iklim yang mengancam jutaan jiwa dan masa depan dunia yang hidup. Kita tidak bisa membiarkan itu terjadi - itu sebabnya kita ada di sini hari ini," kata Jo.

"Pemerintah mungkin bertekad mengeringkan Laut Utara dari setiap tetes minyak terakhir, tetapi ini jelas bertentangan dengan komitmen iklim mereka. Sebuah gagasan buruk untuk memaksimalkan cadangan minyak dan gas kita, tidak dapat dilanjutkan," lanjutnya.

Jo juga mengatakan, pemerintah harus secara serius mereformasi Otoritas Minyak dan Gas. Selain itu, juga harus berinvestasi besar-besaran dalam rangka berpindah ke bahan bakar yang bukan fosil.

3 of 3

Perusahaan Minyak Nilai Aksi Greenpeace Membahayakan

Pengeboran Minyak
Pengeboran Minyak (Ilustrasi/Istimewa)

Menanggapi protes tersebut, seorang juru bicara perusahaan minyak bernama BP mengatakan: “Dalam semua operasi, keselamatan adalah prioritas utama kami. Meskipun kami mengakui hak untuk protes damai, tindakan kelompok ini tidak bertanggung jawab dan dapat membahayakan diri mereka sendiri dan orang lain.

"Kami bekerja dengan Transocean - pemilik dan operator rig - dan pihak berwenang untuk menilai situasi dan menyelesaikannya secara damai dan aman," kata pihak juru bicara BP.

"Kami berbagi keprihatinan dengan para pengunjuk rasa tentang iklim. Kami mendukung perjanjian Paris. Dan kami bekerja setiap hari untuk memajukan transisi dunia menuju masa depan rendah karbon," katanya.

Polisi Skotlandia mengatakan mereka mengetahui insiden yang sedang berlangsung, tetapi situasi saat ini berada dalam yurisdiksi Otoritas Pelabuhan Cromarty Firth. Seorang juru bicara Otoritas Pelabuhan memenolak berkomentar terkait hal ini.

Lanjutkan Membaca ↓