Jika Bulan Tak Ada, Ini 10 Efek Mengerikan yang Bisa Terjadi di Bumi

Oleh Afra Augesti pada 07 Mei 2019, 13:02 WIB
Supermoon di Myanmar

Liputan6.com, Jakarta - Bulan telah menjadi bagian intrinsik dari budaya manusia sejak awal peradaban. Ketika manusia pertama mulai membuat karya seni di gua-gua, Bulan sudah menjadi elemen khusus dari lukisan mereka.

Sebagai 'teman' kosmik terdekat dari Bumi, planet ini telah berbagi ribuan tahun evolusi dengan Bulan dalam banyak hal. Tapi pernahkah terbayangkan oleh kita jika satelit alami Bumi ini tiba-tiba menghilang dan tidak pernah ada sebelumnya?

Bisakah hal-hal yang terjadi di Bumi akan tetap sama? Faktanya, kita akan melihat bahwa segala sesuatu yang membuat Bumi istimewa, bisa raib begitu saja apabila tidak ada batu berdebu yang mengorbit Bumi.

Berikut 10 hal mengerikan yang bisa saja terjadi jika Bumi kehilangan Bulan atau tak pernah memilikinya sama sekali, sebagaimana dikutip dari List Verse, Selasa (7/5/2019).

2 of 11

1. Dunia Jadi Tidak Berkembang

Bulan Purnama Penuh
Foto yang diambil pada tanggal 01 Januari 2018 ini menunjukkan "supermoon" yang muncul di langit malam, sebuah fenomena alam yang sudah tidak pernah terlihat lagi dalam 36 tahun. (Boris Horvat/AFP)

Kehidupan kompleks di Bumi mungkin tidak akan ada sama sekali tanpa Bulan. Bumi akan dihantam oleh sejumlah besar asteroid berukuran raksasa dan benda-benda asing dari angkasa luar.

Kehidupan makhluk hidup di Bumi akan mengalami kesulitan ketika berusaha untuk eksis, yang berarti akan menjadi lebih kompleks dari waktu ke waktu.

Diyakini bahwa stabilisasi poros Bumi yang tersedia lantaran adanya Bulan --dikombinasikan dengan pergeseran benua-- memungkinkan munculnya berbagai ekosistem di planet ini.

Ekosistem tersebut --yang lebih kompleks daripada ekosistem pada zaman dinosaurus-- berkontribusi pada kemunculan mamalia dan, pada akhirnya, manusia. Jadi, seandainya Bulan tidak pernah ada, makhluk seperti kita juga akan memiliki kemungkinan lebih rendah untuk lahir ke dunia.

Kita tahu bahwa kehidupan berasal dari lautan purba, di mana molekul saling bergabung untuk membentuk asam nukleat, yaitu unsur pembangun dasar kehidupan.

Tanpa adanya tarikan dari gravitasi Bulan, maka tidak akan ada konsentrasi garam yang cukup di air laut untuk menumbuhkan proses kimiawi seperti itu (Bulan mengendalikan pasang surut air laut di Bumi dan pasang surut mengangkut mineral yang dibutuhkan untuk kehidupan laut).

Perlu juga disebutkan bahwa tanpa magnetosfer Bumi, yang bertanggung jawab besar atas Bulan, radiasi matahari akan menghancurkan lautan, menghapus semua peluang proses kimia penting yang muncul di sana.

Itulah sebabnya, ketika mencari dunia yang bisa dihuni di wilayah lain di galaksi, para ilmuwan fokus untuk menemukan planet yang punya Bulan besar, yang memungkinkan kehidupan di sana berkembang seperti di Bumi.

3 of 11

2. Cuaca Buruk yang Terjadi Secara Terus-Menerus

Ilustrasi badai Trevor yang melanda wilayah Northern Teritory di Australia (AP/Berau of Meterorology)
Ilustrasi badai Trevor yang melanda wilayah Northern Teritory di Australia (AP/Berau of Meterorology)

Jika tidak ada Bulan, pola cuaca di Bumi akan menjadi kacau tak karuan. Ini mengasumsikan bahwa Bumi masih memiliki atmosfer. Pertama, destabilisasi poros Bumi karena tidak adanya Bulan akan menyebabkan perubahan ekstrem dalam suhu global.

