Pasukan yang Didukung UEA Serbu Masjid, 5 Orang Tewas

Oleh Liputan6.com pada 09 Jun 2019, 18:15 WIB
Diperbarui 11 Jun 2019, 06:15 WIB
Salah seorang anggota pasukan militan Houthi yang berperang dengan pemerintah Yaman (AFP Photo)

Liputan6.com, Azrak - Para pejabat keamanan Yaman mengatakan beberapa laki-laki bersenjata dari pasukan yang didukung Uni Emirat Arab telah menyerbu sebuah masjid di provinsi Dhale selatan. Sedikitnya lima orang tewas dalam serangan itu.

Para pejabat di Yaman mengatakan serangan itu terjadi sehari sebelumnya, ketika orang-orang sedang salat di sebuah masjid di distrik Azrak, Yaman.

Mereka mengatakan para pelakunya, yang merupakan anggota kelompok The Security Belt, menculik tiga lainnya. Para pejabat berbicara dengan syarat identitas dirahasiakan karena mereka tidak berwenang berbicara kepada media.

Para pemimpin suku di distrik itu mengecam serangan tersebut dan menyerukan agar mereka yang bertanggung jawab segera diadili.

Pasukan The Security Belt mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa para korban tewas adalah para pemberontak Houthi di Yaman yang menolak menyerah.

Uni Emirat Arab (UEA) adalah bagian dari koalisi pimpinan Saudi yang memerangi para pemberontak Houthi sejak 2015.

2 dari 2 halaman

Houthi Mulai Hengkang dari Kota Pelabuhan Vital di Yaman

Militan Houthi menguasai Hodeidah yang menjadi pelabuhan utama di Yaman (AP Photo)
Militan Houthi menguasai Hodeidah yang menjadi pelabuhan utama di Yaman (AP Photo)

Kelompok pemberontak Houthi di Yaman telah mulai menarik diri dari kota pelabuhan strategis di Hodeidah pada pertengahan Mei tahun ini Langkah tersebut menunjukkan aksi nyata pertama sejak perjanjian gencatan senjata dengan tentara pemerintah ditandatangani pada Desember 2018.

Baik pasukan Houthi dan pemerintah sepakat untuk hengkang dari Hodeidah untuk memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan yang vital, demikian seperti dikutip dari BBC.

Rekaman video yang diperoleh BBC menunjukkan pasukan Houthi berangkat dengan truk. Pemindahan ini diperkirakan akan memakan waktu empat hari total.

Namun, pemerintah Yaman masih tidak percaya dengan Houthi dan menuduh pemberontak melakukan "tipu muslihat".

Al-Hasan Taher, seorang pejabat senior pro-pemerintah, menuduh para pemberontak mengganti diri mereka dengan anggota milisi Houthi lainnya yang mengenakan seragam penjaga pantai dan polisi.

Tetapi kelompok Houthi mengatakan "penarikan sepihak" menunjukkan "komitmen untuk mengimplementasikan perjanjian atas Hodeidah dan untuk mencapai perdamaian". Houthi juga meminta PBB untuk menekan semua pihak untuk mematuhi perjanjian.

Setidaknya 6.800 warga sipil tewas dalam perang saudara empat tahun Yaman. Sekitar 10.700 lainnya terluka dalam pertempuran itu, menurut PBB, dan ribuan lainnya telah meninggal karena sebab yang dapat dicegah seperti kekurangan gizi, penyakit dan kesehatan yang buruk.

Lanjutkan Membaca ↓