Lagi, Sebuah Meteor Meledak di Atas Siberia Saat Langit Cerah

Oleh Afra Augesti pada 08 Apr 2019, 18:35 WIB
Meteor di Langit Australia

Liputan6.com, Siberia - Sebuah batu ruang angkasa kembali dilaporkan masuk ke atmosfer Bumi dan jatuh di Rusia, Sabtu, 6 April 2019 sekitar pukul 19.00 waktu setempat.

Meteor tersebut terekam oleh kamera dashboard mobil milik seorang warga yang sedang melintas di jalan raya di Siberia. Dalam video itu, meteor tampak berubah menjadi bola api saat terbang di atas kota industri Krasnoyarsk, menurut The Siberian Times.

Lalu, meteor tersebut dikabarkan meledak di langit wilayah Irkutsk, sebelah timur Krasnoyarsk dan disebut sebagai bolide (meteor yang meledak di udara sebelum menghantam tanah).

Letusan itu diperkirakan disebabkan oleh udara bertekanan tinggi yang dihadapi oleh meteor saat objek ini masuk ke Bumi. Lalu, udara ini merembes ke celah-celah meteor, sehingga meningkatkan tekanan internal dan menyebabkan meteor pecah.

Meskipun spektakuler, kementerian setempat menyebut bahwa meteor Krasnoyarsk tidak menimbulkan ancaman, baik bagi manusia maupun infrastruktur.

Para pengamat juga belum memiliki statistik tentang meteor tersebut, tetapi analisis awal menunjukkan bahwa batuan itu sedikit lebih besar daripada meteor New Tunguska.

Para ahli mengatakan, meteor New Tunguska berdiameter sekitar satu meter (3,3 kaki), dan tidak berjalan secepat meteor Chelyabinsk, yang akibatnya melukai lebih dari 1.200 orang.

"Itu ... bergerak dengan kecepatan lebih tinggi daripada meteor New Tunguska dari Evenkia," kata pakar meteorit, Viktor Grokhovsky, dari Ural Federal University kepada The Siberian Times, yang dikutip dari Science Alert, Senin (8/4/2019).

"Strukturnya pasti sangat longgar, mengingat itu terpecah menjadi beberapa bagian," lanjutnya lagi.

2 of 3

Bolide Lain

Meteor Hantu
Meteor yang meledak di atas Laut Bering pada 18 Desember 2018, berdiameter 32 kaki (10 meter) dan beratnya 1.500 ton (1.360 metrik ton). (NASA)

Meteor berukuran besar dapat meledak dengan kekuatan besar pula, seperti meteor Chelyabinsk berbobot 440 kiloton yang menyentuh Bumi pada 2013.

Juga meteor Tunguska dengan berat lebih dari 3 megaton, yang masuk Bumi pada tahun 1908 dan meratakan 2.000 kilometer persegi hutan di Siberia.

Lalu pada 15 Maret kemarin, sebuah meteor meledak di Krasnoyarsk dengan energi ledakan sebesar 0,15 kiloton, menurut peta bolide NASA. Meteor tersebut hancur di udara dan mendarat tidak jauh dari situs Tunguska.

Pada Desember 2018, sebuah bolide dengan berat 173 kiloton, dikabarkan terlihat di atas Laut Bering. Namun tak ada satu pun orang yang menyadari keberadaan meteor ini. Begitu pun teleskop astronom dan badan antariksa di dunia ini.

3 of 3

Meteor 10 Kali Bom Hiroshima Meledak di Atas Permukaan Bumi, Ini Kata NASA

PHOTO: Menyeramkan, Ini Penampakan Kota Hiroshima yang Hancur Usai di Bom Atom
Kota Hiroshima yang hancur setelah bom atom pertama dijatuhkan oleh Angkatan Udara AS B-29 pada 06 Agustus 1945. Serangan bom atom AS menewaskan 140.000 orang di Hiroshima dan 70.000 lebih di Nagasaki. (AFP PHOTO)

Sementara itu, meteor berukuran raksasa meledak di atas permukaan Bumi di wilayah Kamchatka, daerah terpencil di Rusia. Sebelum hancur berkeping-keping, benda langit ini melayang di ketinggian 16 mil atau 25,7 km dan melepaskan energi 10 kali lebih dahsyat dari bom atom Hiroshima, kata NASA.

Bola api yang lebarnya beberapa meter itu, merobek atmosfer dengan kecepatan sekitar 71.000 mph pada 18 Desember 2018, kata para ilmuwan. Kemudian melepaskan energi yang setara dengan 173 kiloton TNT. 

Itu adalah ledakan terbesar kedua dari jenisnya dalam 20 tahun, setelah meteor yang meledak di Chelyabinsk, Rusia, enam tahun lalu. Meskipun tidak seperti pendahulunya, tidak ada seorang pun yang berhasil mengabadikan momen ketika meteor Kamchatka melintasi angkasa.

Lindley Johnson, perwira pertahanan planet di NASA, mengatakan kepada BBC News bahwa para ilmuwan telah meminta seluruh maskapai penerbangan yang terbang di atas Kamchatka bilamana mereka merekam meteor tersebut.

Menurut Johnson, fenomena itu berlangsung di atas Laut Bering, perairan dingin di Samudra Pasifik antara Rusia dan Alaska, bermil-mil dari daratan yang dihuni. Lokasi ini juga dekat rute yang digunakan oleh pesawat yang terbang antara Amerika Utara dan Asia.

NASA pertama kali diberitahu tentang ledakan meteor ini oleh Angkatan Udara Amerika Serikat, yang menangkan sinyal ledakan tersebut di satelit militer.

Pada 2013, ledakan meteor Chelyabinsk, yang dua setengah kali lebih kuat dari insiden Kamchatka, melukai lebih dari 1.000 orang dan mengirimkan gelombang kejut dua kali lipat ke seluruh Bumi.

Batuan sepanjang 17 meter itu meledak di ketinggian sekitar 18 mil atau 29 km dari Bumi. Tetapi daya ledaknya telah menghancurkan jendela di ribuan bangunan dan secara singkat, pancaran cahaya apinya bersinar lebih terang daripada matahari.

Insiden meteor Kamchatka adalah pengingat bahwa benda yang relatif besar masih bisa tiba di Bumi tanpa peringatan apa pun.

Lanjutkan Membaca ↓