Asteroid Misterius Konon Akan Tabrak Bumi dalam Waktu Dekat, Benarkah?

Oleh Afra Augesti pada 06 Mei 2019, 16:03 WIB
Ilustrasi Asteroid

Liputan6.com, Jakarta - Bill Nye, mantan pembawa acara televisi "Science Guy" yang saat ini menjabat sebagai CEO yayasan nirlaba bidang astronomi, Planetary Society, memperingatkan bahwa ada ancaman dari asteroid yang tengah mendekati Bumi.

Dampak bencana yang ditimbulkan dari batu ruang angkasa raksasa tersebut, katanya, bisa amat mematikan, seperti hal yang menimpa kehidupan dinosaurus pada 66 juta tahun lalu.

"Bumi akan dihantam asteroid (besar) lainnya," klaim Nye pada 2 Mei 2019 di International Academy of Astronautics 2019 yang digelar oleh Planetary Defense Conference di College Park, Maryland.

"Masalahnya adalah, kita tidak tahu kapan peristiwa itu terjadi," tambahnya, seperti dikutip dari Live Science, Senin (6/5/2019).

Menurut Nye, kita dapat melakukan sesuatu untuk mencegah ancaman asteroid tersebut menimpa Bumi dan harus mulai mempersiapkannya dari sekarang.

Langkah pertama adalah menemukan batuan angkasa luar yang dianggap berbahaya itu.

Ilmuwan NASA menyebut, mereka telah menemukan lebih dari 90% potensi penyebab berakhirnya kehidupan di dunia ini, yaitu asteroid-asteroid selebar 0,6 mil (1 kilometer), namun tak satu pun dari bebatuan seukuran gunung ini yang menimbulkan ancaman bagi masa depan makhluk hidup.

Kendati demikian, ada banyak planetoid yang tidak terdeteksi di antariksa, yang memperbesar diri mereka melalui ruang dekat-Bumi, yang dapat melakukan kerusakan serius pada skala lokal seperti memusnahkan area seukuran sebuah negara.

"Studi seperti itu akan mendorong kita untuk membangun beberapa alat deteksi daring yang lebih baik," ujar Nye.

Misalnya, Large Synoptic Survey Telescope yang merupakan sebuah instrumen besar untuk mengamati langit pada tahun depan dari Chile.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh teleskop ini, kemungkinan akan dapat menemukan dan membuat katalog 80% hingga 90% dari asteroid-asteroid yang berpotensi mengancam Bumi, dengan lebar setidaknya 460 kaki (140 meter).

Selain itu, NASA digadang-gadang sedang mempertimbangkan untuk meluncurkan wahana khusus yang mampu memburu asteroid: Near-Earth Object Camera.

Misi yang telah diusulkan ke pemerintah federal Amerika Serikat ini nantinya akan bekerja dengan cara memindai batu ruang angkasa dalam cahaya inframerah, menemukan tanda panas mereka dalam kegelapan.

2 of 3

Trik Selanjutnya...

Asteroid yang Dekat Bumi
Asteroid Apophis yang lintasannya amat dekat dengan Bumi (kuning) akan melewati planet ini pada tahun 2029 dalam jarak yang setara dengan beberapa satelit (biru). Garis ungu mewakili orbit Stasiun Angkasa Luar Internasional. (NASA)

Pengkoordinasian adalah langkah yang bisa ditempuh selanjutnya setelah mendeteksi, kata Bill Nye. Asteroid besar yang melaju ke arah Bumi akan menjadi masalah global, sehingga masyarakat internasional harus bekerja sama untuk menghadapinya.

"Kita akan memiliki beberapa opsi. Jika kita memiliki cukup waktu peringatan --bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun-- kita bisa meluncurkan wahana untuk terbang bersama asteroid, perlahan-lahan menyenggol batu itu melalui sebuah jalur gravitasi," papar insinyur mesin itu.

Pesawat "traktor gravitasi" ini idealnya akan meningkatkan tarikannya dengan mencongkel batu besar dari asteroid, Kepala Ilmuwan NASA Jim Green menjelaskan.

Jika kita terdesak waktu, kita bisa meledakkan senjata nuklir di dekat asteroid, menguapkan sebagian besar permukaannya. Kehilangan massa yang dihasilkan, dan aliran material dari asteroid, akan mengubah jalur perlintasa batu itu. Sedangkan gelombang kejut dari ledakan tersebut bisa muncul dengan sendirinya, Nye memaparkan.

Ia juga menyebutkan strategi "Laser Lebah" yang melibatkan pengiriman segerombolan pesawat ruang angkasa kecil ke asteroid yang berpotensi berbahaya. Setiap probe mini ini akan memfokuskan sinar laser di tempat yang sama di tubuh asteroid, menguapkan material pembentuknya dan membuat sebuah jet di dalamnya meletus.

Jet ini akan berfungsi sebagai semacam mesin yang akan mendorong asteroid ke jalur yang berbeda.

3 of 3

Manfaat Asteroid

Ida dan Dactyl
Asteroid Ida dan Bulannya, Dactyl. (NASA)

Kepala Ilmuwan NASA, Jim Green, menyoroti banyak hal yang dapat kita pelajari dari asteroid, yang dianggap sebagai kapsul waktu dari fajar Tata Surya.

Batuan yang kaya akan karbon tersebut mungkin telah membantu kehidupan awal di Bumi. Memanfaatkan sumber daya dari asteroid dapat membuat pesawat ruang angkasa dan astronaut lebih bisa untuk meningkatkan kehidupan di dunia ini.

Lanjutkan Membaca ↓