Seiring dengan bertahannya Kutub Utara dan Kutub Selatan lebih lama di bawah panas matahari, lautan di sekitarnya dapat mencapai suhu setidaknya 47 derajat Celcius. Sementara itu, daerah di garis katulistiwa akan menderita glasiasi (proses atau kondisi dari suatu wilayah yang ditutupi oleh gletser atau lapisan es).

Fase Bulan di langit juga mempengaruhi curah hujan di sebuah daerah. Ketika Bulan berada tepat di atas kepala kita, tekanan atmosfer dan suhu udara meningkat, yang berarti lebih sedikit curah hujan di tempat itu.

Jika Bulan tidak ada, hujan akan turun lebih sering dan lebih banyak. Tetapi efek yang ditimbulkan oleh Bulan sangat minim, sehingga peningkatan curah hujan hanya akan 1 persen.

Selain itu, kita tahu bahwa planet-planet dengan rotasi yang lebih cepat juga memiliki angin yang lebih kuat. Misalnya, satu hari di Jupiter berlangsung sekitar 10 jam dan anginnya 160–320 kilometer per jam (100–200 mph).

Sementara itu, Saturnus berotasi dalam waktu sekitar 10,5 jam, memiliki embusan angin yang dapat mencapai 1.800 kilometer per jam (1.118 mph).

Bayangkan jika Bumi tanpa Bulan, planet kita akan berputar lebih cepat, dengan hari-hari yang pada dasarnya bisa berlangsung beberapa jam lebih singkat.

Selain itu, angin di planet kita dapat mencapai kecepatan 160 kilometer per jam (100 mph) setiap hari. Badai bakal muncul dengan embusan yang lebih kuat, dengan kekuatan penghancur yang lebih dahsyat.

4 of 11

3. Medan Magnetik Bumi Akan Mati Selamanya

Magnetosfer adalah area luas yang mengelilingi Bumi yang diproduksi dari medan magnet Bumi.
Magnetosfer adalah area luas yang mengelilingi Bumi yang diproduksi dari medan magnet Bumi. Kehadirannya melindungi Bumi dari partikel radikal. (NASA)

Medan magnet Bumi (magnetosfer) sangat penting untuk pengembangan kehidupan di planet ini. Medan magnet semacam itu mengelilingi Bumi dan terus-menerus melindunginya dari badai matahari.

Selain itu, magnetosfer juga menghalangi Bumi dari bombardir radiasi kosmik dan matahari yang berbahaya. Magnetosfer ada karena sesuatu yang dikenal sebagai geodynamo (teori dinamo), yang merupakan gerakan berputar dari inti besi cair Bumi.

Pergerakan logam magnetik internal semacam itu menyebabkan magnetosfer tetap kokoh. Geodynamo ini bisa muncul berkat adanya gaya pasang surut yang diberikan oleh Bulan ke Bumi.

Saat Bulan meratakan dan meregangkan lapisan bagian dalam Bumi dengan gaya gravitasinya, energi yang cukup kuat dihasilkan untuk membuat inti Bumi tetap panas dan bergerak.

Jika kita tidak memiliki Bulan dan pertukaran energi rotasinya, inti Bumi akan berhenti bergerak dan kemudian akan memadat. Dengan hilangnya geodynamo, magnetosfer di Bumi akan lenyap, sehingga memungkinkan badai matahari untuk melahap atmosfer Bumi sepenuhnya.

Tanpa atmosfer, setiap danau atau waduk yang digunakan untuk menyimpan air di permukaan Bumi akan menguap dan radiasi matahari akan mengubah dunia kita menjadi gurun yang kering nan tandus.

Bahkan, deskripsi tersebut dapat diterapkan dengan sempurna pada apa yang terjadi di Mars. Planet Merah ini konon pernah seperti Bumi sekali seumur hidupnya, lalu kehilangan magnetosfer pada 4,2 miliar tahun yang lalu, menjadi batu merah hangus seperti sekarang ini.

5 of 11

4. Tak Ada Bulan, Tak Ada Emas

Ilustrasi emas harta karun
Ilustrasi emas harta karun (iStock)

Emas (Au), platinum (Pt), paladium (Pd), iridium (Ir) disebut sebagai elemen logam yang sangat berharga bagi peradaban manusia. Kita telah menggunakannya dalam semua jenis aspek kehidupan, mulai dari mobil dan pesawat ruang angkasa, hingga elektronik dan perhiasan.

