Rusia Ikut Campur Tangan dalam Pemilu Afrika Selatan?

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 09 Mei 2019, 09:13 WIB
Warga Afrika Selatan mulai berpartispasi dalam pemilihan umum pada Rabu 8 Mei 2019 (AFP/Guillem Sartorio)

Liputan6.com, Pretoria - Menurut hasil investigasi outlet media Inggris, The Guardian, dan beberapa koran lokal Afrika Selatan, ditemukan beberapa dokuman yang menunjukkan Rusia berencana memengaruhi pemilihan umum negara di ujung selatan benua Afrika.

Investigasi itu menyebut bahwa kelompok agen khusus Rusia diduga berusaha memperkuat partai Kongres Nasional Afrika (ANC) yang berkuasa.

Dokumen-dokumen itu diduga kuat disiapkan oleh organisasi yang terkait dengan Yevgeny Prigozhin, seorang pengusaha asal St Petersburg yang dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Dikutip dari The Guardian pada Kamis (9/5/2019), keduanya menjanjikan kampanye "untuk mendukung ANC yang berkuasa sebelum pemilihan, serta menangkal dan "mendiskreditkan" partai Aliansi Demokratik pro-Barat.

Tidak jelas apakah rencana itu dilaksanakan oleh Rusia atau tidak. Namun, dugaan pertama kali dilaporkan oleh koran Daily Maverick, yang kemudian mendorong dilakukannya kerja sama investigasi terkait.

Pemilu Afrika Selatan resmi dibuka pada Rabu 8 Mei, di mana merupakan pemilihan umum bebas pertama di negara itu sejak terakhir kali dilaksanakan pada 1994 silam.

ANC telah memegang kekuasaan selama lebih dari dua dekade, tetapi menghadapi ketidakpuasan yang meluas di antara rakyat Afrika Selatan yang marah atas serangkaian skandal korupsi besar, pemadaman listrik, inflasi, dan pengangguran.

Menurut pengamat, saat ini, muncul sedikit keraguan bahwa ANC akan memperoleh suara mayoritas di parlemen Afrika Selatan, dan bahwa presiden yang berkuasa, Cyril Ramaphosa, akan kembali berkuasa.

 

2 of 3

Dokumen Diperoleh dari LSM Pengkritik Kremlin

Militer Rusia berparade mengibarkan bendera kebangsaan di ibu kota Moskow (AP)
Militer Rusia berparade mengibarkan bendera kebangsaan di ibu kota Moskow (AP)

Rencana ikut campurnya Rusia dalam pemilu Afrika Selatan diduga telah dikoordinasikan oleh seorang politikus Rusia, Peter Bychkov, yang bekerja untuk Prigozhin, lapor temuan dokumen oleh investigasi terkait.

Ditambahkan pula bahwa kampanye disinformasi diplot oleh sebuah LSM milik Rusia, Association for Free Research and International Cooperation (Afric), dengan kedok penelitian.

Pada bulan Februari lalu, menurut dokumen-dokumen itu, Bychkov mengirim tim analis politik kecil dari St Petersburg ke Afrika Selatan. Mereka terdiri dari berbagai anggota LSM yang berbasis di Afrika, seperti salah satunya International Anticrisis Center (IAC).

Dokumen-dokumen tersebut diperoleh oleh Dossier Centre, sebuah unit investigasi yang berbasis di London dan didanai oleh pengusaha Rusia dan kritikus Kremlin Mikhail Khodorkovsky.

Menurut dokumen tersebut, tujuan campur tangan Rusia adalah untuk menodai reputasi para pemimpin Aliansi Demokratik (DA) dan Pejuang Kemerdekaan Ekonomi (EFF), sebuah partai paling kiri yang dipimpin oleh seorang mantan pejabat ANC.

Taktik termasuk dilakukan secara "retorika publik", dengan cara menghasilkan dan menyebarluaskan konten video, yang dibuat atas koordinasi dengan kelompok jurnalis pro-ANC.

3 of 3

Rusia Kian Memperkuat Pengaruh di Afrika

Presiden Rusia Vladimir Putin (AP/Alexei Nikolsky)
Presiden Rusia Vladimir Putin (AP/Alexei Nikolsky)

Laporan investigasi terkait juga menyebut bahwa dalam beberapa tahun terakhir, Rusia telah berupaya memainkan peran yang semakin besar di Afrika, dengan meningkatkan kehadiran militer dan politiknya di benua itu.

Pada Oktober mendatang, Putin akan menjadi tuan rumah KTT Afrika-Rusia di kota resor Sochi.

Strategi nyata Kremlin adalah mendukung presiden yang berkuasa dan bekerja melawan partai-partai "pro-Barat" dan gerakan reformasi, lapor investigasi tersebut.

Sementara itu, menurut penasihat khusus Amerika Serikat Robert Mueller, yang menyelidiki upaya Rusia dalam dugaan campur tangan pilpres AS terakhir, Prigozhin menjalankan pabrik troll terkenal di St Petersburg --Badan Riset Internet (IRA)-- dan bertanggung jawab atas operasi media sosial yang luas pada 2016, untuk memobilisasi dukungan terhadap Donald Trump dan melemahkan pengaruh Hillary Clinton.

Afrika dan IAC adalah cabang IRA, lapor dokumen terkait.

Prigozhin juga disebut terhubung dengan Grup Wagner, sebuah organisasi paramiliter yang telah aktif di beberapa negara Afrika, termasuk Republik Afrika Tengah.

Operasi politiknya muncul tahun lalu di Sudan, namun gagal untuk menjaga Presiden Bashir tetap berkuasa.

Mereka juga dilaporkan melakukan perjalanan ke Madagaskar menjelang pemilihan di sana November lalu.

Lanjutkan Membaca ↓