Misteri Temuan Fosil Leluhur Mamalia Berusia 220 Juta Tahun di Argentina

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 18 Apr 2019, 16:31 WIB
Diperbarui 18 Apr 2019, 17:18 WIB
Fosil itu ditemukan oleh Martinez saat ia tengah melakukan penelitian di Ischigualasto National Park, San Juan, Argentina (AP)

Liputan6.com, San Juan - Seorang peneliti dari University of San Juan menemukan fosil-fosil mamalia yang ia klaim berusia lebih dari 220 juta tahun.

Fosil itu ditemukan oleh Martinez saat ia tengah melakukan penelitian di Ischigualasto National Park, San Juan, Argentina, demikian dikutip dari laman Channel News Asia, Kamis (18/4/2019).

"Ini penting, karena setidaknya ada tujuh individu," ujar Martinez.

Martinez juga mengatakan bahwa fosil hewan itu merupakan leluhur dari mamalia, ukurannya pun juga seperti seekor sapi.

"Itulah nenek moyang buaya besar yang belum kita ketahui," tambahnya.

San Juan merupakan provinsi yang terletak di Argentina. Letaknya ada di titik 1.100 km barat dari ibu kota Argentina, Buenos Aires.

Temuannya ini berada pada diameter dan kedalaman yang sama. Diduga kuat, fosil ini merupakan dinosaurus. Sebab, Argentina menjadi negara dengan sumber fosil yang kaya sejak era Trias.

 

* Ikuti Hitung Cepat atau Quick Count Hasil Pilpres 2019 dan Pemilu 2019 di sini

2 of 3

Fosil Dinosaurus Raksasa Ditemukan di Argentina Tahun 2014

Pergeseran kutub (4)
Ilustrasi dinosaurus. (Sumber Pixabay)

Argentina pada masa lalu menjadi rumah spesies dinosaurus raksasa. Baru-baru ini para arkeolog berhasil mengumpulkan 70 persen tulang-tulang utama, yang dibutuhkan untuk menggambarkan makhluk yang dinamai Dreadnoughtus schrani.

Itu adalah sosok dinosaurus raksasa, berukuran 26 meter -- dari kepala hingga ekor. Dan beratnya sekitar 60 ton.

Yang lebih mencengangkan, analisis kerangka menunjukkan, Dreadnoughtus itu masih dalam masa pertumbuhan saat mati. Tak diketahui berapa ukuran dewasa makhluk itu.

Bebatuan di pegunungan Patagonia, tempat dinosaurus ditemukan menunjukkan, hewan muda itu mati akibat bencana tragis, banjir besar.

Penjelasan detil terkait fosil berusia lebih dari 77 juta tahun dimuat dalam jurnal ilmiah Scientific Reports. Pemimpin studinya adalah Kenneth Lacovara dari Drexel University, Philadelphia, Amerika Serikat.

 

3 of 3

Bernama Dreadnoughtus

Ilustrasi dinosaurus yang diperkirakan meninggalkan jejak kaki di Gurun Gobi
Ilustrasi dinosaurus yang diperkirakan meninggalkan jejak kaki di Gurun Gobi (Okayama University of Science)

Kepada BBC, Lacovara mengatakan, ukurannya yang luar biasa besar membuat dinosaurus tersebut 'mengintimidasi' makhluk-makhluk lain.

Dengan alasan itulah, makhluk tersebut diberi nama Dreadnoughtus -- yang terinspirasi dari kapal tempur raksasa yang merevolusi peralatan tempur awal tahun 1900-an.

"Dreadnoughtus sungguh besar, dan tak ada apapun di sekitarnya yang bisa memangsa. Ia pada dasarnya tahan terhadap serangan," jelas Lacovara, seperti Liputan6.com kutip dari BBC, Jumat (5/9/2014).

"Yang pertama terbesit dalam pikiran saya adalah kapal perang abad lalu -- kapal kapal perang baja yang sangat besar -- yang juga tahan terhadap serangan dari kapal lain yang ada saat itu. Jadi nama terbaik dari makhluk tersebut adalah 'dread nought' -- tak takut apa pun."

Dreadnoughtus masuk kategori titanosaurus, yakni jenis dinosaurus berleher panjang yang makan tumbuhan -- yang termasuk binatang paling besar yang pernah hidup di muka Bumi.

Raksasa lain, seperti Argentinosaurus, yang ditemukan sebelumnya, bahkan bisa lebih besar lagi ukurannya dan beratnya bisa mencapai 100 ton. Namun, perkiraan tersebut didasarkan pada bukti yang sangat fragmentaris. Dalam kasus Argentinosaurus, hanya sedikit potongan tulang yang ditemukan.

Itu mengapa kemunculan Dreadnoughtus memberi banyak kegembiraan bagi para ilmuwan. Sebab, meski tengkoraknya tak selamat, lebih dari separuh kerangkanya diawetkan oleh alam.

Dr Paul Barrett dari Natural History Museum London mendeskripsikan Dreadnoughtus sebagai temuan besar. Para ilmuwan dapat mulai mengungkap rahasia biologi titanosaurus. "Memberikan kita wawasan tentang bagaimana hewan-hewan ini muncul," kata dia.

"Memberikan kesempatan untuk memahami dengan lebih baik persoalan seperti batas-batas kekuatan tulang, bagaimana seekor binatang tumbuh dengan ukuran sebesar itu."

Lanjutkan Membaca ↓