Tapi tahukah Anda bahwa kita tidak akan pernah mempunyai unsur semacam itu tanpa Bulan? Lantas, mengapa?

Untuk memahaminya, kita harus mempelajari lebih dalam tentang fakta-fakta seputar pembentukan Bulan.

Sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu, sebuah batu seukuran Mars --yang oleh para ilmuwan disebut Theia-- menghantam permukaan Bumi awal, yang kala itu masih panas dan meleleh.

Baik lapisan luar Theia dan bagian dari mantel Bumi, keduanya terlontar ke ruang angkasa, menggumpal di orbit Bumi untuk kemudian membentuk Bulan. Namun, inti Theia tetap ada di Bumi dan logam yang menyusun Theia menjadi bagian dari planet kita.

Jika Bulan tidak pernah terbentuk, konsentrasi logam mulia dalam mantel Bumi akan jauh lebih rendah. Logam seperti emas dan platinum cenderung tertarik pada besi. Pada planet cair seperti Bumi awal, logam-logam ini akan tenggelam sampai mereka mencapai inti besi. Mereka akan terjebak di sana selamanya, begitu intinya mulai ndingin.

Namun berkat pembentukan Bulan setelah dampak tersebut, sejumlah besar unsur logam tersebar di mantel Bumi. Di sana, logam-logam ini menunggu sampai aktivitas seismik menyeret mereka ke permukaan Bumi dan ditemukan oleh manusia sekarang.

6 of 11

5. Tak Berperisai

Ilustrasi meteor
Ilustrasi meteor. (iStock)

Pada masa kini, kita tahu bahwa Bumi telah dibombardir oleh meteoroid dalam frekuensi yang lebih tinggi ketimbang yang diperkirakan sebelumnya.

Jumlah dampak meteorid di planet kita meningkat tiga kali lipat selama 290 juta tahun terakhir, ke titik di mana 33 ton puing batuan antariksa ini jatuh ke Bumi setiap hari.

Karena ukurannya, sebagian besar objek tersebut terbakar sepenuhnya di atmosfer Bumi. Namun, tanpa kehadiran Bulan, tingkat dampak 'serangan' meteor bisa jauh lebih tinggi, membuat Bumi menjadi tempat paling berbahaya untuk dihuni.

Bulan berdiameter hampir 3.500 kilometer (2.175 mi) --sekitar 27 persen dari diameter Bumi. Berkat ukurannya yang besar, Bulan berfungsi sebagai perisai bagi Bumi di saat-saat kesulitan kosmik.

Selama hari-hari awal dari pemadatan Bumi, Bulan menarik sebagian besar puing-puing yang berada di antara Bumi dan planet-planet lain, serta asteroid yang berkeliaran di daerah Tata Surya.

Seandainya satelit alami Bumi tidak ada, maka lingkungan di planet ini akan menjadi seperti ladang ranjau yang terlalu berbahaya bagi perkembangan kehidupan.

Bahkan hari ini, Bulan masih seperti perisai kecil yang melindungi kita dari dampak meteor. Studi menunjukkan bahwa gravitasi Bulan membantu mencegah lebih banyak tabrakan asteroid dengan Bumi daripada yang disebabkannya.

Antara tahun 2005 dan 2013, NASA mendeteksi lebih dari 300 benturan asteroid pada permukaan Bulan. Ini berarti bahwa seandainya tidak ada Bulan, ratusan benda seperti itu bisa menghantam langsung ke Bumi.

7 of 11

6. Lempeng Tektonik

Vulkano lumpur Lusi (2)
Pulau Jawa 'duduk' di atas lempeng-lempeng tektonik Bumi yang saling mendorong. (Sumber Earth Observatory of Singapore)

Gravitasi Bulan memberikan efek besar pada proses alami Bumi. Sebagai contoh, kita melihat bahwa Bulan menyebabkan pasang surut air laut. Tetapi Bulan juga mampu menghasilkan pasang surut di tanah yang padat --sesuatu yang kita kenal sebagai pasang surut Bumi.

Pasang surut Bumi adalah fluktuasi ketinggian relatif dari kerak Bumi pada frekuensi harian yang sama dengan pasang surut air laut.

Saat Bulan terus-menerus menarik permukaan Bumi, tanah di bawah kita dapat naik hingga 30 sentimeter pada waktu tertentu. Ini karena elastisitas kerak Bumi, yang memiliki ​​lempeng tektonik, bergerak.

Lalu, apa yang akan terjadi pada lempeng tektonik jika Bumi tidak punya Bulan?

Diyakini bahwa Bulan terbentuk setelah Bumi kehilangan banyak kerak primordialnya selama tubrukan antarplanet. Jika Bulan tidak pernah terbentuk, semua kerak Bumi akan tetap ada di Bumi, mengisi celah di mana samudra berada sekarang.

Bumi tidak akan memiliki lempeng tektonik karena tidak ada ruang bagi mereka untuk bergerak. Selain itu, permukaan Bumi akan dibuat dari satu bagian, yang akan mencegah proses yang diperlukan untuk membentuk gunung.

Dengan demikian, tidak akan ada gunung di planet kita kecuali beberapa gunung berapi yang tersebar. Dengan asumsi masih ada beberapa lautan di Bumi, air akan menutupi seluruh permukaan planet ini.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pasang surut Bumi terkait dengan terjadinya gempa kecil. Ada kemungkinan bahwa gempa kecil muncul saat tekanan pada kerak Bumi disebabkan oleh daya tarik Bulan yang sedang tinggi.

8 of 11

7. Hari Jadi Lebih Singkat

Ilustrasi tidur siang (iStockphoto)
Ilustrasi tidur siang (iStockphoto)

Salah satu hal yang membuat planet kita dapat dihuni oleh makhluk hidup adalah waktu perputarannya. Saat ini, Bumi menyelesaikan satu revolusi selama 24 jam --23 jam dan 56 menit.

Ini membuat Bumi memiliki iklim yang menyenangkan untuk ditinggali, karena semua permukaan punya cukup waktu untuk menghangatkan dan mendinginkan wilayahnya sesuai dengan waktu.

Namun, para ilmuwan yakin bahwa hari-hari di Bumi jauh lebih singkat pada jutaan tahun yang lalu.

Ketika Bumi dan Bulan terbentuk 4,5 miliar tahun silam, planet ini berotasi sangat cepat sehingga hari itu hanya berlangsung selama empat jam.

Pada saat dinosaurus menjelajahi Bumi, hari telah berlangsung selama 23 jam dan pada 30 Juni 2012, jam di seluruh dunia harus menandai detik tambahan sebelum pukul 00.00 waktu universal (UT) untuk mengimbangi hari-hari yang lebih panjang.

Penyebab keterlambatan ini disebabkan oleh Bulan. Gravitasi Bulan mengerahkan kekuatan gesekan di Bumi dan memperlambat rotasi planet selama dua milidetik setiap 100 tahun.

Saat Bulan terus bergerak menjauh dari Bumi --pada kecepatan saat ini 3,82 sentimeter per tahun-- dunia kita kehilangan energi rotasi dan memperlambat putarannya.

Jika Bulan tidak ada sejak awal, maka hari-hari di Bumi menjadi beberapa jam lebih pendek daripada sekarang. Bila Bulan menghilang sekarang, hari-hari akan berlangsung selama 25 jam dalam sekitar 180 juta tahun ke depan.

9 of 11

8. Tak Ada Bulan Lainnya

Ilustrasi bulan Ramadan (AP)
Ilustrasi bulan Ramadan (AP)

Gaya tarik gravitasi Bumi mempengaruhi ketinggian tempat pesawat ruang angkasa yang mengorbit planet ini. Karena alasan itu, beberapa struktur dalam orbit rendah --seperti Stasiun Angkasa Luar Internasional (ISS)-- harus melakukan koreksi berkala untuk menghindari jatuh ke atmosfer Bumi.

Namun, ada titik-titik di ruang angkasa dengan keseimbangan sempurna antara gravitasi Bumi dan Bulan. Apa pun yang terjadi di dalam titik-titik ini, akan tetap relatif tidak bergerak sehubungan dengan hubungan antara Bumi dan Bulan.

Baik Bumi maupun Bulan tidak akan dapat menarik objek sampai jatuh ke permukaan planet atau objek antariksa mana pun. Inilah yang disebut sebagai titik Lagrange.

Pada tahun 2018, para astronom Hungaria menemukan bahwa pada dua titik tersebut --L4 dan L5-- ada awan debu besar antarplanet yang mengorbit Bumi dengan ukuran hingga sembilan kali lebih besar dari planet kita.

