Lebih dari Seabad Disita, Jerman Kembalikan Artefak Berusia 500 Tahun ke Namibia

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 21 Mei 2019, 08:36 WIB
Jerman menyerahkan lintas navigasi abad ke-15 ke Namibia, bagian dari upaya mengembalikan warisan kolonial (AFP/Tobias Schwarz)

Liputan6.com, Berlin - Pemerintah Jerman dikabarkan tengah mengatur pengembalian sebuah artefak Abad ke-15 yang dikenal sebagai Stone Cross, atau Batu Salib, kepada masyarakat Namibia.

Menteri Kebudayaa dan Media Jerman Monica Gruetters mengatakan pada Jumat 17 Mei, bahwa kebijakan itu menunjukkan komitmen Berlin untuk bertanggungjawab atas sejarah okupansi kolonialnya di wilayah Afrika Barat.

"Sebuah sinyal yang jelas bahwa kita berkomitmen untuk menilai kembali kolonial masa lalu," kata Gruetters pada konferensi pers di Berlin, sebagaimana dikutip dari CNN pada Selasa (21/5/2019).

Artefak setinggi 3,5 meter, yang dibuat oleh penjelajah Portugis Diogo Cão, pertama kali ditempatkan di pantai Namibia pada 1498.

Benda tersebut dibawa ke Jerman pada tahun 1893 setelah Namibia menjadi protektorat --daerah koloni-- kekaisaran Jerman, dan kemudian dipajang di museum sejarah setempat di Berlin.

Batu Salib yang bertuliskan doa dalam bahasa Portugis itu telah menjadi salah satu penanda arah pada peta dunia lama, yang membantu penjelajah Eropa melanjutkan perjalanan menuju Asia Timur Jauh.

Pada Juni 2017, pemerintah Namibia secara resmi meminta pengembaliannya.

 

 

2 of 3

Memicu Diskusi Sejarah

Namid Naukluft Park, Namibia
Namid Naukluft Park, (Unsplash)

Menteri Gruetters akan melakukan perjalanan dengan Presiden Museum Sejarah Jerman, Raphael Gross, ke Namibia untuk menyerahkan artefak tersebut secara resmi pada Agustus mendatang.

Hasil simposium pada 2018 mengatakan bahwa Batu Salib tersebut memicu diskusi tentang sejarah pemerintahan kolonial Jerman, yang mendorong pelaksanaan wacana pertanggungjawaban atas pencurian sejarah di wilayah bekas koloni di Afrika.

3 of 3

Tekanan Meningkat dari Para Pemimpin Afrika

Markas besar Uni Afrika di kota Addis Ababa, Ethiopia - AP
Markas besar Uni Afrika di kota Addis Ababa, Ethiopia - AP

Dihadapkan dengan tekanan yang meningkat dari para pemimpin Afrika, semakin banyak negara Eropa berupaya mengembalikan artefak yang dijarah selama masa penjajahan.

Tahun lalu, Presiden Prancis Emmanuel Macron memerintahkan pengembalian 26 karya seni ke Republik Benin, setelah lebih dari satu abad dipajang di Paris.

Hal serupa juga dilakukan oleh British Museum di London pada 2018, dengan komitmen untuk mengembalikan benda perunggu yang dijarah oleh tentara Inggris dari Benin dan Nigeria.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait