FAA: Boeing 737 MAX Mungkin Memiliki Komponen Cacat

Oleh Siti Khotimah pada 03 Jun 2019, 12:04 WIB
Diperbarui 04 Jun 2019, 17:14 WIB
Ilustrasi pesawat Boeing 737 MAX (AFP Photo)

Liputan6.com, Washington DC - Sejumlah pesawat Boeing 737 MAX dan Next Generation (NG) dimungkinkan memiliki komponen yang cacat atau tidak diproduksi dengan benar, kata Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA). Komponen tersebut akan membutuhkan penggantian, kata FAA pada Minggu 2 Juni 2019.

FAA melanjutkan, terdapat 148 bilah "leading edge slat" (permukaan aerodinamis di ujung depan sayap pesawat) buatan pemasok Boeing yang terpengaruh, mencakup 133 pesawat tipe Next Generation (NG) dan 179 jenis MAX di seluruh dunia. Menurut otoritas, kegagalan produksi komponen itu akan menyebabkan kerusakan pesawat dalam penerbangan.

Bilah adalah panel yang dapat bergerak yang memanjang di bagian depan sayap pesawar selama tinggal landas dan mendarat.

Menurut FAA, Boeing telah mengidentifikasi kelompok pesawat dengan seri 737 NG dan 737 MAX yang dicurigai telah terpasang komponen yang tidak diproduksi dengan benar. Mengutip The Straits Times pada Senin (3/6/2019) di antaranya termasuk 32 pesawat tipe NG dan 33 Boeing 737 MAX di Amerika Serikat.

Bagian-bagian yang terpengaruh "mungkin rentan terhadap kegagalan prematur atau retak akibat proses pembuatan yang tidak tepat," kata FAA.

FAA akan mengeluarkan Arahan Kelayakan Udara (Airworthiness Directive) yang meminta Boeing untuk mengidentifikasi dan menghilangkan komponen-komponen yang bermasalah itu. Operator perusahaan pesawat itu akan diminta melakukan tindakan ini dalam 10 hari.

Boeing 737 MAX saat ini berstatus tengah ditangguhkan untuk terbang, sejak Maret 2019 lalu. Langkah itu diambil sebagai respons atas kecelakaan fatal Ethiopian Airlines ET302 dan Lion Air JT610, yang keduanya menewaskan 346 orang.

2 dari 3 halaman

Boeing Akui Kecacatan pada Software 737 MAX

Boeing 737 MAX
Polish Airlines dengan jenis pesawat Boeing 737 MAX varian 8 berjalan di landasan Bandara Internasional Borispol. (iStockphoto)

Sementara itu, Boeing telah mengakui kecacatan pada piranti lunak simulator penerbangan untuk melatih pilot 737 MAX. Perusahaan kedirgantaraan yang bermarkas di AS itu mengatakan, simulator mengalami masalah karena tidak mampu mereplikasi kondisi penerbangan tertentu yang berkontribusi pada kecelakaan Ethiopian Airlines pada Maret, atau kecelakaan Lion Air di Indonesia Oktober lalu.

"Boeing telah melakukan koreksi pada perangkat lunak simulator 737 MAX dan telah memberikan informasi tambahan kepada operator perangkat untuk memastikan bahwa pengalaman simulator itu representatif di berbagai kondisi penerbangan," kata Boeing dalam sebuah pernyataan pada Sabtu 18 Mei 2019, seperti dilansir dari Al Jazeera.

Perusahaan tidak menunjukkan kapan pertama kali menyadari masalah tersebut, dan apakah mereka telah menotifikasi lembaga regulator penerbangan.

Pengakuan itu menandai pertama kalinya Boeing mengakui ada cacat desain pada perangkat lunak yang terkait dengan 737 MAX.

Perangkat lunak lain, yang berkaitan dengan mekanisme anti-stall atau MCAS, telah disebut sebagai salah satu faktor pada kecelakaan Ethiopian dan Lion Air --menurut laporan awal dari lembaga penyidik keselamatan penerbangan di Ethiopia dan Indonesia. Namun, Boeing tidak secara terbuka mengakui alat itu sebagai penyebab tunggal kecelakaan.

3 dari 3 halaman

Piranti Anti-Stall Telah Diperbaiki?

Ilustrasi pesawat Boeing 737 Max 8 (AFP/Stephen Brashear)
Ilustrasi pesawat Boeing 737 Max 8 (AFP/Stephen Brashear)

Adapun Boeing mengklaim pada Kamis, 16 Mei 2019 bahwa pihaknya telah menyelesaikan pembaruan perangkat lunak pada pesawat 737 MAX.

Klaim perbaikan pada sistem anti-stall Boeing 737 MAX, yang dianggap sebagai faktor penyebab jatuhnya Lion Air JT 610 dan Ethiopian Airlines ET 302, kini harus memenangkan persetujuan dari regulator AS dan internasional.

"Dengan keamanan sebagai prioritas utama, kami telah menyelesaikan semua uji rekayasa terbang terkait pembaruan perangkat lunak, dan kini sedang mempersiapkan sertifikasi penerbangan akhir," kata Kepala Eksekutif Boeing Dennis Muilenburg.

"Seluruh kecelkaan tersebut memacu kami untuk meningkatkan komitmen pada nilai-nilai utama kami, termasuk keselamatan, kualitas, dan integritas, karena kami tahu kehidupan (dalam perjalanan udara) bergantung pada apa yang kami lakukan," lanjut Muilenburg.

Lanjutkan Membaca ↓