Selain itu, penelitian lain menyatakan bahwa titik Lagrange dapat menangkap asteroid kecil untuk sementara, yang menjadikannya "mini-Bulan" sementara bagi Bumi, sebelum kemudian melanjutkan perjalanannya.

Jika tidak ada Bulan, titik Lagrange yang dibagikan dengan Bumi juga akan hilang. Awan debu yang terperangkap di sana akan berhamburan, yang akhirnya memotong Bumi atau tertiup badai matahari dan gravitasi planet lain.

Dalam kasus asteroid, bila tak ada Bulan, maka batu antariksa ini terus melintasi ruang angkasa dalam lintasan yang tidak berubah sampai suatu ketika akan berdampak pada Bumi.

10 of 11

9. Air Laut Lebih Tenang

Zona Bayangan (2)
Ilustrasi pergerakan air di Zona Bayangan. Air laut nyaris tidak bisa naik ke atas karena bentuk dasar samudra. (Sumber Fabien Roquet dan Casimir de Lavergne)

Sebagaimana telah dijelaskan dalam poin-poin sebelumnya, Bulan menciptakan pasang surut air laut. Bersama dengan matahari, Bulan bertanggung jawab untuk meningkatkan dan mengurangi tingkat lautan kita, beberapa kali dalam sehari.

Saat Bulan berputar mengelilingi Bumi, gravitasi Bumi yang sebelumnya menarik lautan ke arah Bulan. Dengan demikian, gelombang pasang pun tercipta.

Intinya, semakin dekat Bulan dengan Bumi, maka semakin tinggi pula ombak di laut. Untuk mendapatkan gambaran tentang kekuatan Bulan di atas samudra, perbedaan ketinggian maksimum antara pasang surut bisa mencapai 16 meter.

Jika Bulan tidak ada, gelombang laut akan berkurang secara signifikan. Meski masih akan ada pasang surut air laut karena gaya gravitasi matahari, namun daya tariknya tidak semantap yang dilakukan oleh Bulan.

Singkatnya, pasang surut air laut akan berkurang hingga sepertiga dari ukuran laut saat ini, dan samudra akan menjadi jauh lebih tenang.

Permukaan laut juga akan terpengaruh. Tanpa gravitasi Bulan, air laut akan didistribusikan kembali secara seragam di seluruh permukaan Bumi. Oleh karena itu, permukaan laut di kutub akan meningkat secara drastis.

11 of 11

10. Musim Jadi Tak Beraturan

Suhu -12 Celcius, Australia Alami Musim Dingin yang Paling 'Beku'
Musim Dingin di Resor Perisher, Australia (SAEED KHAN / AFP)

Selain berputar mengelilingi matahari, Bumi juga berputar pada porosnya sendiri --yang ternyata sedikit miring. Saat ini, poros rotasi Bumi cenderung sekitar 23,4 derajat.

Akibatnya, di bagian tertentu dari Bumi pada tahun ini, belahan utara lebih berorientasi ke arah matahari daripada bagian selatan.

Enam bulan kemudian, ketika Bumi berada di sisi berlawanan dari orbitnya mengelilingi matahari, belahan Bumi selatan sekarang menghadap ke arah bintang. Dengan cara ini, kedua belahan menerima jumlah sinar matahari dan panas yang berbeda, menurut waktu dalam setahun yang kita kenal sebagai musim tahunan.

Alasan mengapa rotasi Bumi miring pada sumbunya, hal ini berkaitan dengan pembentukannya pada 4,5 miliar tahun yang lalu. Ketika versi awal Bumi bertabrakan dengan tubuh planet lain, poros rotasinya cenderung berubah drastis.

Kemudian, daya tarik Bulan menstabilkan insiden ini ke kondisi yang ada sekarang, dengan fluktuasi kecil selama rentang ribuan tahun.

Jadi, apa yang akan terjadi jika Bulan tidak ada?

Beberapa ahli percaya bahwa Bumi akan miring hingga 85 derajat atau lebih. Sedangkan lainnya ada pula yang berasumsi bahwa kemiringan Bumi bisa mencapai 20 derajat.

Poros Bumi akan memiringkan dirinya sendiri, kutub bisa terpapar sinar matahari langsung, melelehkan lapisan es di sana dan memicu perubahan iklim yang ekstrem.

Faktanya, perubahan hanya satu derajat dalam kemiringan poros Bumi sudah cukup mampu untuk menyebabkan Zaman Es.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait