NASA: Siapkan Teropong untuk Lihat Bulan Terbesar Jupiter Pekan Depan

Oleh Liputan6.com pada 07 Jun 2019, 16:30 WIB
Diperbarui 12 Jun 2019, 10:15 WIB
Europa, bulan dari Yupiter

Liputan6.com, Jakarta - Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengatakan Jupiter akan berada paling dekat dengan Bumi pada bulan ini. Planet itu akan begitu dekat sehingga para pengamat langit akan bisa melihatnya dengan mata telanjang dan dengan peralatan sederhana, bisa melihat beberapa bulan terbesarnya.

"Planet terbesar dalam sistem tata surya itu adalah permata yang cemerlang bagi mata telanjang, tetapi tampak fantastis dengan teropong atau teleskop kecil, yang akan memungkinkan kita melihat empat bulan terbesar," tulis NASA pada situs webnya seperti dikutip dari VOA Indonesia, Jumat (7/6/2019).

"Beberapa mungkin juga melihat sedikit awan yang mengelilingi planet itu," kata NASA.

Peluang terbaik adalah Senin 10 Juni, ketika Yupiter, Bumi dan Saturnus berada pada garis lurus. Ini adalah peristiwa tahunan yang disebut "oposisi." Dari 14 hingga 19 Juni, astronom amatir bisa melihat "susunan indah" Bulan, Jupiter, dan Saturnus, yang akan berubah setiap malam sementara Bulan mengorbit Bumi.

Bagi yang ingin melihat planet terbesar dalam tata surya kita itu lebih dekat, NASA menyarankan mengunjungi situs webnya dan melihat gambar yang dikirim Juno, wahana antariksa yang saat ini mengorbit Jupiter.

2 of 2

Foto Persamaan Antara Bumi dan Jupiter

Planet Yupiter
Planet Yupiter (NASA)

Sebelumnya, para ilmuwan NASA merilis foto-foto yang memperlihatkan persamaan antara Jupiter dan Bumi. Gambar-gambar menakjubkan ini ditangkap oleh pesawat ruang angkasa Juno yang mengorbit Jupiter dan dari Landsat-8 yang mengelilingi Bumi.

Persamaan kedua planet ini diperlihatkan melalui gerakan fluida yang satu pola. Jupiter memperlihatkan awan yang berputar-putar, yang merupakan komponen utama pembentuk planet itu. Sedangkan Bumi menampilkan fitoplankton yang menyebar di Laut Baltik.

"Ini semua tentang cairan yang bergerak di sekitar badan planet yang berotasi," kata Norman Kuring dari Goddard Space Flight Center NASA, sebagaimana dikutip dari Science Alert, Senin 18 Maret 2019.

Dalam siaran pers lembaga tersebut, Kuring menggambarkan pola aliran yang serupa sebagai kombinasi laminar (mengikuti jalur yang mulus) dan turbulen (tidak rata dan kacau).

"Dari semua kerumitan, mengalir keindahan. Entah itu dari Bumi atau Jupiter, seperti kopi dalam cangkir yang dituangkan krim," imbuh Kuring.

Sejak wahana antariksa Juno tiba di Jupiter, gambar-gambar menakjubkan dari atmosfer raksasa gas itu telah diperlihatkan ke publik, yang semuanya ditangkap oleh JunoCam.

Para ilmuwan cukup yakin bahwa Jupiter memiliki tiga lapisan awan yang berbeda. Interaksi antara lapisan-lapisan ini, dan rotasi planet, membantu menciptakan atmosfer planet yang mengagumkan.

Perputaran yang rumit terlihat di lapisan awan paling atas dari Jupiter. Kemungkinan ini disebabkan oleh suhu yang lebih tinggi di lapisan atmosfer terdalam Jupiter --dan oleh rotasi planet.

Sedangkan foto Bumi menampakkan Laut Baltik dekat Finlandia, di mana fitoplankton sedang 'mekar'. Ketika ada banyak nutrisi dan saat suhu di dalam laut dirasa sudah pas, organisme ini bereproduksi dengan cepat. Kadang-kadang mengubah penampilan air.

Arus laut menciptakan pola aliran yang berputar-putar dalam gambar tersebut. Foto itu ditangkap oleh Operational Land Imager yang disematkan pada Landsat-8.

Para ilmuwan sangat tertarik dengan cara arus laut memindahkan nutrisi, karbon, dan panas di sekitar lautan dan dampaknya terhadap kehidupan fitoplankton.

"Dalam menafsirkan apa yang kita lihat di tempat lain di Tata Surya dan alam semesta, kita selalu membandingkan dengan fenomena yang sudah kita ketahui di Bumi," pungkas astronom NASAini.

Lanjutkan Membaca ↓