Terbukti Bunuh 10 Orang Rohingya, Tentara Myanmar Justru Dapat Remisi Besar

Oleh Siti Khotimah pada 27 Mei 2019, 12:49 WIB
Diperbarui 27 Mei 2019, 12:49 WIB
Militer Myanmar ditugaskan di negara bagian Rakhine untuk menumpas pemberontak Tentara Arakan (AFP)

Liputan6.com, Naypyidaw - Tujuh tentara Myanmar yang dipenjara karena membunuh 10 pria dan anak laki-laki muslim Rohingya pada 2017, telah dibebaskan. Mereka diberikan remisi atau pengurangan hukuman. Informasi ini didapatkan dari dua pejabat di penjara, dua mantan narapidana, dan salah seorang tentara.

Mengutip Channel News Asia pada Senin (27/5/2019), para prajurit itu telah dibebaskan pada November tahun lalu, menurut dua mantan narapidana.

Dengan demikian, mereka hanya dibui kurang dari satu tahun, jauh dari hukuman yang diberikan pengadilan yakni 10 tahun masa tahanan dalam kasus pembunuhan di Desa Inn Din, yang didiami oleh Rohingya saat itu.

Masa tahanan mereka juga dikabarkan lebih sedikit dari jurnalis Reuters yang mengungkap pembunuhan muslim Rohingya oleh tentara. Sang reporter, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo, menjalani 16 bulan penjara dalam dakwaan mencari dan mengungkap rahasia negara. Keduanya diberikan amnesti dan bebas pada 6 Mei lalu.

Win Naing, kepala sipir di Penjara Sittwe Rakhine dan seorang pejabat senior penjara di ibu kota, Naypyitaw, membenarkan bahwa para tentara sudah tidak berada di penjara selama beberapa bulan terakhir.

"Hukuman mereka dikurangi oleh militer," kata pejabat senior Naypyidaw, yang menolak disebutkan namanya.

Kedua pejabat penjara menolak untuk memberikan rincian lebih lanjut dan mengatakan mereka tidak tahu tanggal pasti pembebasan itu, yang tidak diumumkan secara publik.

2 dari 3 halaman

Satu-Satunya Kasus yang Ditindak

Akhiri Masa Diam, Aung San Suu Kyi Angkat Bicara Soal Krisis Rohingya
Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi menyampaikan pidato nasional terkait Rohingya di Naypyidaw (19/9). Dalam pidatonya, ia menjelaskan bahwa Pemerintah Myanmar tidak lari dari tanggung jawab. (AFP Photo/Ye Aung Thu)

Dibuinya ketujuh tentara tersebut adalah satu-satunya kasus pemenjaraan personel militer terkait dengan kasus di Rakhine --yang disebut PBB dilakukan dengan "niat genosida" dan termasuk pembunuhan massal, pemerkosaan, dan pembakaran.

Myanmar membantah melakukan kesalahan tersebut, kemudian para pejabat memutuskan untuk memenjarakan tujuh tentara dalam kasus Inn Din sebagai "bukti bahwa pasukan keamanan Myanmar tidak menikmati impunitas."

"Saya akan mengatakan bahwa kami mengambil tindakan terhadap setiap kasus yang dapat kami selidiki," kata komandan militer, Jenderal Senior Min Aung Hlaing kepada para pejabat Dewan Keamanan PBB pada April tahun lalu.

Panglima militer kemudian sempat mengatakan, "Kejahatan terbaru yang kami hukum adalah pembunuhan, dan hukuman penjara sepuluh tahun diberikan kepada tujuh pelaku," katanya.

"Kami tidak akan memaafkan siapa pun jika mereka melakukan kejahatan," lanjutnya.

Saat dihubungi melalui telepon oleh Reuters pada hari Kamis pekan lalu, seorang pria bernama Zin Paing Soe mengkonfirmasi bahwa ia adalah salah satu dari tujuh prajurit dan bahwa dirinya sekarang bebas. Ia menolak berkomentar lebih lanjut.

"Kami disuruh diam," katanya.

3 dari 3 halaman

6 Tentara Juga Disebut Tembak Mati Rohingya

Pengungsi Rohingya
Muslim Rohingya saat melakukan pelayaran maut untuk mengungsi dari Rakhine. (AFP)

Sementara itu pada awal Mei lalu, pasukan keamanan Myanmar telah menembak mati setidaknya enam orang di Negara Bagian Rakhine sebelah barat pada Kamis, 2 Mei 2019. Insiden itu terjadi setelah menahan ratusan orang di sebuah sekolah.

Menurut sumber militer, enam orang yang ditembak mati adalah bagian dari 275 orang yang ditahan. Mereka didapat dari operasi pencarian anggota kelompok pemberontak bernama Arakan Army.

Meski demikian, terdapat simpang siur informasi terkait korban penembakan, dengan anggota parlemen Myanmar Khim Maung Lat, menyebut mereka adalah warga desa.

"Para warga desa ditembak mati dengan delapan lainnya terluka parah," kata Khim tanpa merinci jumlah korban meninggal, mengutip laporan Al Jazeera.

Sementara itu, menurut juru bicara militer Myanmar Brigadir Jenderal Zaw Min Tun, enam tahanan yang ditembak itu berusaha merampas senjata pada Kamis pagi. Hal itu menyebabkan aparat melepaskan tembakan.

"Kami telah memperingatkan mereka secara verbal. Kemudian kami melepas tembakan peringatan ke udara untuk membubarkan kelompok itu namun mereka tidak bergerak. Karenanya tembakan dilepaskan (ke arah mereka)," katanya.

Terdapat kemungkinan kasus penembakan itu bukan hanya terjadi di satu desa. Khim mengatakan, empat warga sipil juga dibunuh selama proses interogasi yang berlangsung di desa yang lain.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait