Di Tengah Gencatan Senjata, Rakyat Palestina Demo Hari Pengusiran Massal 1948

Oleh Tanti Yulianingsih pada 16 Mei 2019, 08:02 WIB
Diperbarui 16 Mei 2019, 08:02 WIB
Warga Palestina di Gaza melakukan protes dalam peringatan 71 tahun hari "Nakba" atau malapetaka akibat berdirinya negara Israel di sana, Rabu (15/5/2019). (AP)

Liputan6.com, Peshawar - Rakyat Palestina pada Rabu 15 Mei 2019 memperingati tahun ke-71 pengusiran massal, sehubungan dengan pembentukan negara Israel tahun 1948. Mereka mengadakan aksi-aksi protes di seluruh Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Laporan VOA Indonesia, Kamis (16/4/2019) menyebut, ribuan orang Palestina berjalan menuju perbatasan Gaza dengan Israel, ketika kelompok Hamas yang menguasai Jalur Gaza mengumumkan aksi pemogokan umum, dengan menutup sekolah dan kantor-kantor pemerintah supaya banyak orang bisa ikut berdemonstrasi.

Hamas telah melancarkan protes tiap hari Jumat selama satu tahun, di sepanjang pagar yang memisahkan Israel dan Gaza, untuk menuntut diakhirinya blokade yang dilakukan oleh Israel dan Mesir.

Lebih dari 60 warga Palestina tewas dalam demonstrasi tahun lalu, dalam kerusuhan sehubungan dibukanya kedutaan besar Amerika yang baru di kawasan Yerusalem yang dipersengketakan.

Utusan pemerintah Qatar yang ikut membantu pelaksanaan gencatan senjata itu mendesak Hamas supaya melakukan demonstrasi yang tenang.

 

2 dari 2 halaman

Hari Nakba

71 Tahun Eksodus Rakyat Palestina
Anak-anak bermain di rumah mereka saat Hari Nakba di kamp pengungsian Al-Shati, Jalur Gaza, Palestina, Rabu (15/5/2019). Rakyat Palestina memperingati 71 tahun Hari Nakba yang berarti 'malapetaka'. (MOHAMMED ABED/AFP)

Demonstrasi itu diadakan untuk memperingati "Nakba" atau "hari malapetaka" di mana ratusan ribu warga Palestina dipaksa meninggalkan kampung halaman mereka dalam perang menyusul pendirian negara Israel. Jumlah pengungsi Palestina itu kini telah mencapai lima juta orang yang tersebar diseluruh kawasan Timur Tengah.

Nasib pengungsi itu merupakan salah satu isu utama dalam sengketa antara Palestina dan Israel. Israel menolak kembalinya para pengungsi ke kampung halaman mereka secara massal, karena katanya akan mengancam citra bangsa Yahudi.

Di kota Ramallah, di Tepi Barat, ratusan orang berpawai dari makam pemimpin Palestina Yasser Arafat dan mengadakan demonstrasi di tengah kota untuk menuntut hak supaya bisa kembali ke kampung halaman mereka di kawasan yang kini telah menjadi negara Israel.

“Kami nantinya akan kembali, tidak soal berapa lama waktu dibutuhkan untuk itu,” kata salah satu poster yang dibawa demonstran.

Suara sirene terdengar di seluruh kawasan Tepi Barat pada tengah hari sebagai pernyataan kesedihan warga Palestina yang terusir itu. 

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait