Filipina Kembalikan 69 Kontainer Sampah ke Kanada

Oleh Siti Khotimah pada 31 Mei 2019, 13:58 WIB
Diperbarui 31 Mei 2019, 13:58 WIB
Wow, Kapal Besar Ini Bawa Ekspor Manufaktur Indonesia ke AS
Perbesar
Ilustrasi kontainer. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Manila - Filipina telah mengirimkan kembali berton-ton sampah ke Kanada pada Jumat, 31 Mei 2019 setelah pertikaian diplomatik, karena Manila dan negara-negara Asia Tenggara lain menolak menjadi tempat pembuangan sampah internasional.

Langkah itu dilakukan setelah kampanye panjang yang mendesak Kanada agar mengambil kembali limbah miliknya yang membusuk. Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengecam di Ottawa pekan lalu, mendesak sampah itu segera dikembalikan, sebagaimana dilansir dari Channel News Asia pada Jumat (31/5/2019).

Sampah-sampah itu dikirim kembali dengan 69 kontainer, dimuat dalam kapal kargo di Subic Bay, bekas pangkalan angkatan laut AS dan pelabuhan pengiriman di barat laut Manila. Ke-69 kontainer itu kini memulai perjalanan panjang menuju Kanada.

Dalam sebuah twit, Menteri Luar Negeri Filipina Teodoro Locsin tampak bersyukur dengan kepergian sampah berjumlah ekstrem tersebut.

"Baaaaaaaaa bye, seperti yang kita katakan," cuit Locsin yang turut menyertakan gambar kapal yang pergi.

Saat ditemui wartawan pada hari Kamis, Menteri Lingkungan Hidup Kanada Catherine McKenna menyambut baik berita tentang sampah yang dikembalikan tersebut.

"Kami berkomitmen dengan Filipina dan kami bekerja sama dengan mereka," katanya.

Tidak hanya Filipina, Malaysia dan Indonesia telah sejak lama menjadi taget pembuangan sampah internasional.

Beberapa hari lalu, Malaysia mengumumkan akan mengirim 450 ton limbah plastik impor ke asalnya, termasuk Australia, Bangladesh, Kanada, China, Jepang, Arab Saudi, dan Amerika Serikat.

Sesuai Rencana

Rodrigo Duterte
Perbesar
Presiden Filipina Rodrigo Duterte memberi tahu puluhan polisi yang berada di hadapannya bahwa mereka akan diawasi. (Ted Aljibe/AFP)

Langkah pengiriman 69 kontainer berisi sampah itu sejalan dengan rencana Duterte pada beberapa waktu lalu, yang ingin menyewa perusahaan pelayaran swasta guna mengirim 69 kontainer sampah ke Kanada.

"Filipina sebagai negara berdaulat yang merdeka, tidak boleh diperlakukan sebagai sampah oleh negara asing lainnya," kata juru bicara kepresidenan Salvador Panelo pada Kamis, 17 Mei 2019 lalu.

Merespons hal tersebut, Kanada mengatakan limbah yang diekspor ke Filipina antara 2013 dan 2014, adalah transaksi komersial yang dilakukan tanpa persetujuan pemerintah.

Sebagai peringatan, pemerintah Filipina pun sempat menarik seluruh diplomat top negara itu dari Kanada pada pekan lalu.

"Jelas, Kanada tidak menganggap serius masalah ini atau negara kami. Rakyat Filipina sangat terhina tentang Kanada yang memperlakukan negara ini sebagai tempat pembuangan sampah," kata Panelo.

Hubungan Bilateral Memburuk Sejak 2013

Presiden Filipina Rodrigo Duterte (AP/Bullit Marquezz)
Perbesar
Presiden Filipina Rodrigo Duterte (AP/Bullit Marquezz)

Hubungan diplomatik kedua negara telah memburuk sejak sebuah perusahaan Kanada mengirim sekitar 100 kontainer, termasuk sampah busuk yang salah diberi label sebagai barang daur ulang, ke pelabuhan Filipina pada tahun 2013 dan 2014.

Kanada sejak itu mengatakan sedang berupaya mengatur pengembalian kontainer, tetapi belum memberikan jangka waktu.

Masalah ekspor sampah itu kian memanas tatkala Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mempertanyakan tindakan keras Duterte dalam perang melawan narkoba di Filipina.

Selama ini, Duterte diketahui selalu melawan dengan keras semua kritik internasional terhadap kebijakan kontroversialnya tersebut, yang telah membuat polisi Filipina membunuh ribuan orang yang diduga sebagai pecandu dan pengedar narkoba sejak 2016.

Lanjutkan Membaca ↓