Lembaga HAM: Perempuan Korea Utara Dipaksa Jadi Budak Seks di China

Oleh Afra Augesti pada 21 Mei 2019, 12:01 WIB
Diperbarui 21 Mei 2019, 12:01 WIB
Bendera Korea Utara (AFP PHOTO)
Perbesar
Bendera Korea Utara (AFP PHOTO)

Liputan6.com, Beijing - Ribuan perempuan dan gadis asal Korea Utara dipaksa bekerja di tempat prostitusi di China, menurut laporan baru yang dirilis oleh kelompok hak asasi manusia yang bermarkas di London, Korea Future Initiative.

Berdasarkan data mereka, para perempuan itu dijebak untuk kemudian diculik dan dijual sebagai pelacur, atau dipaksa menikah dengan pria Tiongkok. Nilai perdagangan manusia ini bahkan mencapai US$ 100 juta dalam setahun.

"Para korban dilacurkan hanya dengan 30 yuan China (US$ 4,30), dijual sebagai istri hanya dengan 1.000 yuan, dan diperdagangkan ke sarang seks siber untuk dieksploitasi oleh lelaki hidung belang atau germo global," kata penulis laporan itu, Yoon Hee-soon, yang dikutip dari BBC, Selasa (21/5/2019).

Usia korban rata-rata antara 12 dan 29 tahun, tetapi kadang-kadang bisa lebih muda. Mereka dipaksa, dijual, atau diculik di China atau diperdagangkan langsung dari Korea Utara.

Banyak di antara mereka dijual lebih dari satu kali dan dipaksa menjadi budakan seks dalam satu tahun setelah meninggalkan tanah air mereka, tambah Hee-soon.

Umumnya, kata Korea Future Initiative, para perempuan Korea Utara itu dipekerjakan di rumah-rumah bordil di distrik-distrik di China timur laut yang punya populasi pekerja migran terbesar.

Pra korban dan mereka yang bekerja di industri seks siber, dipaksa untuk melakukan tindakan intim dan mengalami pelecehan di depan kamera web. Sejumlah pelanggan dianggap sebagai warga Korea Selatan.

Sedangkan perempuan yang dipaksa menikah sebagian besar dijual di daerah pedesaan seharga 1.000 hingga 50.000 yuan, kemudian diperkosa dan dilecehkan oleh suami mereka.

2 dari 3 halaman

Pengakuan Korban

Bendera Korea Utara (AFP)
Perbesar
Bendera Korea Utara (AFP)

Korea Future Initiative mengumpulkan seluruh informasi itu dari para korban di Tiongkok dan mereka yang selamat dari pengasingan di Korea Selatan.

Seorang perempuan, berinisial "Pyon" dari Kota Chongjin, Korea Utara, mengatakan kepada Korea Future Initiative:

Saya dijual (ke rumah bordil) bersama enam perempuan Korea Utara lainnya di sebuah hotel. Kami tidak diberi banyak makanan dan diperlakukan dengan buruk ... Setelah delapan bulan, setengah dari kami dijual lagi."

Ketika saya tiba (di rumah bordil yang baru) saya menderita memar di tubuh saya. Si cukong dipukuli, kemudian ditusuk di kaki oleh beberapa anggota geng.

Korban lain, sebut saja Kim, menceritakan:

Ada banyak orang Korea Selatan di Dalian ... Kami menaruh kartu iklan di bawah pintu mereka di hotel ... Kartu-kartu ini dituliskan dalam bahasa Korea dan mengiklankan apa yang kami tawarkan ... Kami kebanyakan dibawa ke bar oleh mucikari.

Perusahaan Korea Selatan menginginkan pelacur Korea Utara untuk bos-bos mereka ... Pelacuran adalah pengalaman pertama saya bertemu dengan orang Korea Selatan.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