350 Imigran Merangsek Paksa Masuk Perbatasan Amerika Serikat di Meksiko

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 13 Apr 2019, 13:06 WIB
Diperbarui 13 Apr 2019, 13:06 WIB
Perjuangan Para Imigran Lewati Pagar Perbatasan AS

Liputan6.com, Meksiko - Sekitar 350 imigran berupaya memasuki Meksiko, guna menyelamatkan diri dari kemiskinan dan kekerasan brutal yang terjadi di negara asal mereka. Kedatangannya bersamaan ketika rombongan migran berjuluk karavan baru sekitar 2.500 orang tiba - berita yang pasti menarik perhatian Presiden AS Donald Trump.

Dikutip dari laman Channel News Asia, Sabtu (13/4/2019), para imigran ini berasal dari beberapa negara, mulai dari Kuba, Venezuela, Honduras hingga Afrika Tengah.

"Kami tidak bisa hidup (di Honduras) lagi. Kami ingin menuju perbatasan Amerika Serikat," kata Jorge, seorang imigran Honduras yang menolak menyebut nama belakangnya.

Beberapa imigran menyeberangi jembatan di atas Sungai Suchiate, yang memisahkan Meksiko dari Guatemala. Bahkan mereka rela membayar rakit untuk membawa mereka.

Menyoroti bahaya perjalanan, jaksa penuntut Meksiko mengatakan mereka telah menahan dua penyelundup yang memperdagangkan 22 migran di negara bagian Chiapas dalam insiden terpisah.

Menurut keterangan dari petugas keamanan di Meksiko, pihaknya telah mengamankan 143 migran Honduras, termasuk 71 anak di bawah umur.

Rencananya, ratusan imigran ini berupaya mencapai perbatasan AS-Meksiko. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menetapkan kondisi ini sebagai darurat nasional.

Trump secara berulang mengerahkan pasukan ke perbatasan untuk menutup segala pintu masuk yang biasa digunakan oleh imigran.

2 dari 3 halaman

Donald Trump Setop Bantuan ke Tiga Negara

Donald Trump Tinjau Tembok Prototipe di San Diego
Presiden AS, Donald Trump meninjau prototipe tembok perbatasan AS dan Meksiko yang kontroversial di San Diego, Selasa (13/3). Prototipe tembok perbatasan Trump memiliki tinggi sekitar 9 meter, dengan puncak yang tebal dan bundar. (MANDEL NGAN / AFP)

Sebelumnya, Trump juga memutus bantuan yang biasa diberi Amerika Serikat kepada tiga negara kecil Amerika Tengah, meliputi: El Salvador, Honduras, dan Guatemala.

Salah satu alasan Gedung Putih mendukung kebijakan Trump, lantaran tiga negara tersebut dinilai tidak dapat mengurangi krisis kemanuasiaan dan malah menyebabkan angka imigran ke AS.

Keputusan tersebut disampaikan oleh Donald Trump pada Jumat, 29 Maret 2019.

"Sebenarnya, Honduras bisa berbuat lebih banyak, Guatemala bisa berbuat banyak dan El Salvador bisa berbuat lebih banyak," jelas Mulvaney.

"Jika mereka ingin kami memberi ratusan juta dolar, maka kami ingin mereka juga berbuat lebih banyak," kata Mulvaney.

3 dari 3 halaman

Tanggapan Pemerintah Honduras

Donald Trump Tinjau Tembok Prototipe di San Diego
Presiden AS, Donald Trump berbincang saat melakukan perjalanan untuk melihat prototipe tembok perbatasan AS dan Meksiko di San Diego, Selasa (13/3). Tembok ini adalah perwujudan dari janji Trump pada kampanye presiden 2016 lalu. (AP/Evan Vucci)

Mulvaney juga mengatakan, mulanya bantuan tersebut digunakan untuk mendanai program-program memerangi geng dan mendorong pembangunan di tiga negara tersebut. Harapannya, agar mereka dapat mengatasi akar penyebab migrasi massal ke AS. Mulvaney menyebut langkah itu tak manjur.

"Jika pemerintah di negara masing-masing telah bekerja dengan baik, mengapa masih banyak orang yang melintasi perbatasan dalam satu bulan terakhir?," tanya Mulvaney.

"Ini adalah krisis kemanusiaan, ini adalah krisis keamanan," jelasnya.

Menanggapi langkah tersebut, pemerintah Honduras pada Sabtu, 30 Maret 2019, menyalahkan "kebijakan kontradiktif" dari badan-badan AS untuk keputusan tersebut.

Honduras dengan para pejabat mengatakan mereka akan terus bekerja dengan El Salvador dan Guatemala pada inisiatif Segitiga Utara soal masalah tersebut.

Lanjutkan Membaca ↓