Usai Teror Bom, Sri Lanka Imbau Warga Serahkan Pisau hingga Pedang

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 05 Mei 2019, 18:13 WIB
99 Orang Tewas dalam Ledakan Gereja dan Hotel di Sri Lanka

Liputan6.com, Kolombo - Pemerintah Sri Lanka telah menyerukan kepada masyarakat untuk menyerahkan pisau besar hingga pedang akhir pekan ini. Seruan itu datang di tengah meningkatnya kekhawatiran keamanan setelah serangan teror bom Minggu Paskah 21 April 2019.

Polisi mengatakan, pisau yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari yang dilegalkan secara hukum merupakan sebuah pengecualian.

Selain senjata, juru bicara kepolisian Ruwan Gunasekara meminta agar orang yang memiliki "seragam kamuflase polisi atau militer" untuk menyerahkannya ke kantor polisi terdekat pada hari Sabtu 4 Mei atau Minggu 5 Mei 2019, demikian seperti dikutip dari BBC, Minggu (5/5/2019).

Dia tidak mengkonfirmasi apakah polisi akan memberikan amnesti kepada mereka yang menyerahkan senjata selama periode penyerahan dua hari.

Polisi Sri Lanka juga telah menyita ratusan senjata dalam penggeledahan terkait teror bom sejak 21 April.

Seruan datang saat penyelidikan atas pemboman mematikan berlanjut.

Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena mengatakan kepada Reuters pada hari Sabtu bahwa sekitar 25 hingga 30 orang yang terkait dengan pemboman masih buron.

Sirisena juga meyakini bahwa ISIS merupakan dalang serangan.

2 of 3

Sekolah dan Gereja di Sri Lanka Ditutup di Tengah Ancaman Baru

Otoritas keamanan Sri Lanka berjaga-jaga di area sekitar lokasi teror bom beruntun di ibu kota Kolombo (AP Photo)
Otoritas keamanan Sri Lanka berjaga-jaga di area sekitar lokasi teror bom beruntun di ibu kota Kolombo (AP Photo)

Kardinal Katolik Sri Lanka menerima “informasi dari pihak asing” bahwa ada upaya-upaya untuk menyerang gereja dan institusi gereja minggu ini. Demikian surat yang dikirim kepada para pejabat gereja hari Kamis 2 Mei 2019 yang kemudian muncul di media sosial.

Menurut pemberitaan yang dikutip dari VOA Indonesia, Jumat (3/5/2019), Kardinal Malcolm Ranjith adalah uskup agung yang telah mengkritisi kegagalan pemerintah Sri Lanka mengambil tindakan preventif terhadap informasi yang diberikan badan intelijen India sebelumnya, tentang potensi serangan pada hari Paskah 21 April lalu.

Dalam suratnya, Ranjith mengatakan ia menutup seluruh gereja dan sekolah Katholik, dan membatalkan misa untuk publik di Sri Lanka "hingga pemberitahuan lebih lanjut.’’

"Demi kebaikan Anda sendiri, kami telah memutuskan untuk menutup institusi-institusi itu," tulisnya.

Juru bicara gereja, Pastur Edmund Thilakaratne, dalam wawancara dengan Associated Press memastikan keotentikan surat Kardinal Ranjith, tetapi menolak merinci lebih jauh.

Kelompok militan di Sri Lanka yang terkait ISIS diduga melakukan serangkaian serangan terhadap gereja dan hotel mewah di Sri Lanka pada hari Minggu Paskah lalu, menewaskan sedikitnya 257 orang dan melukai lebih dari 500 lainnya.

3 of 3

Sri Lanka Siaga Tinggi terhadap Ancaman Teror Jelang Ramadan

Tentara Sri Lanka berjaga. (AP)
Tentara Sri Lanka berjaga. (AP)

Pasukan keamanan Sri Lanka mempertahankan tingkat siaga tinggi pada Selasa 30 April 2019 setelah pemboman Minggu Paskah, kata para pejabat.

Hal itu diumumkan setelah ancaman dua teror yang beredar pada akhir pekan lalu, hampir seminggu usai tragedi 21 April 2019; serta laporan intelijen bahwa teroris merencanakan serangan baru sebelum dimulainya Ramadan pada Mei mendatang.

"Keamanan akan tetap ketat selama beberapa hari karena militer dan polisi masih melacak para tersangka," kata seorang pejabat senior intelijen kepolisian Sri Lanka seperti dikutip dari NDTV, Selasa. (30/4/2019)

Sumber pemerintah lainnya mengatakan kepada Reuters bahwa sebuah dokumen telah diedarkan di antara lembaga-lembaga keamanan utama yang menginstruksikan semua polisi dan pasukan keamanan di seluruh Negeri Ceylon untuk tetap siaga tinggi karena para teroris diperkirakan akan mencoba melakukan serangan sebelum Ramadan.

Ramadan dijadwalkan akan dimulai di Sri Lanka pada 6 Mei 2019.

Lanjutkan Membaca ↓