Ramai Warga Sri Lanka Donor Darah Usai Teror Bom yang Tewaskan 160 Orang

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 21 Apr 2019, 18:30 WIB
Diperbarui 23 Apr 2019, 11:14 WIB
Gereja rusak parah pasca ledakan bom di Sri Lanka (Sumber: Twitter.com/Geeta_Mohan)

Liputan6.com, Kolombo - Setelah serangan mengejutkan di hotel-hotel dan gereja-gereja di Sri Lanka yang telah menewaskan sedikitnya 160 orang dan lebih dari 300 terluka pada Minggu 21 April 2019, beberapa orang Sri Lanka menyerukan publik di media sosial untuk menyumbangkan darah.

Jumlah korban yang tinggi disebabkan oleh delapan ledakan beruntun yang mengguncang Kolombo dan Batticaloa pada Minggu Paskah. Hal itu menyebabkan meluapnya pasien yang membutuhkan perawatan di rumah sakit di dua kota yang dilanda ledakan.

Untuk mengimbangi defisit cadangan darah, Layanan Transfusi Darah Nasional Sri Lanka mengeluarkan pemberitahuan untuk meminta sumbangan darah sehingga rumah sakit dapat melayani semua korban, demikian seperti dikutip dari News18.com, Minggu (21/4/2019).

Imbauan Layanan Transfusi Darah Nasional Sri Lanka disambut respons netizen yang menyerukan hal serupa.

Tak hanya netizen, Uskup Agung Sri Lanka, Kardinal Malcolm Ranjith --yang mengutuk serangan pada hari Minggu Paskah itu-- juga mendorong sesama warga Sri Lanka untuk menunjukkan dukungan kepada para korban dengan menyumbangkan darah mereka.

Setelah pesan menyebar, tampaknya beberapa orang tiba di pusat donor darah di seluruh Sri Lanka untuk menyumbangkan darah mereka. Netizens memposting gambar dari respons "luar biasa" masyarakat dalam menghadapi tragedi mengerikan.

Total 8 ledakan terjadi di Sri Lanka, dengan 7 di antaranya melanda Kolombo dan 1 di Batticaloa.

Ledakan ke-8 terjadi di Kolombo, Sri Lanka pada Minggu 21 April 2019 sekitar pukul 14.30 waktu setempat.

Seperti dikutip dari News18.com, ledakan kedelapan terjadi di distrik Dematagoda, Kolombo.

Ledakan kedelapan hanya berselang beberapa menit setelah ledakan ketujuh yang terjadi di distrik Dehiwala, Kolombo, sekitar pukul 14.00 waktu setempat, demikian seperti dikutip dari News18.com.

Firstpost melaporkan bahwa ledakan di Dehiwala menghantam Hotel Tropical Inn dekat Kolombo, menewaskan dua orang.

Ini adalah ledakan ketujuh yang mengoyak negara kepulauan itu, dengan korban jiwa mencapai 187 orang, menurut News18.com yang mengutip media lokal.

Media lain menyebut angka berbeda, dengan setidaknya 156 orang tewas, seperti dikutip dari Firstpost.

Sebelumnya pada hari yang sama enam ledakan terjadi di tiga hotel dan tiga gereja di Kolombo dan kota di timur Sri Lanka, Batticaloa.

Hingga berita ini turun, otoritas Sri Lanka masih melakukan evakuasi dan pertolongan medis terhadap para korban tewas dan luka.

Penyelidikan tentang siapa dalang teror itu juga masih berlangsung.

2 of 3

Sri Lanka Terapkan Jam Malam

99 Orang Tewas dalam Ledakan Gereja dan Hotel di Sri Lanka
Prajurit Angkatan Darat Sri Lanka mengamankan sekitar Gereja St Anthony Shrine usai ledakan di Kochchikade, Kolombo, Sri Lanka, Minggu (21/4). Menurut laman News18 dikutip pada Minggu (21/4/2019), saat ini terdapat sekitar 450 orang yang telah dibawa ke rumah sakit. (AP Photo/Eranga Jayawardena)

Otoritas Sri Lanka memberlakukan jam malam pada Minggu 21 April 2019, dari pukul 18.00 hari ini hingga esok pagi 06.00 (waktu lokal).

Jam malam diberlakukan menyusul delapan rangkaian ledakan bernuansa teror di Kolombo dan kota terdekat, Batticaloa, sejak pagi hingga siang hari waktu lokal, demikian seperti dikutip dari News18.com, Minggu (21/4/2019).

Menindaklanjuti serangan ini, otoritas Sri Lanka telah memerintahkan penutupan sekolah pada besok dan lusa.

Perayaan Minggu Paskah di seluruh Sri Lanka juga telah dibatalkan.

Otoritas juga memberlakukan hari libur nasional pada 22 April dan 23 April 2019.

3 of 3

Media Sosial Diblokir...

99 Orang Tewas dalam Ledakan Gereja dan Hotel di Sri Lanka
Ambulans terlihat di luar Gereja St Anthony's Shrine setelah ledakan di Kochchikade, Kolombo, Sri Lanka, Minggu (21/4). Seorang pejabat di rumah sakit Batticaloa mengatakan kepada AFP, lebih dari 300 orang telah dirawat setelah ledakan terjadi. (ISHARA S. KODIKARA/AFP)

Kebijakan lain yang diambil oleh otoritas Sri Lanka pascateror bom itu adalah memblokir sejumlah platform media sosial.

WhatsApp dan Viber adalah beberapa platform yang telah diblokir, Firstpost melaporkan.

Pemerintah mengambil langkah itu untuk menyetop peredaran berita palsu yang merebak melalui platform, seperti salah satunya kabar mengenai ledakan yang terjadi di salah satu gedung pemerintahan di Kolombo. Otoritas telah membantah kabar palsu tersebut.

Lanjutkan Membaca ↓