Ingin Bantah Teori Darwin, Peneliti Masukkan Otak Manusia ke Dalam Monyet

Oleh Siti Khotimah pada 11 Apr 2019, 21:09 WIB
Diperbarui 13 Apr 2019, 20:13 WIB
Ilustrasi Monyet (iStock)

Liputan6.com, Beijing - Baru-baru ini warga internasional digemparkan dengan penelitian yang dilakukan oleh tim ilmuwan dari China. Mereka menanamkan gen otak manusia ke dalam seekor monyet, dalam sebuah penelitian yang dimaksudkan untuk meneliti evolusi kecerdasan manusia.

Para peneliti itu memasukkan versi MCPH1, sebuah gen manusia yang diyakini berperan dalam perkembangan otak manusia.

Hasilnya, mereka menemukan bahwa otak monyet membutuhkan waktu lebih lama untuk berkembang. Namun, otak monyet yang diteliti (jenis rhesus) bekerja lebih baik dalam tes memori jangka pendek serta waktu reaksi, jika dibandingkan dengan monyet liar.

Para penulis mengatakan, temuan mereka membuktikkan bahwa primata bukan manusia transgenik. Begitu pula manusia bukanlah termasuk spesies kera. Mereka menyebut manusia memiliki keunikannya sendiri, yang berbeda sari monyet yang diteliti.

Penelitian ini dilakukan oleh para peneliti di Institut Zoologi Kunming dan Akademi Ilmu Pengetahuan China, bekerja dengan para peneliti AS di University of North Carolina.

Adapun studi ini dipublikasikan bulan lalu di jurnal National Science Review yang berbasis di Beijing.

 

2 of 3

Langgar Hak Hewan?

Monyet
Ilustrasi Monyet (Foto: www.gradydoctor.com)

Dalam penelitian, monyet-monyet itu menjalani tes memori yang mengharuskan mereka mengingat warna dan bentuk. Sejumlah informasi itu diberikan dari layar, kemudian para kera menjadi sasaran pemindaian MRI.

Hanya lima dari monyet yang selamat dalam tahap pengujian.

Maka tak elak, penelitian ini mendapatkan tanggapan negatif terkait dengan etika. Salah satunya adalah dari Jacqueline Glover, seorang ahli bioetika Universitas Colorado.

"Anda pergi saja ke Planet Kera, segera dalam imajinasi Anda," kata Glover menyuruh tim peneliti bernada satire.

"Jangan menciptakan makhluk yang tidak bisa memiliki kehidupan yang bermakna dalam konteks apa pun," lanjut Glover kepada MIT Technology Review.

Sementara itu, Larry Baum, seorang peneliti di Pusat Ilmu Genomik Universitas Hong Kong, meragukan hasil penelitian.

"Genom monyet rhesus berbeda dari kita beberapa persen," katanya.

"Anda bisa memutuskan sendiri apakah ada yang perlu diragukan dalam penelitian ini."

Baum menambahkan, penelitian ini justru mendukung teori bahwa "kematangan sel otak yang lebih lambat mungkin menjadi faktor dalam meningkatkan kecerdasan selama evolusi manusia."

 

3 of 3

Bukan Pertama Kali

Wireless monkey (1)
Ilustrasi monyet jenis rhesus macaque. (Sumber monkeyheaven.org)

Penelitian ilmiah dengan etika yang diragukan, tidak terjadi pertama kali.

Pada bulan Januari, para ilmuwan Cina meluncurkan lima kera yang dikloning dari seekor binatang yang secara genetik direkayasa memiliki kelainan tidur. Semua hewan itu mengembangkan tanda-tanda masalah mental termasuk depresi, kegelisahan dan perilaku yang terkait dengan skizofrenia.

Mereka mengatakan penelitian ini dimaksudkan untuk membantu penelitian masalah psikologis manusia.

Dan tahun lalu, peneliti China He Jiankui mengejutkan komunitas ilmiah setelah mengungkapkan bahwa ia telah berhasil menyunting anak perempuan kembar yang lahir pada bulan November untuk mencegah mereka tertular HIV.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait