Dampak Kerusuhan Penjara Brasil Kian Memburuk, 55 Orang Tewas

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 28 Mei 2019, 14:14 WIB
Diperbarui 28 Mei 2019, 14:14 WIB
Ilustrasi pengamanan penjara (AFP/Justin Tallis)
Perbesar
Ilustrasi pengamanan penjara (AFP/Justin Tallis)

Liputan6.com, Manaus - Lebih dari 55 narapidana ditemukan tewas dalam dua hari terakhir di penjara terpisah di Brasil utara, kata pihak berwenang setempat, Senin 27 Mei 2019.

Mayoritas korban ditemukan tewas di Institut Penal Antonio Trindade dekat Manaus, ibu kota negara bagian Amazonas, di mana fasilitas tersebut berada.

Dikutip dari Al Jazeera pada Selasa (28/5/2019), otoritas penjara negara bagian Amazonas mengatakan para tahanan yang ditemukan tewas pada hari Senin, semuanya menunjukkan tanda-tanda asfiksia, atau mati lemas karena kekurangan oksigen.

Sebagai tanggapan, pemerintah federal Brasil mengatakan telah mengirim bala bantuan untuk meningkatkan keamanan di penjara-penjara negara bagian, guna mengindari risiko meluasnya kerusuhan.

Bentrokan penjara sering menyebar dengan cepat di Brasil, di mana geng-geng narkoba secara de facto menguasai hampir semua penjara, kata otoritas terkait.

Pada Januari 2017, hampir 150 tahanan tewas setelah tiga minggu kekerasan di Brasil utara dan timur laut, ketika gerombolan setempat didukung oleh dua faksi narkoba terbesar setempat --Komando Ibu Kota Pertama dan Komando Merah-- saling membantai satu sama lain.

Hingga saat ini, sebagian besar penjara dikelola oleh otoritas tingkat negara bagian.

Presiden sayap kanan Brasil Jair Bolsonaro telah berjanji untuk mendapatkan kembali kendali penuh atas seluruh penjara di negara itu, bersama dengan membangun lebih banyak lapas untuk mengurangi padatnya jumlah tahanan.

 

 

2 dari 3 halaman

Dipicu Perkelahian Antar Tahanan

Polisi berusaha menenangkan warga sipil yang khawatir tentang kerusuhan di sebuah penjara Brasil, Minggu 26 Mei 2019 (AP/Edmar Barros)
Perbesar
Polisi berusaha menenangkan warga sipil yang khawatir tentang kerusuhan di sebuah penjara Brasil, Minggu 26 Mei 2019 (AP/Edmar Barros)https://www.liputan6.com/dashboard/articles/create?type=TextTypeArticle#

Bentrokan meluas pada Senin 27 Mei, sehari setelah 15 narapidana tewas dalam kerusuhan di Kompleks Penjara Anisio Jobim Manaus, kata pihak berwenang.

Kerusuhan itu pecah sekitar pukul 11.00 waktu setempat, selama jam kunjungan keluarga pada penjara yang terletak sekitar 28 kilometer dari pusat kota Manaus.

"Itu adalah perkelahian antara para tahanan. Tidak pernah ada kematian dalam agenda kunjungan keluarga selama ini," kata Kolonel Marcos Vinicius Almeida dalam sebuah konferensi pers pada hari Minggu.

Investigasi telah dibuka untuk menentukan penyebab perkelahian, kata Almeida.

Dia juga menekankan bahwa pihak berwenang telah bereaksi dalam beberapa menit terhadap kekerasan hari Minggu, mencegah dampak yang lebih buruk

Pada Januari 2017, fasilitas yang sama adalah tempat pemberontakan penjara yang berlangsung hampir 20 jam dan menewaskan 56 orang.

3 dari 3 halaman

Kapasitan Penjara Tidak Sepadan dengan Jumlah Tahanan

Rusuh di Penjara Guyana, 16 Napi Tewas
Perbesar
Ilustrasi penjara Guyana (AFP)

Sebelumnya, pada hari Senin, otoritas pemasyarakatan negara bagian Amazonas sempat menyatakan 42 tahanan dalam kondisi sekarat akibat kerusuhan.

Meski pemerintah telah berhasil mengambil kendali atas seluruh penjara yang terlibat rusuh itu, namun jatuhnya korban jiwa tidak dapat dibendung karena lambatnya penanganan medis.

Tidak ada rincian lain yang disampaikan oleh otoritas setempat, kecuali bahwa total korban tewas sejak kerusuhan bermula pada hari Minggu, adalah sebanyak 55 orang.

Brasil memiliki populasi penjara terbesar ketiga di dunia, dengan 726.712 narapidana pada Juni 2016, menurut statistik resmi.

Populasi itu diketahui berjumlah dua kali lipat dari kapasitas penjara di seluruh Brasil, yang diperkirakan hanya bisa menampung 368.049 orang.

Lanjutkan Membaca ↓