Belasan Sekolah Katolik Kembali Dibuka di Sri Lanka

Oleh Siti Khotimah pada 21 Mei 2019, 06:55 WIB
Diperbarui 21 Mei 2019, 07:17 WIB
Militer Sri Lanka melakukan penyelidikan terhadap lokasi teror bom di Kolombo, Sri Lanka (AFP/Ishara S Kodikara)

Liputan6.com, Colombo - Pagi ini Selasa, 21 Mei 2019 Sri Lanka telah membuka kembali belasan sekolah Katolik untuk pertama kalinya sejak insiden teror bom pada Minggu Paskah 21 April lalu dengan 258 orang tewas. Otoritas setempat telah memerketat keamanan di sejumlah titik.

Letnan Jenderal Mahesh Senanayake mengatakan pasukan keamanan akan memastikan bahwa sekolah di Sri Lanka tidak menjadi sasaran militan yang bertanggung jawab atas Bom Paskah.

"Layanan militer… sepenuhnya dan dengan penuh percaya diri akan membantu pihak penegak hukum untuk menangkap para penjahat," kata Senanayake pada Senin, seraya menambahkan bahwa operasi oleh pihak berwenanga Sri Lanka telah menunjukkan "kemajuan nyata" tanpa memberikan perincian.

Seorang juru bicara Katolik Roma di Kolombo  mengonfirmasi dibukanya kembali institusi pendidikan, demikian sebagaimana dikutip dari Channel News Asia pada Selasa (21/5/2019). Ia seraya menambahkan bahwa otoritas sekolah telah diminta untuk memastikan keamanan.

"Di beberapa tempat anak-anak tidak akan menghadiri kelas dengan seragam mereka," kata sumber yang sama.

"Kelas Tingkat Lanjutan akan dimulai pada hari Selasa tetapi sekolah dasar dan menengah akan dibuka kembali secara bertahap pada minggu-minggu mendatang," lanjutnya.

 

2 of 3

Sekolah Negeri Lebih Dulu Kembali Beroperasi

Ilustrasi Bendera Sri Lanka (iStockphoto via Google Images)
Ilustrasi Bendera Sri Lanka (iStockphoto via Google Images)

Lebih dari 10.000 sekolah negeri dibuka kembali awal bulan ini, tetapi tingkat kehadirannya rendah. Sebagian besar karena para orangtua tidak membiarkan anak-anaknya berangkat ke sekolah dengan kondisi keamanan yang masih mengkhawatirkan.

Pada hari Minggu, Presiden Maithripala Sirisena menandai peringatan 10 tahun berakhirnya perang pemberontak Tamil di negara itu dengan bersumpah untuk menghancurkan militan Islam yang menjadi tersangka bom Paskah yang juga menyebabkan 500 orang terluka.

"Kami telah dapat menangkap semua orang yang berada di belakang serangan Paskah. Beberapa tewas dalam konfrontasi," katanya.

"Ini memberi saya kepercayaan diri bahwa kita dapat sepenuhnya menghilangkan ancaman dari terorisme internasional."

3 of 3

Rayakan Waisak dengan Pesan Damai

Peringatan Hari Raya Waisak di Kedutaan Besar Sri Lanka di Indonesia (Liputan6.com/Siti Khotimah)
Peringatan Hari Raya Waisak di Kedutaan Besar Sri Lanka di Indonesia (Liputan6.com/Siti Khotimah)

Sementara itu, baru-baru ini warga Sri Lanka merayakan Waisak dengan pesan damai, mengutuk serangan teror dan mempromosikan penghentian kekerasan.

"Bulan purnama vesak muncul di langit ketika awan gelap teror membayangi bangsa kita. Ada perasaan gelisah dan sedih di seluruh masyarakat. Dalam masa-masa sulit seperti itu, ajaran agung Sang Buddha menunjukkan kepada kita cara untuk bersatu secara spiritual dan menemukan tujuan bersama dalam kemanusiaan kita," kata Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe, dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com.

"Mari kita menjauhkan diri dari hawa nafsu, kebencian, kekerasan, dan mempraktekkan Empat Landasan (The Four Foundation of Mindfulness). Hal ini akan membuka jalan bagi rekonsiliasi, kedamaian, dan persatuan," lanjut Wickremesinghe.

Pesan senada juga disampaikan oleh Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena.

"Dalam momentum Hari Waisak ini, kita harus bertekad untuk dibimbing oleh ajarab Buddha, untuk membangun masyarakat yang damai," kata Sirisena.

Ia mengatakan pentingnya membangun masyarakat yang bebas dari ketakutan, takut, dan ketidakpercayaan.

"Penting untuk diingat bahwa hal itu sangat relevan dengan kalimat Sang Buddha: 'Kebencian tidak akan menghentikan kebencian, namun kebaikan akan menyembuhkan kebencian.' Kita warga Sri Lanka harus mengingat kebenaran itu hari ini," lanjut Sirisena.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait