Bentrokan Antara Demonstran dan Tentara Sudan Menewaskan 35 Warga

Oleh Siti Khotimah pada 04 Jun 2019, 12:32 WIB
Aksi protes besar-besaran di ibu kota Sudan, menuntut pemerintahan Omar al-Bashir turun dari jabatannya (AFP/Ebrahim Hamid)

Liputan6.com, Khartoum - Setidaknya 35 orang tewas di Sudan setelah pasukan keamanan menyerbu tempat protes duduk (sit-in protest) di ibu kota Khartoum, menurut para demonstran. Insiden ini disebut sebagai kekerasan terburuk sejak penggulingan Presiden Omar al-Bashir.

Sebuah komite dokter yang terkait dengan para pengunjuk rasa mengonfirmasi jumlah korban tewas melalui Facebook pada Senin. Dalam sebuah posting, disebutkan bahwa korban jiwa telah meningkat menjadi 35 termasuk satu anak.

Kelompok itu menambahkan, sulit untuk menghitung di area protes di luar kompleks militer Sudan di Khartoum, sebagaimana dikutip dari laman Al Jazeera pada Selasa (4/5/2019).

Komite yang sama melanjutkan, ratusan orang telah terluka, sebagian besar akibat tembakan.

Asosiasi Profesional Sudan (SPA), yang mempelopori protes nasional yang dimulai pada bulan Desember, mengatakan tindakan keras pada Senin merupakan "pembantaian berdarah".

"Kami menganggap Dewan Militer Transisi (TMC) bertanggung jawab atas apa yang terjadi pagi ini," kata SPA, merujuk pada dewan militer yang saat ini mengelola negara.

2 of 3

PBB Buka Suara

Sekjen PBB Antonio Guterres berbicara di hadapan DK PBB (AP)
Sekjen PBB Antonio Guterres berbicara di hadapan DK PBB (AP)

PBB telah mengutuk insiden ini, khususnya penggunaan kekuatan berlebih dari pasukan keamanan terhadap para demonstran. Lebih lanjut, PBB menyerukan penyelidikan yang independen atas pembunuhan tersebut.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa ia "terkejut" oleh laporan bahwa pasukan keamanan melepaskan tembakan yang menargetkan sebuah rumah sakit di Khartoum.

"Yang jelas bagi kami adalah bahwa ada penggunaan kekuatan berlebihan oleh pasukan keamanan terhadap warga sipil. Orang-orang telah tewas. Orang-orang terluka," kata juru bicara PBB Stephane Dujarric.

Guterres mendesak pihak berwenang Sudan untuk memfasilitasi penyelidikan independen atas kematian terseut, dan memastikan bahwa mereka yang berada di balik penyerangqan akan dimintai pertanggungjawaban. Dia juga memperbarui seruannya untuk bernegosiasi terkait transisi kekuasaan secara damai dari militer ke otoritas yang dipimpin sipil.

3 of 3

Rumah Sakit Dikepung?

Ilustrasi krisis dan revolusi Sudan (AFP PHOTO)
Ilustrasi krisis dan revolusi Sudan (AFP PHOTO)

Para saksi mata mengatakan aksi duduk sebagai ungkapan protes di luar kementerian pertahanan telah selesai. Dari cuplikan video yang dibagikan di media sosial menunjukkan adegan kacau orang yang melarikan diri melalui jalanan saat semburan tembakan terus-menerus berderak di udara.

Para pengunjuk rasa berduyun-duyun ke jalan-jalan di Khartoum dan sekitarnya.  Mereka menyiapkan barikade dan penghalang jalan dengan batu dan membakar ban.

Komite dokter mengatakan pasukan telah melepaskan tembakan di dalam Rumah Sakit East Nile kota dan mengejar "pengunjuk rasa damai".

Dikatakan bahwa rumah sakit lain di dekat lokasi protes telah dikepung, dengan para sukarelawan dicegah untuk mencapainya.

Duta Besar Inggris untuk Sudan, Irfan Siddiq, mencuit di Twitter, seolah menyayangkan serangan yang menargetkan rumah sakit.

"Mereka yang terluka dalam serangan mengerikan hari ini membutuhkan akses tanpa hambatan ke perawatan medis," katanya. "Pusat medis harus menjadi tempat yang aman."

Sementara itu, TMC membantah serangan terhadap rumah sakit, dengan juru bicara Letnan Jenderal Shams El Din Kabbashi mengatakan pasukan keamanan mengejar "unsur-unsur yang tidak bisa diatur". Ia menyebut oknum "yang tidak bisa diatur" itu adalah mereka yang telah memobilisasi diri ke lokasi protes dan menyebabkan kekacauan.

Lanjutkan Membaca ↓