ICG: Kelompok Kriminal Kuasai Kamp Pengungsi Rohingya di Bangladesh

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 26 Apr 2019, 16:01 WIB
Diperbarui 26 Apr 2019, 16:01 WIB
Anak Rohingya Rayakan Idul Adha di Pengungsian
Perbesar
Bocah-bocah Rohingya mengenakan pakain baru selama perayaan Idul Adha di kamp pengungsi Thangkhali, Bangladesh, Rabu (22/8). Hampir setahun mereka menghuni kamp ini usai kabur menghindari represi militer di Negara Bagian Rakhine. (Dibyangshu SARKAR / AFP)

Liputan6.com, Cox's Bazaar - Kelompok-kelompok kriminal dan gerilyawan sepertinya meningkatkan cengkeraman mereka di kamp-kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh, melakukan pembunuhan dan penculikan dengan "impunitas", kata International Crisis Group dalam sebuah laporan baru yang dirilis pada Kamis 25 April 2019.

Sekitar 740.000 orang Rohingya melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh setelah tindakan keras militer pada Agustus 2017, bergabung dengan sejumlah besar yang sudah terkurung di kamp-kamp setelah sebelumnya terjadi kekerasan di perbatasan.

Ketika prospek bagi Rohingya untuk kembali ke rumah mereka di Myanmar semakin terhambat, komunitas internasional sekarang juga harus membantu Bangladesh untuk menampung para pengungsi selama bertahun-tahun ke depan, kata ICG.

Kelompok riset ICG meminta Bangladesh untuk memperkuat kehadiran polisi, dengan mengatakan bahwa geng dan kelompok ekstremis sekarang beroperasi secara terbuka di kamp-kamp, demikian seperti dilansir Channel News Asia, Jumat (26/4/2019.

Ancaman dari para ekstremis telah membuat para pemimpin Rohingya khawatir akan keselamatan mereka dan pembunuhan yang sering terjadi "jarang" diselidiki, tambah ICG.

"Pengungsi mengungkapkan keprihatinan serius tentang keamanan pribadi mereka, sementara gerilyawan dan geng terus mengintimidasi, menculik dan membunuh dengan bebas dari hukuman," kata laporan ICG.

"Pembunuhan dan bentuk kekerasan lainnya adalah kejadian yang hampir terjadi setiap malam ... dan pelaku hampir tidak pernah dibawa ke pengadilan."

ICG mengatakan beberapa pemimpin komunitas Rohingya "telah menerima ancaman kematian dari ARSA, dan takut akan nyawa mereka", katanya, merujuk pada militan Arakan Rohingya Salvation Army.

ARSA dipersalahkan atas serangan mematikan terhadap pasukan keamanan Myanmar dalam beberapa tahun terakhir, termasuk serangan yang memicu gelombang krisisi kemanusiaan Rohingya pada Agustus 2017.

2 dari 3 halaman

Tanggapan Aparat Keamanan Bangladesh

Banjir dan Tanah Longsor Ancam Ratusan Ribu Pengungsi Rohingya
Perbesar
Pengungsi Rohingya memperbaiki rumahnya di Kamp Pengungsi Kutupalong, Bangladesh, 28 April 2018. Apabila hujan tiba, ada ancaman serius kamp pengungsi yang dibangun secara tidak teratur itu mengalami kebanjiran dan longsoran lumpur. (AP Photo / A.M. Ahad)

Polisi Bangladesh mengatakan, pembuatan tujuh pos polisi baru, penempatan polisi bersenjata dan intelijen yang lebih baik telah meningkatkan keamanan.

"Laporan itu dilebih-lebihkan tetapi beberapa kejadian memang ada. Kekerasan di kamp-kamp benar-benar meningkat," kata juru bicara kepolisian distrik Cox Bazar Iqbal Hossain.

Sekitar 60 Rohingya telah terbunuh di kamp-kamp sejak masuknya pengungsi tahun 2017, kata Hossain.

Dia membantah bahwa ARSA hadir di kamp dan mengatakan sebagian besar pembunuhan adalah bagian dari perebutan kekuasaan di antara kelompok-kelompok Rohingya.

"Kegiatan intelijen telah ditingkatkan untuk mencari tahu apakah ARSA terlibat dalam pembunuhan," katanya, seraya menambahkan bahwa sekitar 1.000 polisi dan petugas keamanan telah dikerahkan di kamp-kamp.

Namun ICG mengatakan polisi "kewalahan" pada fokus mereka untuk menjaga keamanan perimeter dan perlindungan warga Bangladesh setempat.

Ketika malam tiba dan "pekerja kemanusiaan menarik diri ke pangkalan mereka di kota Cox's Bazaar, keamanan ada di tangan penjaga malam yang tidak terlatih dan tidak bersenjata yang ditunjuk dari antara para pengungsi," katanya.

Saat ini sekitar 730.000 warga Rohingya ditampung di Cox's Bazar, sekaligus menjadikannya kamp pengungsi terbesar di dunia.

3 dari 3 halaman

100 Ribu Pengungsi Rohingya Akan Direlokasi

Etnis Muslim Rohingya, yang baru saja melintas perbatasan Myanmar menuju Bangladesh, sedang menunggu giliran menerima bantuan makanan dekat kamp pengungsi Balukhali (AP)
Perbesar
Etnis Muslim Rohingya, yang baru saja melintas perbatasan Myanmar menuju Bangladesh, sedang menunggu giliran menerima bantuan makanan dekat kamp pengungsi Balukhali (AP)

Sementara sebelumnya, pemerintah Bangladesh mengumumkan rencana relokasi setidaknya 100.000 orang pengungsi Rohingya yang saat ini berada di kamp pengungsian Cox's Bazaar dekat perbatasan Myanmar, ke Bhasan Char, sebuah pulau di selatan Bangladesh.

Relokasi yang diimplementasi oleh Angkatan Laut Bangladesh tengah berjalan dan diperkirakan komplit tahun ini.

Perdana Menteri Sheikh Hasina telah menginstruksikan untuk menyelesaikan relokasi gelombang pertama, berjumlah 23.000 keluarga Rohingya, dari Cox's Bazaar ke Bhashan Char pada 15 April, kata Menteri Negara Penanggulangan Bencana dan Manajemen Bantuan Md Enamur Rahman mengatakan pada hari Minggu kemarin, seperti dikutip dari The Dhaka Tribune, Senin (4/3/2019).

Mengonfirmasi bahwa pemerintah telah menyelesaikan semua persiapan dalam hal itu, menteri lebih lanjut mengatakan: "Perumahan, listrik, komunikasi, perawatan kesehatan, perlindungan badai, pusat-pusat perlindungan topan dan setiap fasilitas lainnya ada di sana."

Ditanya apakah komunitas internasional --semisal Badan PBB untuk urusan pengungsi-- dinotifikasi terkait rencana itu, Enamur Rahman mengatakan: "Kami melakukan pertemuan dalam hal ini di kantor perdana menteri dan yang lain dijadwalkan pada 6 Maret."

Berdasarkan rencana pemerintah, 103.200 Rohingya dari lebih dari satu juta yang saat ini terlindung di kamp-kamp sempit Cox's Bazar akan dipindahkan ke Bhashan Char di bawah sebuah proyek dengan perkiraan biaya lebih dari 2.312 crore taka (sekira Rp 3,8 triliun).

Lanjutkan Membaca ↓