Isu Iran Berpeluang Mencairkan Krisis Diplomatik Qatar dan Arab Saudi?

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 29 Mei 2019, 13:53 WIB
Sejumlah negara yang dipimpin oleh Arab Saudi mengambil langkah terkoordinasi, memutuskan hubungan dengan Qatar

Liputan6.com, Doha - Pertemuan tingkat tinggi darurat Dewan Kerjasama Negara Teluk (GCC) pada 30 Mei 2019 mendatang menjadi ajang multilateral yang mengejutkan, setelah Arab Saudi mengundang Qatar di tengah krisis diplomatik kedua negara sejak 2017.

Mengambil tajuk mengenai isu Iran, anggota GCC, termasuk Qatar, akan bertemu di Jeddah demi membahas tudingan negara-negara teluk atas dugaan agresivitas Teheran di Timur Tengah, demikian seperti dikutip dari The Guardian, Rabu (29/5/2019).

Sebuah pesawat Qatar yang membawa salah satu diplomatnya telah diizinkan mendarat di kota pelabuhan Laut Merah untuk pertama kalinya dalam dua tahun pada Senin 27 Mei, guna mempersiapkan kehadiran delegasi Doha, yang dipimpin langsung oleh sang Emir, Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani.

Pertemuan darurat GCC diselenggarakan setelah berbagai insiden dugaan sabotase yang menargetkan distribusi dan instalasi minyak negara Teluk selama bulan Mei 2019. Arab Saudi menuduh Iran sebagai dalang.

Sedangkan, Iran telah membantah memiliki campur tangan atau memerintahkan proksi-nya terlibat pada insiden tersebut.

Eskalasi tensi antara negara-negara Teluk dengan Iran juga dihiasi oleh pengaruh AS yang mendukung sekutu Arab-nya. Washington telah meningkatkan sanksi dan kehadiran militernya di dekat Iran menyusul penarikan diri AS dari Kesepakatan Nuklir Iran (JCPOA 2015) serta insiden sabotase instalasi minyak di Teluk.

Pertemuan darurat GCC juga terjadi setelah eskalasi serangan udara dalam Perang Yaman --yang disebut-sebut sebagai lahan konflik proksi Saudi dan Iran-- baru-baru ini.

2 of 4

Memicu Melunaknya Hubungan Saudi - Qatar?

Ilustrasi bendera Arab Saudi (AFP Photo)
Ilustrasi bendera Arab Saudi (AFP Photo)

Kehadiran Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani atas undangan langsung Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud pada pertemuan darurat GCC soal isu Iran akan dilihat sebagai upaya pemulihan hubungan antara kedua negara, sejak Riyadh meluncurkan blokade serta pemutusan hubungan ekonomi dan diplomatik terhadap Doha pada 2017.

Kala itu, Riyadh menuduh Doha berusaha melemahkan Arab Saudi, mendanai terorisme dan mendukung Ikhwanul Muslimin yang dicekal oleh Saudi di seluruh Timur Tengah.

Qatar telah berulang kali menolak tuduhan yang dianggapnya sebagai tidak mendasar. Kemudian, sebagai balasan atas pemutusan hubungan Saudi, Doha menyatakan sikap akan membuka hubungan diplomatik penuh dengan Iran --seteru regional Negeri Petrodollar.

Ditambah lagi, Qatar sejauh ini masih mempertahankan dukungan untuk Kesepakatan Nuklir Iran (JCPOA 2015) yang telah ditinggalkan AS.

Meski bukan penandatangan JCPOA, negara anggota GCC lain dan sekutu dekat AS di Arab, seperti Saudi, Bahrain dan Uni Emirat, menyetujui langkah mundur Washington dari pakta multilateral tersebut.

Meskipun bertekad untuk mengikuti kebijakan luar negeri yang independen, namun, Qatar tidak akan berusaha untuk mengasingkan Donald Trump dengan menolak tekanan Washington untuk mengurangi agresi Iran di wilayah tersebut. Karena, Qatar masih memiliki kepentingan ekonomi dalam memastikan instalasi gas dan minyak tidak menjadi sasaran serangan oleh pasukan proksi Iran.

Negara mungil itu juga bertindak sebagai tuan rumah bagi pangkalan militer terbesar AS di Teluk Arab.

Qatar kemungkinan akan mendesak kehati-hatian dari semua pihak, serta secara pribadi meminta Teheran untuk tidak mensponsori proksi-nya untuk menyerang aset minyak Saudi. Pasukan pemberontak Houthi di Yaman, yang semakin mampu melakukan serangan drone, memiliki kemampuan untuk beroperasi secara independen dari Iran

Wakil menteri luar negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, telah berusaha untuk melawan diplomasi Saudi dengan mengadakan pertemuan bilateral di wilayah tersebut, termasuk di Qatar, Kuwait dan Oman.

3 of 4

Prakarsa AS di Balik Upaya Pencairan Hubunan Qatar - Saudi?

Presiden Amerika Serikat ke-45 Donald Trump (AP/Nicholas Kamm)
Presiden Amerika Serikat ke-45 Donald Trump (AP/Nicholas Kamm)

AS telah memberikan tekanan pribadi pada Arab Saudi dan Qatar untuk mengubur perbedaan mereka menjelang publikasi segera rencana perdamaian Timur Tengah oleh menantu sekaligus penasihat Trump, Jared Kushner.

"Kesepakatan abad ini", yang akan dibahas pada lokakarya ekonomi untuk para menteri keuangan Teluk di Manama, Bahrain, pada Juni, berpusat pada sebuah rencana untuk membantu wilayah Palestina secara ekonomi.

Kushner mengadakan tur di kawasan itu untuk mempromosikan rencana itu dan mencoba mengamankan dukungan politik. Dia juga akan bergabung dengan Trump pada kunjungan kenegaraan ke Inggris pada awal Juni.

Qatar telah menjadi salah satu penyandang dana kemanusiaan terbesar di Gaza, dan dukungan Doha untuk setiap rencana rekonstruksi ekonomi sangat dihargai oleh Washington.

"Tetapi, setiap saran untuk mencairkan hubungan Saudi-Qatar menjadi pemulihan hubungan penuh tampaknya tidak mungkin," tulis editor diplomatik The Guardian, Parick Wintour.

Menandai dua tahun pemutusan hubungan diplomatik dengan Saudi, menteri luar negeri Qatar mengenang "penikaman orang Qatar dalam kejahatan pembajakan, pemalsuan, dan kebohongan yang direncanakan sebelumnya di mana pemohon membenarkan blokade yang tidak adil terhadap sebuah negara dan rakyatnya".

4 of 4

Ketegangan di Teluk Persia

Bendera Iran (Atta Kenare / AFP PHOTO)
Bendera Iran (Atta Kenare / AFP PHOTO)

Pada Minggu 26 Mei 2019, Arab Saudi menembak jatuh sebuah drone bermuatan bom yang dikerahkan oleh Houthi untuk menyerang bandara di kerajaan itu.

Angkatan udara Saudi mencegat dan menghancurkan pesawat tak berawak yang menargetkan bandara Jizan, dekat dengan perbatasan selatan dengan Yaman, koalisi pimpinan Arab Saudi yang bertempur melawan pemberontak mengatakan.

Seorang pemimpin Houthi mengatakan pada hari Minggu bahwa kelompok itu melanjutkan serangan drone jauh di dalam Arab Saudi bulan ini sebagai tanggapan atas apa yang ia sebut sebagai koalisi yang menolak "inisiatif perdamaian" oleh pemberontak.

Ketegangan di Teluk telah meningkat sejak keputusan AS pada awal Mei untuk mengirim pasukan pemogokan kapal induk dan pembom B-52 dalam unjuk kekuatan terhadap apa yang dikatakan para pemimpin Washington adalah rencana Iran untuk menyerang aset AS.

Tidak ada bukti yang diberikan pada rencana tersebut.

Washington DC mengatakan, bala bantuan terbaru adalah sebagai tanggapan atas "kampanye" serangan baru-baru ini termasuk roket yang diluncurkan ke Zona Hijau di Baghdad, alat peledak yang merusak empat kapal tanker di dekat pintu masuk ke Teluk, dan serangan pesawat tak berawak oleh pemberontak Yaman terhadap Pipa minyak Saudi.

Lanjutkan Membaca ↓