Pindah Tempat, Bomber Ini Gagal Ledakkan Bom di Hotel Mewah Sri Lanka?

Oleh Tanti Yulianingsih pada 26 Apr 2019, 16:51 WIB
Dua wanita menangis saat menghadiri upacara pemakaman anggota keluarga mereka yang jadi korban teror bom di Sri Lanka (AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah foto diperoleh oleh Sky News yang menurut sumber keamanan, adalah orang yang diduga sebagai salah satu pelaku bom bunuh diri Sri Lanka yang pernah sekolah di Inggris.

Sky News yang dikutip Jumat (26/4/2019) melaporkan, Abdul Lathief Jameel Mohamed, membawa ransel diduga berisi bahan peledak, dan sebuah koper di Hotel Taj Kolombo pada hari Minggu Paskah. Dia mengenakan topi bisbol seperti dua orang lain yang diduga bomber terekam dalam rekaman CCTV sebelum meledakkan diri di hotel Shangri-La.

Tujuh pengebom lainnya meledak dalam serangan terkoordinasi terhadap gereja dan hotel pada hari Minggu Paskah. Hanya dia yang tidak melakukannya, dan malah meledakkan dirinya berjam-jam kemudian di wisma kelas rendah di pinggiran kota Sri Lanka.

Para pejabat keamanan mengatakan ada yang tidak beres dengan peledakan itu sehingga ia meninggalkan Hotel Taj berbintang lima itu dengan frustrasi.

Satu sumber mengatakan dia mengganti pakaiannya, menukar baju bergaris dengan kaus putih lengan pendek. Dia kemudian naik becak dan menuju daerah Dehiwala di mana dia check in ke Hotel Tropical Inn sekitar pukul 09.30 pagi, setelah terjadi teror bom massal.

Sumith Vijelal, manajer wisma tamu itu mengatakan bahwa pengemudi becak adalah temannya. Menurut informasinya, Mohamed dibawa ke guesthouse itu sebagai untuk membantunya mencarikan tamu. Dia mengungkapkan pengemudi becak itu kini diamankan pihak berwenang untuk diinterogasi.

Menurut keterangan Vijelal, Mohamed kemudian menaruh tasnya di kamar lalu pergi.

Sumber lain mengatakan Mohamed mengunjungi masjid setempat. Foto lain yang beredar menyebut keberadaannya di masjid, mengenakan kemeja putih.

Dia kemudian kembali ke hotel sekitar pukul 13.30, masuk kamar dan sekitar delapan menit kemudian, meledakkan dirinya, kata manajer wisma Tropical Inn.

Ledakan itu menewaskan seorang pria dan wanita yang tinggal di kamar sebelah. Selain itu juga menghancurkan bangunan satu lantai tersebut.

Sebelumnya pada hari yang sama enam ledakan terjadi di tiga hotel dan tiga gereja di Kolombo dan kota di timur, Batticaloa, Sri Lanka.

2 of 3

Diawasi Polisi

99 Orang Tewas dalam Ledakan Gereja dan Hotel di Sri Lanka
Prajurit Angkatan Darat Sri Lanka mengamankan sekitar Gereja St Anthony Shrine usai ledakan di Kochchikade, Kolombo, Sri Lanka, Minggu (21/4). Menurut laman News18 dikutip pada Minggu (21/4/2019), saat ini terdapat sekitar 450 orang yang telah dibawa ke rumah sakit. (AP Photo/Eranga Jayawardena)

Mohamed - yang juga telah difoto dalam foto kartu identitas - ternyata sudah masuk dalam daftar pengawasan polisi. Dia diketahui memiliki dua paspor dan sudah bepergian ke beberapa negara, bahkan mungkin sudah menghabiskan waktu di Suriah.

Sky News telah memperoleh rincian eksklusif dari beberapa perjalanannya ke luar negeri, di mana mungkin ia telah diradikalisasi.

Tersangka melakukan perjalanan pertamanya yang dikenal ke Inggris pada 1 Januari 2006 untuk belajar teknik penerbangan di Kingston University.

