3 Fakta di Balik Peringatan Hari Buruh yang Tak Banyak Diketahui Orang

Oleh Tanti Yulianingsih pada 03 Mei 2019, 18:35 WIB
Diperbarui 03 Mei 2019, 18:35 WIB
Ilustrasi Upah Buruh
Perbesar
Ilustrasi Upah Buruh (Liputan6.com/Johan Fatzry)

Liputan6.com, Jakarta - Warga dunia memperingati Hari Buruh Internasional atau yang dikenal sebagai May Day pada 1 Mei. Tiap tahun, banyak orang turun ke jalanan menuntut kesejahteraan.

Tuntutan demikian tak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di sejumlah negara yang memperingati Hari Buruh.

Tahukah Anda, ternyata sejak Abad ke-19 May Day dikenal sebagai Hari Buruh atau hari solidaritas dan protes kaum pekerja.

Selain fakta tersebut, berikut ini 3 penjelasan lainnya yang mungkin tak banyak diketahui soal Hari Buruh seperti dikutip dari www.townandcountrymag.com, Jumat (3/5/2019):

1. Peringatan Hari Ketenagakerjaan Pertama, 5 September 1882 New York.

Saat itu, hari Selasa, 10.000 warga berbaris menuntut hak-hak buruh di jalanan Manhattan. Pada waktu itu rata-rata orang Amerika bekerja 12 jam sehari, enam hari seminggu.

Kendati demikian saat Undang-Undang Adamson berlaku pada 3 September 1916, jam kerja berubah menjadi delapan jam.

2. Antara International Workers' Day, May Day dan Labor Day

Sebagian besar negara lain merayakan International Workers' Day (Hari Pekerja Internasional) atau May Day bukan Labor Day (Hari Buruh). Konsepnya sama, dirayakannya pun pada 1 Mei di seluruh dunia.

3. Hari Ketenagakerjaan Secara Ironis Picu Jam Kerja Tinggi Pekerja Ritel

Akhir pekan pada Hari Buruh menjadi sorotan karena biasanya terjadi diskon besar penjualan di sejumlah gerai. Namun sayangnya, ini berarti pekerja ritel harus bekerja lebih lama pada hari yang khusus didedikasikan untuk penghargaan tenaga kerja.

Selain para pekerja ritel, banyak profesional lain yang juga bekerja pada Hari Buruh, termasuk petugas pemasyarakatan, petugas polisi, pemadam kebakaran, perawat, dan banyak lagi.

 

2 dari 3 halaman

Asal mula Hari Buruh Internasional

Hari Buruh 2019
Perbesar
Peserta aksi dari sejumlah elemen buruh membentangkan poster dan spanduk aksi memperingati Hari Buruh Sedunia di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Rabu (1/5/2019). Massa aksi dalam peringatan Hari Buruh 2019 tidak dapat mendekati Istana Merdeka lantaran tertahan di kawasan itu. (Liputan6.com/Johan Tallo

Pada masa lalu, di Belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere), May Day atau hari libur yang biasanya jatuh pada tanggal 1 Mei identik dengan festival musim semi, bunga, tarian dan nyanyian, serta piknik di ruang terbuka.

Namun, sejak Abad ke-19, May Day dikenal sebagai Hari Buruh atau hari solidaritas dan protes kaum pekerja.

Benang merah antara May Day dengan hak-hak para pekerja bukan bermula dari negara komunis atau sosialis semacam Rusia atau Kuba, melainkan Amerika Serikat.

Seperti dikutip dari History, Rabu 1 Mei 2019, kala itu, pada puncak Revolusi Industri, ribuan buruh pria, wanita, dan anak-anak meninggal setiap tahunnya, akibat kondisi kerja yang buruk dan jam kerja yang panjang, rata-rata 10-16 jam per hari.

Dalam upaya menghentikan kondisi tak manusiawi tersebut, Federation of Organized Trades and Labor Unions (FOTLU) menggelar konferensi di Chicago pada 1884. Organisasi tersebut memproklamirkan, jam kerja para buruh harus dibatasi hingga maksimal 8 jam dan wajib diberlakukan pada 1 Mei 1886.

Pada tahun berikutnya, Knights of Labor, yang kala itu adalah organisasi buruh terbesar di Negeri Paman Sam, mendukung tuntutan tersebut.

Knights of Labor dan FOTLU kemudian mengerahkan para buruh untuk mogok kerja dan berdemonstrasi.

Pada 1 Mei 1886, lebih dari 300 ribu pekerja, yang berasal dari 13 ribu perusahaan di seluruh negeri, turun ke jalan untuk menuntut haknya. Pemogokan pun terjadi, hampir 100 ribu buruh mogok kerja.

Awalnya, aksi protes berlangsung damai. Namun, situasi berubah pada 3 Mei 1886, ketika aparat Kepolisian Chicago terlibat bentrok dengan para buruh di McCormick Reaper Works. Korban jiwa pun jatuh. Empat buruh tewas.

Keesokan harinya, aksi demo kembali digelar di Haymarket Square, terutama untuk memprotes para pekerja yang tewas dan terluka akibat insiden tersebut.

Orasi August Spies yang berapi-api, mereda ketika sekelompok aparat datang untuk membubarkan demonstrasi. Namun, saat polisi mendekat, seseorang yang tak diketahui identitasnya melempar bom ke arah barisan petugas. Setelahnya, kekacauan pun terjadi. Setidaknya tujuh polisi dan delapan warga sipil tewas.

 

3 dari 3 halaman

Ada Hubungan dengan Seruan

Tuntutuan Hari Buruh Internasional (May Day)
Perbesar
Ilustrasi Tuntutuan Hari Buruh Internasional (May Day)

Meski terdengar mirip, May Day tak ada kaitannya dengan seruan yang menandakan kondisi darurat, "Mayday! Mayday!".

Seruan tersebut berasal dari Bahasa Prancis m'aidez, yang berarti "tolonglah kami".

Selain menjadi momentum perayaan Hari Buruh Internasional, sejumlah momentum bersejarah terjadi pada tanggal 1 Mei.

Pada 1948, Republik Demokratik Rakyat Korea (Korea Utara) didirikan, dengan Kim Il-sung sebagai pemimpinnya.

Sementara, pada 1994, juara dunia Formula Satu Ayrton Senna tewas dalam sebuah kecelakaan saat penyelenggaraan GP San Marino di Imola.

Saksikan juga video berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