Kritik NASA, Donald Trump Sebut Bulan Sebagai Bagian dari Mars

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 08 Jun 2019, 11:48 WIB
Donald Trump dalam safari politiknya di Biloxi, negara bagian Mississippi, pada November 2018 (AFP/Jim Watson)

Liputan6.com, Washington DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat geger publik. Kali ini bukan tentang perang dagang atau penjatuhan sanksi, namun tentang argumen bahwa Bulan adalah bagian dari Mars.

Pendapat kontroversial yang dilontarkan pada Jumat 7 Juni itu sontak membuat para peminat astronomi terkejut.

Dalam sebuah twit, sebagaimana dikutip dari The Guardian pada Sabtu (8/6/2019), Donald Trump disebut tampak mengomentari kebijakan luar angkasa pemerintahannya sendiri.

"Untuk semua uang yang kita keluarkan, NASA tidak boleh berbicara tentang pergi ke Bulan. Kita telah melakukannya 50 tahun lalu," twit Trump.

Dia menambahkan: "Mereka harus fokus pada hal-hal yang jauh lebih besar yang kita lakukan, termasuk Mars (di mana Bulan adalah bagiannya), Pertahanan dan Sains!"

Banyak pihak menyayangkan komentar Trump tersebut, karena menurut mereka sudah jelas bahwa Bulan adalah satelit alami Bumi, bukan bagian dari Mars.

Meskipun jarak rata-rata Mars ke Bulan lebih dekat, yakni 140 mil (setara 225 kilometer), namun lintas revolusinya mengikuti Bumi, bukan ke Planet Merah.

Meski begitu, hingga saat ini belum ada tanggapan resmi dari NASA terkait pernyataan Donald Trump di atas.

 

 

2 of 3

Memicu Kejutan Ganda

Bulan Purnama Penuh
Foto yang diambil pada tanggal 01 Januari 2018 ini menunjukkan "supermoon" yang muncul di langit malam, sebuah fenomena alam yang sudah tidak pernah terlihat lagi dalam 36 tahun. (Boris Horvat/AFP)

Terlepas dari apakah Bulan adalah bagian dari Mars, pendapat Trump tersebut memicu kejutan ganda, lantaran sebelumnya ia mengaku antusias dengan rencana napak tilas ke Bulan.

Kritiknya terhadap rencana NASa untuk pergi ke Bulan, muncul hanya tiga pekan setelah dia terang-teranga mendukung gagasan tersebut.

Pada 13 Mei 2019, Trump mengetwit: "Kami akan kembali ke bulan".

Sementara sebelumnya, pada bulan Maret, Kepala NASA Jim Bridenstine --yang ditunjuk oleh Trump-- mengumumkan rencana untuk mengirim astronot AS ke Bulan pada 2024 mendatang.

Mundur lagi ke beberapa sebelumnya, tepatnya pada Oktober tahun lalu, Wakil Presiden AS Mike Pence mengatakan: "Tekad kami adalah untuk melihat orang Amerika kembali ke Bulan dalam waktu dekat."

3 of 3

Diduga Terpengaruh Wawancara Televisi

Presiden Amerika Serikat ke-45 Donald Trump (AP/Nicholas Kamm)
Presiden Amerika Serikat ke-45 Donald Trump (AP/Nicholas Kamm)

Meski menuai kontroversi, namun beberapa pihak melihat sudut pandang lain dari pernyataan Trump di atas.

Ada yang beranggapan bahwa kemungkinan twit Trump tersebut adalah kritik terhadap rencana NASA yang lebih luas, untuk menguji coba perjalanan ke Mars via Bulan.

Tetapi kemudian, muncul pula dugaan bahwa komentar kontroversial itu dilontarkan Trump akibat provokasi oleh saluran televisi Fox Business.

Satu jam sebelum mengetwit pendapatnya tentang Bulan dan kritik terhadap NASA, presenter Fox Neil Cavuto menyatakan keraguannya terhadap Trump atas rencana perjalanan ke satelit alami Bumi.

Cavuto mengatakan bahwa NASA "memfokuskan kembali pada Bulan, jenis pencarian berikutnya, jika Anda mau, tetapi bukankah kita melakukan hal ini beberapa dekade lalu?"

Hingga saat ini, belum ada klarifikasi lebih lanjut dari Trump ataupun Gedung Putih terkait kontroversi di atas.

Lanjutkan Membaca ↓