Koalisi Petahana Rayakan Kemenangan dalam Pemilu Afrika Selatan

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 12 Mei 2019, 10:03 WIB
Cyril Ramaphosa memberi aplaus terhadap kemenangan koalisi petahana dalam pemilu Afrika Selatan (AP/Ben Curtis)

Liputan6.com, Pretoria - Koalisi partai politik petahana Afrika Selatan, Kongres Nasional Afrika (ANC), merayakan kemenangan dalam pemilu nasional pada Sabtu 11 Mei.

Kemenangan tersebut menggarisbawahi berbagai tugas besar yang akan dihadapi oleh Presiden Cyril Ramaphosa untuk masa jabatan kedua usai ANC memenangi pemilu, yakni: membasmi korupsi dan meningkatkan perekonomian Afrika Selatan.

Dikutip dari The Guardian pada Minggu (12/5/2019), pengumuman resmi kemenangan ANC disampaikan dalam sebuah upacara di ibu kota pemerintahan Afrika Selatan, Pretoria, pada Sabtu pukul 18.30 waktu setempat.

Cyril Ramaphosa, yang merupakan mantan aktivis buruh dan taipan berusia 66 tahun itu, telah meminta segenap rakyat Afrika Selatan untuk mendukung pemerintahannya selama lima tahun ke depan.

Ketua komisi pemilihan umum setempat, Sy Mamabolo, mengatakan pemilu tahun ini sempat mengalami beberapa kendala dalam penyelenggaraannya.

"Meskipun ada perbedaan, namun semanya bisa kembali disatukan. Pemilu adalah bentuk rasa hormat terhadap rakyat Afrika Selatan yang haus akan semangat demokrasi," kata Mamabolo.

Hasil akhir pemilu menempatkan ANC pada raihan suara sebesar 57,5 persen, yang merupakan kejatuhan persentase pertama bagi partai tersebut sejak 1994 silam.

Selama demokrasi ditegakkan pasca-jatuhnya rezim apartheid, ANC selalu mememangkan suara di atas 60 persen dalam setiap gelaran pemilu nasional Afrika Selatan.

Bahkan, ANC pernah menang hampir 70 persen raihan suara dalam pemilu 2014 lalu.

2 of 3

Pengaruh Sentimen Negatif

Bendera Afrika Selatan
Bendera Afrika Selatan (Wikipedia)

Beberapa analis menilai bahwa berkurangnya raihan suara ANC terkait dengan kemunculan beberapa sentimen negatif terhadap kepemimpinan dan agenda reformis Presiden Ramaphosa.

Alasan lainnya adalah para pejabat ANC telah beberapa kali menyebut tentang terjadinya "krisis moral" di tubuh partai.

Namun, sentimen tersebut dibantah oleh kepala pemilihan ANC, Fikile Mbalula, yang mengatakan bahwa jika Ramaphosa tidak menggulingkan pendahulunya, Jacob Zuma, ANC mungkin akan meraih suara serendah 40 persen.

Pernyataan Mbalula didasarkan pada fakta bahwa selama sembilan tahun pemerintahan Zuma, Afrika Selatan mengalami penurunan ekonomi yang tajam, dan serangkaian skandal korupsi.

Sementara itu, partai oposisi yang berasal dari kubu tengah-kanan, gagal membuat keuntungan besar, dengan hanya meraih suara 20,77 persen.

Pesaing lainnya yang dikenal radikal, Economic Freedom Fighters (EFF), mencatat kenaikan signifikan sejak pemilu 2014, meski hanya berad di posisi ketiga dengan raihan suara sebesar 10,79 persen.

"ANC diberi kesempatan (menang dalam pemilu)," kata analis politik Lumkile Mondi. "Ini adalah kesempatan bagi mereka untuk bereinkarnasi menjadi lebih baik."

3 of 3

Sukses di 8 Povinsi Utama

Ilustrasi Pemilu 1(Liputan6.com/M.Iqbal)
Ilustrasi Pemilu 1(Liputan6.com/M.Iqbal)

Sukses besar ANC utamanya berasal dari raihan suara di delapan provinsi utama, termasuk kemenangan tipis di Gauteng, wilayah terkaya yang mencakup kota-kota besar, seperti Johannesburg dan Pretoria.

Ekonomi Afrika Selatan tumbuh hanya 0,8 persen pada tahun 2018, yang memicu tingkat pengangguran sebesar 27 persen, di mana lebih dari setengahnya adalah kaum muda.

Banyak rakyat setempat marah karana layanan umum yang gagal terpenuhi dengan baik, korupsi masih merajalela, dan tingkat kejahatan yang masih tinggi.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait