Gabung FBI dan Interpol, Australia Bantu Investigasi Teror Bom Sri Lanka

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 23 Apr 2019, 15:07 WIB
Bendera negara Australia - AFP

Liputan6.com, Kolombo - Sebuah tim dari Polisi Federal Australia (AFP) akan bergabung dalam upaya investigasi serangkaian teror bom beruntun yang menghantam Sri Lanka pada 21 Maret 2019 lalu.

Hal itu disampaikan oleh Perdana Menteri Australia Scott Morrison dalam sebuah wawancara kepada media baru-baru ini.

"AFP dan orang-orang kami sekarang bergabung dalam upaya investigasi," kata Morrison seperti dikutip dari CNN, Selasa (22/4/2019).

"Kami telah membuat penawaran itu dan mereka (Sri Lanka) telah menanggapi, jadi kami akan membantu di mana pun kami bisa dengan penyelidikan."

Morrison juga mengatakan bahwa Australia "masih belum mengetahui perincian yang jelas dan bukti siapa yang bertanggung jawab" atas serangan itu.

"Tetapi kita tahu siapa yang menjadi sasaran --orang-orang Kristen akan beribadah pada hari Minggu Paskah dan banyak lainnya ... terutama orang barat tetapi banyak, banyak, banyak orang Sri Lanka yang menjalankan bisnis sehari-hari mereka."

"Ini merupakan periode waktu yang mengerikan bagi Sri Lanka," tambah Morrison.

2 of 3

Interpol

99 Orang Tewas dalam Ledakan Gereja dan Hotel di Sri Lanka
Polisi mensterilkan jalan saat sebuah ambulans melaju membawa korban ledakan gereja di Kochchikade, Kolombo, Sri Lanka, Minggu (21/4). Sekitar 99 orang dilaporkan tewas dalam ledakan di tiga gereja dan tiga hotel di Sri Lanka. (AP Photo/Eranga Jayawardena)

Organisasi kerja sama kepolisian dunia atau Interpol mengirim tim ke Sri Lanka untuk membantu otoritas setempat menyelidiki rangkaian teror bom beruntun yang menghantam gereja dan hotel di sana pada Minggu 21 April 2019.

Atas permintaan pihak berwenang Sri Lanka, Interpol mengirim Tim Tanggap Insiden (IRT) yang mencakup spesialis dengan keahlian olah TKP, bahan peledak, anti-terorisme, identifikasi dan analisis korban bencana.

Jika diperlukan, keahlian tambahan dalam forensik digital, biometrik, serta analisis foto dan video juga akan ditambahkan ke tim di lapangan.

Interpol juga sudah melakukan pengecekan basis data internal mereka; Stolen and Lost Travel Documents, dan basis data lain untuk mengidentifikasi petunjuk ​​potensial dan koneksi internasional.

Selain IRT, dukungan juga diberikan melalui Pusat Komando dan Koordinasi (CCC) 24 jam di markas Sekretariat Jenderal Interpol di Lyon, Prancis, dan kantor cabang di Singapura dan Buenos Aires, Argentina.

Untuk membantu mengidentifikasi warga negara asing di antara para korban, CCC juga dapat bertindak sebagai penghubung dengan Biro Pusat Nasional Interpol dari negara-negara yang terlibat untuk memastikan setiap data dipertukarkan secepat mungkin.

"Ketika pihak berwenang Sri Lanka menyelidiki serangan-serangan mengerikan ini, Interpol akan terus memberikan dukungan apa pun yang diperlukan," kata Sekretaris Jenderal Interpol, Jurgen Stock dalam laman resmi organisasi Interpol.int.

"Informasi untuk membantu mengidentifikasi orang-orang yang terkait dengan serangan-serangan ini dapat berasal dari Interpol terbukti sangat penting, terutama bagi petugas di lapangan."

"Keluarga dan teman-teman para korban pemboman ini, seperti halnya setiap serangan teroris, membutuhkan dan pantas mendapat dukungan penuh dari komunitas penegak hukum global," pungkas Kepala Interpol.

3 of 3

Otoritas AS Ambil Andil dalam Penyelidikan

99 Orang Tewas dalam Ledakan Gereja dan Hotel di Sri Lanka
Ambulans terlihat di luar Gereja St Anthony's Shrine setelah ledakan di Kochchikade, Kolombo, Sri Lanka, Minggu (21/4). Seorang pejabat di rumah sakit Batticaloa mengatakan kepada AFP, lebih dari 300 orang telah dirawat setelah ledakan terjadi. (ISHARA S. KODIKARA/AFP)

Selain Interpol, Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) juga membantu otoritas Sri Lankaketika mereka menyelidiki ledakan bom hari Minggu, menurut juru bicara FBI.

Dikatakan, FBI juga telah menawarkan keahlian laboratorium untuk menguji bukti bom, sementara analis meninjau database biro untuk informasi yang berguna, demikian seperti dikutip dari the Washington Post.

Lanjutkan Membaca ↓