Bersiap Jadi Pasar Penerbangan Terbesar di Dunia, China Bangun Ratusan Bandara

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 26 Mei 2019, 17:02 WIB
Ilustrasi pesawat (iStock)

Liputan6.com, Beijing - Dalam waktu hampir satu dekade, China telah berubah dari negara dengan sedikit orang yang pernah melakukan perjalanan udara, menjadi lokasi di mana industri penerbangan tumbuh paling pesat di dunia.

Jutaan warganya terbang tidak hanya melintasi wilayah luas mereka sendiri, tetapi juga ke berbagai destinasi di seluruh dunia, demikian sebagaimana dikutip dari CNN Travel pada Minggu (26/5/2019).

Meski China telah diproyeksikan akan menyalip Amerika Serikat sebagai pasar perjalanan udara terbesar di dunia dalam tiga tahun ke depan, obsesi negara itu pada industri penerbangan terus tumbuh secara eksponensial.

Bahkan, pemerintah China telah memulai program pembangunan bandara dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya di mana pun.

Miliaran dolar digelontorkan untuk membangun ratusan landasan pacu dan bangunan terminal yang akan menghubungkan seluruh wilayah China dengan per perjalan udara global.

Saat ini, China memiliki sekitar 235 bandara, namun masih terus membangun infrastruktur terkait untuk menghadapi potensi peningkatan jumlah penumpang dan penerbangan di masa depan.

Pemerintah China memperkirakan sekitar 450 bandara akan beroperasi secara terintegrasi di seluruh negeri pada 2035 mendatang.

Pada tahun yang sama, para analis penerbangan memperkirakan China akan menangani seperempat dari semua penumpang udara dunia.

 

2 of 3

Ekspansi Besar-Besaran Juga DIlakukan di Beijing

Melihat Megahnya Bandara Baru Beijing Senilai Triliunan Rupiah
Sebuah bendera nasional Tiongkok digantung di terminal Bandara Internasional Beijing Daxing yang sedang dibangun di pinggiran Beijing, China (1/3). Bandara baru di ibu Kota China ini akan menjadi salah satu yang terbesar di dunia. (AP Photo/Ng Han Guan)

Sementara banyak dari ekspansi ini terjadi di berbagai kota dan distrik yang mungkin belum pernah didengar oleh banyak orang di luar China atau Asia, pengembangan besar-besaran juga terlihat di Beijing.

Pembangunan Bandara Internasional Daxing yang bernilai miliaran dolar baru saja memasuki tahap akhir, dengan putaran pertama uji terbang berlangsung pada 14 Mei lalu.

Saat kita bergerak menuju dekade ketiga pada Abad ke-21, bandara superhub bukanlah hal baru. Tetapi, bandara terkini Beijing yang luas, di mana dirancang oleh mendiang arsitek Zaha Hadid dan mitra-mitranya dari China, - nyaris memukau dalam setiap ambisinya.

Bandara yang rencananya akan resmi beroperasi pada September 2019 itu, akan menampilkan empat landasan pacu dan terminal berukuran 97 lapangan sepak bola.

Beijing telah lama membutuhkan gerbang global kedua. Menangani lebih dari 100 juta penumpang pada tahun 2018, Beijing Capital saat ini menjadi bandara tersibuk kedua di dunia, setelah Bandara Internasional Hartsfield-Jackson Atlanta, dan telah mencapai kapasitas puncaknya.

Ketika Bandara Daxing siap dibuka nanti, Beijing Capital tidak akan ditutup. Alih-alih itu akan terus menangani maskapai seperti Air China dan Hainan Airlines, di mana memberikan tambahan kapasitas peummpang yang seakan tidak ada surutnya.

3 of 3

Kekhawatiran Gagal Memenuhi Harapan Modern

Melihat Megahnya Bandara Baru Beijing Senilai Triliunan Rupiah
Seorang wanita berbicara di teleponnya di terminal Bandara Internasional Daxing Beijing di pinggiran Beijing, China (1/3). Pembangunan terminal bandara ini menghabiskan dana hingga 12 miliar dollar AS atau sekitar Rp 175 triliun. (AP Photo/Ng Han Guan)

 Menurut Otoritas Penerbangan Sipil China (CAAC), pada tahun 2018, bandara di seluruh Negeri Tirai Bambu menangani 1.264 miliar penumpang, naik 10,2 persen dari 2017.

Selain itu, sebanyak 37 bandara di China diketahui telah menangani lebih dari 10 juta penumpang dalam setahun.

Saat ini, rata-rata delapan bandara baru dibuka di China setiap tahunnya, sementara beberapa fasilitas sedang diperluas dan ditingkatkan.

Tetapi, ada kekhawatiran di China bahwa bandara yang sudah dibuka gagal memenuhi harapan modern.

"Layanan telah meningkat secara substansial, tetapi bandara yang ada jauh dari memadai dan didistribusikan tidak merata di seluruh negeri," kata Dong Faxin, direktur departemen pengembangan dan perencanaan CAAC, dalam sebuah laporan akhir tahun lalu, yang menguraikan ambisi pembangunan bandara China.

Sejumlah besar fasilitas penervbangan yang akan dibuka berlokasi di wilayah Delta Sungai Yangtze, wilayah Beijing-Tianjin-Hebei dan Wilayah Teluk Greater Guangdong-Hong Kong-Makau, serta kelompok kota Chongqing dan kota Chengdu.

Berbagai wilayah di atas dikenal memiliki populasi tertinggi di China, namun hanya bergantung pada beberapa bandara hub untuk menangani semua lalu lintas penumpangnya.

Dalam beberapa tahun mendatang, masing-masing wilayah akan memiliki bandara kelas dunia baru untuk melayani jumlah perjalana udara yang terus bertambah

Lanjutkan Membaca ↓