Dia kemudian kembali ke Sri Lanka melalui Maladewa pada bulan September tahun berikutnya. Lalu kembali ke Inggris pada tahun 2008.

Pejabat keamanan kemudian menyelidiki gerak-geriknya dan hubungannya dengan ekstremis.

Selama empat tahun berikutnya ia bepergian ke Malaysia, Singapura dan Sri Lanka. ISIS sempat dikabarkan memiliki jaringan di Negeri Jiran itu.

Telah terungkap bahwa dia meraih gelar pascasarjana di Australia. Sudah menikah dan memiliki anak.

Kapan dan bagaimana dia menjadi teradikalisasi sedang diselidiki, termasuk mengapa dia memilih menebar teror di Kolombo.

3 of 3

ISIS Klaim Jadi Dalang Teror Bom Sri Lanka

Ilustrasi ISIS
Ilustrasi ISIS (Liputan6.com/Abdillah)

ISIS kemudian mengklaim sebagai dalang teror bom bunuh diri beruntun di Sri Lanka yang terjadi pada Minggu 21 April 2019.

Klaim itu dibuat pada Selasa 23 April 2019 --dua hari usai peristiwa-- melalui corong media ISIS, Amaq, seperti dilansir the Guardian.

Namun, kelompok itu tidak memberikan bukti apa pun untuk mendukung klaim mereka. Dan seperti pada berbagai serangan teroris sebelumnya, klaim ISIS kerap bersifat oportunistik untuk mencari sorotan semata.

Kendati demikian, otoritas Sri Lanka sebelumnya telah menduga bahwa organisasi teroris internasional mungkin telah membantu kelompok lokal National Thowheeeth Jamaath (NTJ) dalam melancarkan bom bunuh diri di tiga gereja, empat hotel dan satu rumah di Kolombo dan Batticaloa kemarin lusa.

Kelompok NTJ telah masuk radar Sri Lanka 10 hari sebelum insiden 21 April 2019.

Pejabat Amerika Serikat mendukung dugaan Kolombo bahwa NTJ mungkin dibanntu pihak luar. Sumber-sumber pejabat AS mengatakan kepada CNN bahwa mereka telah mengidentifikasi aktor penting dalam teror bom di Sri Lanka dan untuk sementara menyimpulkan bahwa orang tersebut memiliki koneksi ke organisasi terorisme internasional, termasuk ISIS.

Amerika sedang mencoba mencari tahu seberapa terlibat ISIS dalam memfasilitasi serangan, kata pejabat itu, termasuk apakah para operator ISIS menyediakan perencanaan, pembiayaan, peralatan untuk membuat bom, dan apakah mereka bertemu langsung dengan para penyerang Sri Lanka.

"Kami masih mencari kemungkinan koneksi dan seberapa dalam," kata pejabat AS.

Sementara itu sebelumnya, pejabat Amerika Serikat lain yang berbicara dalam kondisi anonimitas menyatakan, dalang teror bom beruntun Sri Lanka diduga kuat terinspirasi ISIS.

"Indikasi intelijen awal adalah bahwa kelompok yang bertanggung jawab atas serangan di Sri Lanka terinspirasi oleh ISIS," kata seorang pejabat AS kepada koresponden CNN untuk Pentagon, dilansir pada hari Selasa.

Tak seperti serangan teror yang melanda belahan dunia beberapa waktu terakhir, klaim sepihak yang datang dari ISIS terhadap tragedi di Sri Lanka 21 April 2019 datang dalam periode waktu yang lama.

Kini, klaim tersebut --jika benar-- dianggap sebagai sebuah kemunduran bagi situasi keamanan Sri Lanka, mengingat selama ini, ISIS tak memiliki banyak kehadiran di Negeri Ceylon.

ISIS memang pernah mencoba merekrut anggota dari Negeri Ceylon. Pada tahun 2016, seorang pejabat Sri Lanka mengatakan bahwa 32 warga Sri Lanka telah bergabung dengan kelompok itu.

Namun, selama berpuluh-puluh tahun terakhir, tidak pernah ada catatan ISIS atau sel-selnya beroperasi secara signifikan di negara mayoritas umat Buddha itu.

Lanjutkan Membaca ↓