Sri Lanka: Teror Bom Balas Dendam Penembakan Masjid Selandia Baru

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 23 Apr 2019, 18:37 WIB
Gereja rusak parah pasca ledakan bom di Sri Lanka (Sumber: Twitter.com/Geeta_Mohan)

Liputan6.com, Kolombo - Menteri Pertahanan Sri Lanka, Ruwan Wijewardana menyebut bahwa teror bom beruntun yang melanda Kota Kolombo dan Batticaloa pada Minggu 21 April 2019 merupakan balas dendam atas teror penembakan dua masjid di Christchurch, Selandia Baru pada 15 Maret 2019.

Berbicara di hadapan Parlemen Sri Lanka hari ini, Wijewardana mengatakan, "Serangan ini dilakukan sebagai pembalasan atas serangan terhadap muslim di Christchurch", katanya, seperti dikutip dari the Guardian, Selasa (23/4/2019). Namun, sang menteri tidak memberikan bukti untuk klaim tersebut.

Wijewardana menambahkan bahwa penyelidikan awal menunjukkan "pengeboman berantai" dilakukan oleh "kelompok Islam radikal" yang ia sebut sebagai National Thowheeth Jamaath (NTJ), demikian seperti dilansir CNN.

Serangan masjid bulan lalu di Christchurch, Selandia Baru, menyebabkan sedikitnya 50 orang terbunuh dalam suatu penembakan yang dilakukan oleh seorang supremasi kulit putih. Penembakan dimulai bertepatan dengan waktu ibadah salat Jumat, ketika masjid-masjid penuh dengan jemaah.

ISIS Klaim Jadi Dalang Teror Bom Sri Lanka

Sementara itu, ISIS baru saja mengklaim teror bom bunuh diri beruntun di Sri Lanka yang terjadi pada Minggu 21 April 2019.

Klaim itu dibuatnya pada Selasa 23 April 2019 --dua hari usai peristiwa-- melalui corong media-nya, Amaq, seperti dilansir the Guardian (23/4/2019).

Namun, kelompok itu tidak memberikan bukti apa pun untuk mendukung klaim mereka. Dan seperti pada berbagai serangan teroris sebelumnya, klaim ISIS kerap bersifat oportunistik untuk mencari sorotan semata.

2 of 3

ISIS Bantu Kelompok Lokal?

99 Orang Tewas dalam Ledakan Gereja dan Hotel di Sri Lanka
Ambulans terlihat di luar Gereja St Anthony's Shrine setelah ledakan di Kochchikade, Kolombo, Sri Lanka, Minggu (21/4). Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena menyatakan mengatakan bahwa investigasi tengah berlangsung. (ISHARA S. KODIKARA/AFP)

Otoritas Sri Lanka sebelumnya telah menduga bahwa organisasi teroris internasional mungkin telah membantu kelompok lokal National Thowheeeth Jamaath (NTJ) dalam melancarkan bom bunuh diri di tiga gereja, empat hotel dan satu rumah di Kolombo dan Batticaloa kemarin lusa.

Kelompok NTJ telah masuk radar Sri Lanka 10 hari sebelum insiden 21 April 2019.

Pejabat Amerika Serikat mendukung dugaan Kolombo bahwa NTJ mungkin dibanntu pihak luar. Sumber-sumber pejabat AS mengatakan kepada CNN bahwa mereka telah mengidentifikasi aktor penting dalam teror bom di Sri Lanka dan untuk sementara menyimpulkan bahwa orang tersebut memiliki koneksi ke organisasi terorisme internasional, termasuk ISIS.

Amerika sedang mencoba mencari tahu seberapa terlibat ISIS dalam memfasilitasi serangan, kata pejabat itu, termasuk apakah para operator ISIS menyediakan perencanaan, pembiayaan, peralatan untuk membuat bom, dan apakah mereka bertemu langsung dengan para penyerang Sri Lanka.

"Kami masih mencari kemungkinan koneksi dan seberapa dalam," kata pejabat itu.

Sementara itu sebelumnya, pejabat Amerika Serikat lain yang berbicara dalam kondisi anonimitas menyatakan, dalang teror bom beruntun Sri Lanka diduga kuat terinspirasi ISIS.

"Indikasi intelijen awal adalah bahwa kelompok yang bertanggung jawab atas serangan di Sri Lanka terinspirasi oleh ISIS," kata seorang pejabat AS kepada koresponden CNN untuk Pentagon, dilansir pada hari Selasa.

3 of 3

Simak Video Pilihan Berikut:

Lanjutkan Membaca ↓