Australia Tak Umumkan Kehadiran 3 Kapal Perang China di Sydney, Ada Apa?

Oleh Siti Khotimah pada 03 Jun 2019, 14:02 WIB
Diperbarui 03 Jun 2019, 15:16 WIB
(ilustrasi) Kapal perang di Laut China Selatan (Intelligence Specialist 1st Class John J Torres)

Liputan6.com, Canberra - Tiga kapal perang milik China baru saja berlabuh di Sydney Harbour, Australia pada Senin siang, 3 Juni 2019.

Langkah itu terjadi saat meningkatnya retorika Beijing terkait klaim wilayahnya di Laut China Selatan yang tengah dipersengketakan oleh banyak pihak.

Kapal yang berlabuh itu adalah jenis frigate milik angkatan laut People's Liberation Army (PLA), kapal pengisian tambahan, dan kapal amfibi. Kedatangan kapal perang itu, menurut Perdana Menteri Scott Morrison, telah direncanakan untuk beberapa waktu. Sementara menurut laporan ABC News dikutip Senin (3/6/2019), ketiga kapal akan singgah selama empat hari.

Kehadiran kapal perang itu tidak diumumkan secara terbuka oleh Pemerintah Australia, dan terjadi hanya beberapa jam setelah Menteri Pertahanan China Jenderal Wei Fenghe memberikan retorika dengan nada yang tidak kenal kompromi dalam kasus Taiwan dan Laut China Selatan. Hal itu disampaikan dalam sebuah pidatonya di Singapura.

"Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) tidak memiliki niat untuk membuat masalah dengan siapa pun tetapi tidak takut untuk menghadapi masalah," kata Jenderal itu dalam forum Dialog Shangri La.

"Jika ada yang mengambil risiko melewati garis bawah, PLA akan dengan tegas mengambil tindakan dan mengalahkan semua musuh," lanjut sang menteri pertahanan Negeri Tirai Bambu, tanpa menyebutkan secara eksplisit apakah musuh tersebut terkait dengan sengketa Laut China Selatan.

Menurut PM Morrison, kedatangan kapal China itu adalah "kunjungan balasan" karena kapal-kapal angkatan laut Australia telah mengunjungi China.

"Ini mungkin mengejutkan bagi orang lain, tetapi tentu saja itu tidak mengejutkan bagi pemerintah," katanya.

"(Kapal-kapal China) kembali dari operasi anti perdagangan narkoba di Timur Tengah dan itu adalah demonstrasi lebih lanjut dari hubungan yang kita miliki," lanjut Morrison, merujuk pada perjalanan pulang perahu itu dari Teluk Aden.

2 of 3

Bukan Seperti Biasanya?

Bendera Australia (iStockphoto via Google Images)
Bendera Australia (iStockphoto via Google Images)

Rory Medcalf, seorang pakar keamanan nasional di Australian National University, mengatakan klaim tentang kapal yang sedang dalam perjalanan pulang dari Teluk Aden membingungkan.

"Sydney bukan tempat persinggahan yang nyaman dalam perjalanan pulang ... ini seperti pertunjukan serius kehadiran (China) di Pasifik Selatan," twitnya.

"Kunjungan angkatan laut Tiongkok ke Australia biasanya merupakan fregat tunggal, bukan kelompok tugas dengan kapal serbu amfibi dan 700 personel," lanjutnya.

Pasukan Pertahanan Australia (ADF) belum menanggapi pertanyaan ABC tentang kunjungan itu. ADF pekan lalu mengatakan interaksi dengan militer China selama transit baru-baru ini di Laut Cina Selatan bersifat "profesional" dan "ramah".

3 of 3

Pilot Australia Jadi Target Serangan Laser China

Pulau Pag-asa, bagian dari gugus kepulauan Spratly di Laut China Selatan. Gugus kepulauan Spratly menjadi salah satu lokasi yang kerap dimiliterisasi oleh China (AP Photo/Rolex Dela Pena, Pool, File)
Pulau Pag-asa, bagian dari gugus kepulauan Spratly di Laut China Selatan. Gugus kepulauan Spratly menjadi salah satu lokasi yang kerap dimiliterisasi oleh China (AP Photo/Rolex Dela Pena, Pool, File)

Sementara itu, pilot angkatan laut Australia menjadi target serangan laser selama penerbangan di Laut China Selatan yang diperebutkan oleh sejumlah negara. Kabar ini menyeruak sejak diberitakan oleh stasiun penyiaran nasional Negeri Kanguru pada Rabu, 29 Mei 2019 dengan kapal-kapal milisi informal Tiongkok diyakini berada di balik serangan tersebut.

Sumber-sumber pertahanan mengatakan kepada Australia Broadcasting Corporation bahwa helikopter yang dikendarai sang pilot diserang selama penerbangan malam hari.

Serangan itu memaksanya untuk kembali ke kapal angkatan laut dan segera melakukan pemeriksaan kesehatan, demikian sebagaimana dilansir dari Channel News Asia.

Stasiun penyiaran tidak menginformasikan mengapa pilot membutuhkan pemeriksaan dan bagaimana tepatnya helikopter itu mejadi sasaran saat terbang di wilayah Laut China Selatan.

Serangan laser diyakini berasal dari kapal penangkap ikan, tetapi ABC News mengatakan belum terdapat konfirmasi secara resmi apakah itu kapal berbendera China.

Para pengamat mengatakan China mengoperasikan milisi maritim yang mencakup kapal pukat ikan untuk melakukan misi di Laut China Selatan.

Adapun kapal perang Australia dikabarkan telah menjalankan misi selama berbulan-bulan di Asia yang berakhir perkan ini, meskipun belum ada komentar dari departemen pertahanan.

Lanjutkan Membaca ↓