Anggota Uni Eropa Serukan Perjanjian Baru terkait Nuklir Iran

Oleh Liputan6.com pada 14 Mei 2019, 16:27 WIB
20170508-Runtuhnya Bintang Uni Eropa di Tangan Banksy-AFP

Liputan6.com, Brussels - - Inggris, Perancis dan Jerman menyerukan pada Senin, 13 Mei 2019 perlunya pakta internasional baru untuk mengekang program senjata nuklir Iran.

Pernyataan itu turut memperingatkan Amerika Serikat agar tidak meningkatkan ketegangan di kawasan Teluk Persia. Mengingat, beberapa waktu lalu AS mengirim kapal perang ke Timur Tengah sebagai tanggapan atas sikap Iran yang dinilai mengganggu oleh Washington DC.

Para diplomat tinggi dari tiga negara Eropa yang juga sekutu AS bertemu di Brussels, Belgia. Turut hadir dalam pertemuan itu Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, setelah ia membatalkan persinggahan yang direncanakan berlangsung di Moskow dalam perjalanan pada Selasa, 14 Mei 2019.

Kementerian Luar Negeri AS mengatakan, Pompeo akan berbicara dengan sekutunya tentang "tindakan dan pernyataan mengancam baru-baru ini oleh Republik Islam Iran."

Presiden Iran Hassan Rouhani memperingatkan pekan lalu bahwa Teheran dapat melanjutkan pengayaan uranium pada tingkat yang lebih tinggi jika kekuatan Eropa, China, dan Rusia tidak berupaya untuk menggagalkan sanksi-sanksi AS terhadap sektor-sektor perbankan dan energi Iran.

2 of 3

Eropa Khawatir

Ilustrasi bendera Uni Eropa (AFP Photo)
Ilustrasi bendera Uni Eropa (AFP Photo)

Para sekutu AS di Eropa memperingatkan AS akan meningkatnya ketegangan dengan Iran.

Sebagaimana diketahui, AS telah menarik diri dari kesepakatan internasional terkait nuklir Iran pada 2015 lalu. Negeri Paman Sam itu ingin, membatasi ambisi nuklir Iran, namun turut mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln dan empat pesawat pembom B-52 ke Timur Tengah sebagai tanggapan atas kemungkuinan rencana Iran melakukan serangan terhadap Amerika.

Menlu Inggris, Jeremy Hunt menyerukan "masa tenang." Ia mengatakan, "Kami sangat khawatir mengenai resiko terjadi konflik dengan eskalasi yang tidak disengaja di kedua pihak".

Menlu Jerman, Heiko Maas mengatakan, Berlin masih menganggap perjanjian nuklir ini sebagai dasar bagi Iran untuk tidak memiliki senjata nuklir pada masa depan dan kami menganggap ini sebagai eksistensial untuk keamanan kami."

Dia mengatakan, Jerman "prihatin dengan perkembangan dan ketegangan di kawasan itu" dan pihaknya tidak ingin ada ketegangan militer di sana.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Perancis, Jean-Yves Le Drian mengatakan langkah AS untuk meningkatkan sanksi terhadap Iran dengan mengekang perdagangan minyak internasionalnya "tidak sesuai dengan kami."

Sebelum pembicaraan, juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Morgan Ortagus mengatakan, Pompeo akan "terus bekerja sama erat dengan sekutu dan mitranya serta memastikan keamanan atas kepentingan bersama di Timur Tengah dan di seluruh dunia." 

3 of 3

Perang Psikologis

Kapal Perang AS
Petugas mengecek Lambung kiri kapal perang USS John S. McCain usai tabrakan dengan kapal tanker Alnic MC berbendera Liberia di Selat Malaka, sebelah timur Singapura, (21/8). (AFP Photo/Roslan Rahman)

Sementara itu, Iran menyebut langkah AS dalam mengirim kapal perang ke Timur Tengah sebagai pesan "perang psikologis".

"Pernyataan Bolton (penasihat keamanan AS) adalah penggunaan cara lama untuk melakukan perang psikologis," kata Keyvan Khosravi, juru bicara dewan keamanan nasional tertinggi Iran.

Khosravi menambahkan, negaranya telah mengamati kapal induk Amerika Serikat yang memasuki Laut Mediterania sejak 21 hari yang lalu.

Sang juru bicara dewan keamanan Negeri Persia juga mengatakan bahwa Bolton tidak memiliki cukup pemahaman militer dan keamanan. Pernyataan yang diberikannya hanya bertujuan untuk "menarik perhatian terhadap dirinya sendiri".

Apa yang mendorong langkah AS masih belum jelas hingga saat ini. Namun tindakan mengirimkan armada perang jelas menjadi tanda peningkatan ketegangan bilateral.

Patrick Shanahan, menteri pertahanan AS, mengatakan pada hari Senin bahwa ia menyetujui penempatan itu karena indikasi ancaman yang datang dari Iran. Shanahan tidak menyebut jelas apa ancaman yang dimaksud.

"Kami menyerukan rezim Iran untuk menghentikan semua provokasi. Kami akan meminta rezim Iran bertanggung jawab atas segala serangan terhadap pasukan AS atau kepentingan kami," kata Shanahan melalui Twitter.

Lanjutkan Membaca ↓