Pejabat Korut yang Diduga Dihukum Kerja Paksa Tampil Bersama Kim Jong-un

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 03 Jun 2019, 12:40 WIB
Diperbarui 03 Jun 2019, 13:16 WIB
Kim Yong-chol, salah seorang pejabat senior Korea Utara yang diketahui melakukan perjalanan diplomatik ke Amerika Serikat (AP Photo)

Liputan6.com, Pyongyang - Seorang pejabat tinggi Korea Utara yang dilaporkan berada di kamp kerja paksa telah muncul di sebuah konser bersama Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.

Kim Yong-chol, yang dipandang sebagai tangan kanan pemimpin Korea Utara, merupakan salah satu delegasi utama Korut dalam mempersiapkan KTT Korut - AS di Hanoi, Vietnam Februari 2019. Ia bahkan kerap bepergian ke AS untuk mempersiapkan pertemuan tingkat tinggi tersebut.

Namun, pada Jumat 31 Mei 2019 lalu, muncul laporan bahwa Kim Yong-chol telah dikirim ke kamp 'pendidikan ulang' sebagai hukuman atas kegagalannya sebagai negosiator dalam KTT Hanoi yang berakhir tanpa kesepakatan.

Tetapi pada Minggu 2 Juni 2019, media Korea Utara KCNA menunjukkan bahwa Kim Yong-chol tampil kembali pada pertunjukan musik bersama dengan pejabat lainnya, demikian seperti dilansir BBC, Senin (3/6/2019).

Ini menunjukkan bahwa sejumlah laporan --seringkali datang dari Korea Selatan-- mengenai 'pembersihan' atau eksekusi para pejabat tinggi Korea Utara yang tidak disukai sulit untuk diverifikasi dan seringkali terbukti tidak akurat. Dalam beberapa kasus, orang-orang tersebut kemudian muncul hidup-hidup dan masih bersama Kim Jong-un.

Kehadiran Kim Yong-chol bersama Kim Jong-un di konser pada Minggu 2 Juni 2019 tidak berarti secara pasti bahwa ia belum pernah dikirim ke kamp --mengingat sulitnya untuk memverifikasi kabar-kabar tersebut.

2 dari 3 halaman

Seorang Pejabat Lain Juga Dituduh Dieksekusi

Sukses Luncurkan Rudal Balistik, Kim Jong-un Beri Penghargaan kepada Ilmuwan
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menghadiri Konferensi Industri Munisi ke-8 di Pyongyang (12/12). Jong-un memberi penghargaan untuk tim ilmuwan dan pejabat yang berkontribusi untuk pengembangan peluru kendali balistik Hwasong-15. (AFP Photo/KCNA VIA KNS)

Laporan Jumat 31 Mei juga mengatakan bahwa Kim Hyok-chol, mantan utusan Korea Utara ke AS, dieksekusi di bandara di Pyongyang.

Ia merupakan tokoh penting dalam pembicaraan menjelang KTT Hanoi.

Kim Hyok-chol tidak termasuk di antara peserta yang terdaftar untuk acara hari Minggu tetapi media pemerintah belum melaporkan eksekusi atau hukuman sehingga keberadaannya tetap tidak jelas.

Sebuah contoh kekeliruan yang menonjol tentang dugaan eksekusi dari Korea Utara adalah penyanyi Hyon Song-wol yang pada tahun 2013 diduga telah ditembak dalam "hujan tembakan senapan mesin sementara anggota orkestranya menyaksikan."

Pada tahun 2018, penyanyi itu muncul di Seoul memimpin delegasi Korea Utara yang berkunjung menjelang Olimpiade Musim Dingin.

3 dari 3 halaman

Dipecat Sebagai Tangan Kanan Kim Jong-un

Utusan khusus Korea Utara, Kim Yong-chol bersama Presiden AS Donald Trump saat memegang amplop surat besar pemberian Chairman Kim Jong-un di Gedung Putih (1/6) (Dan Scavino / White House via Twitter / @Scavino45)
Utusan khusus Korea Utara, Kim Yong-chol bersama Presiden AS Donald Trump saat memegang amplop surat besar pemberian Chairman Kim Jong-un di Gedung Putih (1/6) (Dan Scavino / White House via Twitter / @Scavino45)

Sementara itu, beberapa pihak beranggapan bahwa Kim Yong-chol kini telah digeser ke posisi lain yang kurang strategis dari peranannya beberapa waktu terakhir.

Tidak tampaknya batang hidung Kim Yong-chol --tangan kanan Pemimpin Korea Utara dan ujung tombak diplomatik negara itu-- dalam pertemuan tingkat tinggi Kim Jong-un dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada 25 April 2019 adalah salah satu contoh.

Satu analis menilai, terdepaknya pria berusia 74 tahun itu dari jabatannya merupakan implikasi atas kegagalan Korea Utara dan AS untuk mencapai kata sepakat dalam sejumlah hal seputar denuklirisasi pada KTT di Hanoi Februari.

Seorang purnawirawan jenderal, Kim Yong-chol dikabarkan telah digeser dari jabatannya sebagai direktur United Front Department (UFD) Komite Pusat Partai Pekerja Korea Utara.

Kementerian Unifikasi Korea Selatan (MOU) menggambarkan UFD sebagai "departemen inti mengarahkan keseluruhan proyek dengan Korea Selatan termasuk pembicaraan antar-Korea, kerja sama ekonomi, pertukaran sipil, dan pengumpulan dan analisis data."

Hal itu dikabarkan oleh seorang anggota parlemen dari Komite Intelijen Majelis Nasional Korea Selatan pada Rabu 24 April 2019.

Berita itu, jika terkonfirmasi, akan melihat Kim Yong-chol mengundurkan diri dari posisi strategis tersebut kurang dari tiga tahun setelah menjabat pada Mei 2016.

Pengganti Kim Yong-chol diduga kuat bernama Jang Kum-chol --seorang pejabat tinggi dan politikus karier dari internal Partai Pekerja Korea (WPK), menurut laporan media pemantau Korea Utara, NKNews.org.

Lanjutkan Membaca ↓