Peringatan Hari Buruh Berujung Rusuh di Berbagai Kota Eropa

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 02 Mei 2019, 04:41 WIB
Diperbarui 02 Mei 2019, 04:41 WIB
Polisi Rusia berushaa mengamankan para pengunjuk rasa pada peringatan Hari Buruh, 1 Mei 2019 (AP/Dmitry Yermakov)
Perbesar
Polisi Rusia berushaa mengamankan para pengunjuk rasa pada peringatan Hari Buruh, 1 Mei 2019 (AP/Dmitry Yermakov)

Liputan6.com, Paris - Polisi dan pengunjuk rasa bentrok, terkadang dengan kekerasan, di kota-kota di seluruh Eropa ketika puluhan ribu serikat buruh, anti-kapitalis dan demonstran lainnya berbaris dalam demonstrasi memperingati Hari Buruh, Rabu 1 Mei.

Konfrontasi terburuk terjadi di Paris, di mana polisi anti huru hara menembakkan gas air mata dan granat pari ke arah kerumunan sekitar 40.000 orang, termasuk pengunjuk rasa gilets jaunes (rompi kuning) dan sekitar 2.000 aktivis "blok hitam" bertopeng, yang berunjuk rasa dari stasiun Montparnasse ke lapangan Place d'Italie.

Sementara sebagian besar demonstrasi berlangsung damai, lebih dari 250 orang ditangkap setelah polisi dilempari batu, botol dan proyektil lainnya, demikian sebagaimana dikutip dari The Guardian pada Kamis (2/4/2019).

Pihak berwenang telah memperingatkan akan ada masalah pada pawai May Day tahun ini setelah berbulan-bulan protes rompi kuning di ibukota Prancis, di mana toko-toko dan restoran dijarah dan dibakar.

Anarkis dan kelompok anti-kapitalis lainnya menyerukan di media sosial sepanjang pekan ini agar Paris menjadi "ibukota kerusuhan" dalam peringatan Hari Buruh.

Lebih dari 7.400 polisi bertugas pada hari Rabu dengan perintah untuk menanggapi dengan tegas "operasi keamanan pada skala luar biasa".

Jalan-jalan dan beberapa stasiun metro ditutup dan sekitar 500-an unit bisnis tutup di sepanjang rute pawai Hari Buruh.

Hampir 200 unit sepeda motor dikerahkan di seluruh ibu kota Prancis untuk merespons dengan cepat terhadap ancaman kekerasan yang meningkat, dan drone digunakan untuk melacak gerakan pengunjuk rasa.

Di lain pihak, serikat buruh Perancis menyatakan kekecewaannya ketika melihat pawai May Day berlangsung dengan kekerasan.

Tetapi, mereka mengatakan paham tentang frustasi yang dialami oleh para pemrotes, terutama setelah pidato Presiden Emmanuel Macron pekan lalu, yang disebut gagal dalam mengatasi kekhawatiran tentang pajak tinggi dan penurunan kualitas hidup.

 

 

2 dari 3 halaman

20.000 Pengunjuk Rasa di Jerman

Beri Hormat ala Nazi, Turis Ini Ditangkap Saat Wisata di Jerman
Perbesar
Ilustrasi Bendera Jerman (pixabay.com)

Polisi Jerman juga dilaporkan terus bersiaga di Berlin selama peringatan May Day, yang diikuti lebih dari 20.000 pengunjuk rasa, terutama oleh pendukung sayap kiri.

Selama beberapa dekade, protes Hari Buruh Internasional cenderung terkonsentrasi di distrik selatan Berlin, Kreuzberg, dengan ratusan demonstran biasanya bentrok dengan polisi anti huru hara.

Namun kali ini, penjagaan ketat juga difokuskan pada distrik Friedrichshain di Berlin timur, yang dalam satu dekade terakhir terus berkembang menjadi kawasan hunian kelas pekerja.

Ada juga penangkapan di Gothenburg, kota terbesar kedua di Swedia, ketika para pengunjuk rasa melempar batu dan petasan ke arah polisi. Kekerasan terjadi setelah mereka dijauhkan dari unjuk rasa yang disetujui secara resmi oleh kelompok neo-Nazi.

Lalu, di ibukota Denmark, Kopenhagen, polisi dikabarkan bersiaga penuh mengawasi aksi unjuk rasa oleh sekelompok pemuda berkerudung hitam.

Di Italia, tiga orang termasuk satu anggota polisi terluka ketika pihak keamanan berusaha memblokir demonstrasi terhadap terowongan kereta api berkecepatan tinggi trans-Alpine, yang menghubungkan Prancis dan Italia.

Aksi itu dilakukan oleh pengunjuk rasa dari berbagai latar belakang, termasuk juga beberapa politikus dari Gerakan Bintang Lima, yang berhaluan kiri dan merupakan bagian dari pemerintah koalisi.

 

3 dari 3 halaman

100 Orang Ditangkap di Rusia

Ilustrasi Rusia dan Bendera Rusia (AP PHOTO/Alexander Zemlianichenko)
Perbesar
Ilustrasi Rusia dan Bendera Rusia (AP PHOTO/Alexander Zemlianichenko)

Sementara di Rusia, lebih dari 100 orang ditangkap selama demonstrasi May Day di berbagai kota besar setempat, termasuk Moskow dan St Petersburg.

Para pemrotes anti-pemerintah, termasuk para pendukung pemimpin oposisi, Alexei Navalny, membawa plakat bertuliskan: "Putin tidak abadi". Mereka mengeluh telah dianiaya oleh polisi.

Begitu halnya di Spanyol, barisan buruh setempat melakukan aksi protes terhadap Perdana Menteri Pedro Sánchez, yang tengah bersiap membentuk pemerintahan baru pasca-pemilu hari Minggu.

Serikat pekerja ingin Sánchez membatalkan kebijakan perburuhan yang ramah bisnis, serta menurunkan kebijakan pajak yang berlaku sejak pemerintahan konservatif sebelumnya.

Yunani, sementara itu, dibuat lumpuh ketika layanan kereta dan feri nasional tidak beroperasi selama 24 jam dalam peringatan May Day.

Lanjutkan Membaca ↓