Jenis Terapi Ini Diklaim Bisa Bunuh HIV, Bagaimana Cara Kerjanya?

Oleh Afra Augesti pada 07 Apr 2019, 18:35 WIB
Diperbarui 25 Sep 2019, 15:42 WIB
Sembuh dari HIV (2)

Liputan6.com, Pittsburgh - Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang 'licik', sebab mereka dapat bersembunyi di sel imun manusia yang memakai obat terapi antiretroviral (ART) setiap hari, menunggu sampai inangnya menghentikan terapi tersebut untuk kemudian menyerang kembali.

Ulah virus ini memaksa penderitanya untuk melanjutkan ART dan terus berurusan dengan banyak efek sampingnya sepanjang hidup mereka.

Tetapi sekarang, para peneliti dari University of Pittsburgh (Pennsylvania) telah mengembangkan imunoterapi HIV yang tidak hanya menghilangkan virus dari tempat persembunyiannya, tetapi juga membunuhnya secara permanen --langkah pertama pada vaksin HIV. Namun, cara baru ini belum diuji pada manusia meski hasil awalnya diklaim menjanjikan.

"Ini seperti pisau imunoterapi Swiss Army," kata peneliti Robbie Mailliard dalam siaran pers, yang dilansir dari Science Alert, Minggu (7/4/2019).

ART biasanya mengendalikan infeksi HIV dengan sangat baik, sehingga virus tersebut sebenarnya tidak terdeteksi dalam darah dan tidak dapat dengan mudah menginfeksi orang lain.

Tetapi jika penderita berhenti minum obat harian mereka, maka virus dapat 'mengamuk' kembali dan berubah menjadi AIDS.

Hal ini dikarenakan HIV masuk ke dalam "laten", fase tidak aktif di mana virus memasukkan dirinya ke dalam DNA sel-sel kekebalan tubuh yang disebut "sel-sel pembantu T" dan bersembunyi ketika seseorang mengonsumsi ART. 

Mailliard dan timnya memutuskan untuk melihat virus lain yang juga laten dan menginfeksi lebih dari setengah orang dewasa --95 persen dari mereka dengan HIV: Cytomegalovirus (CMV).

"Sistem imun tubuh menghabiskan banyak waktu menjaga CMV dalam kendalinya. Pada beberapa orang, satu dari setiap lima sel T, adalah spesifik untuk satu virus itu," ungkap Charles Rinaldo, Ph.D., profesor dan ketua Departemen Penyakit Menular dan Mikrobiologi Kesehatan University of Pittsburgh.

"Itu membuat kami berpikir, mungkin sel-sel yang khusus untuk memerangi CMV juga merupakan bagian besar dari reservoir HIV laten. Jadi kami merancang imunoterapi kami untuk tidak hanya menargetkan HIV, tetapi juga mengaktifkan sel-sel T pembantu (T helper) yang spesifik CMV," lanjutnya.

Untuk menjalankan percobaan, tim membutuhkan darah dari orang yang terinveksi HIV namun rutin meminum ART. Hampir dua lusin peserta mengikuti tes dari Pitt Men's Study dari Multicenter AIDS Cohort Study (MACS), sebuah studi penelitian tentang sejarah alami HIV/AIDS yang diobati dan tidak diobati pada pria yang berhubungan seks dengan sesama jenis. 

"Kami harus mengumpulkan banyak darah untuk menemukan sel T yang terinfeksi HIV secara laten pada orang yang memakai ART. Jadi para relawan akan duduk selama empat jam, terhubung ke mesin yang memproses darah mereka, dan kembali beberapa kali untuk memberikan lebih banyak sampel darah," kata Jan Kristoff, M.S., seorang calon doktoral di Pittsburh Public Health.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 of 2

Sel Lain

Ilustrasi Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Ilustrasi Human Immunodeficiency Virus (HIV) (iStock)

Selain sel-sel pembantu T, Kristoff juga mengisolasi sel-sel kekebalan yang disebut sel dendritik. "Mereka melepaskan 'bola' dan mendikte permainan, memberi tahu sel-sel kekebalan lain ke mana harus pergi dan apa yang harus dilawan." 

Sel-sel dendritik adalah kunci untuk imunoterapi kanker, dan Mailliard sebelumnya bekerja pada tim yang mengembangkan terapi semacam itu yang digunakan untuk mengobati melanoma (kanker kulit paling fatal).

Sel dendritik konvensional juga telah digunakan untuk menginduksi sistem kekebalan guna membunuh HIV. Tetapi mereka belum dieksploitasi untuk 'menendang' atau menarik HIV laten agar tidak bersembunyi di dalam tubuh manusia.

Dalam studi ini, tim peneliti merekayasa 'sel penyajian tipe 1-terpolarisasi antigen yang diturunkan dari monosit' (MDC1) yang diprioritaskan di laboratorium untuk mencari dan mengaktifkan sel khusus CMV, dengan pemikiran bahwa sel itu juga mungkin mengandung laten HIV. 

Ketika MDC1 ditambahkan kembali ke sel pembantu T yang mengandung HIV laten, mereka membalik latensi itu seperti yang diharapkan, 'menarik' virus agar tidak bersembunyi.

"Tanpa menambahkan obat atau terapi lain, MDC1 kemudian dapat merekrut sel T pembunuh untuk menghilangkan sel yang terinfeksi HIV," jelas Mailliard. "Sepengetahuan kami, ini adalah studi pertama yang memprogram sel-sel dendritik untuk menggabungkan CMV agar mendapatkan 'tendangan' itu, dan juga untuk membunuh." 

Tim tersebut sekarang berencana untuk mulai mencari dana untuk uji klinis pada manusia, dengan harapan suatu hari dapat menciptakan vaksin yang bisa memungkinkan orang yang terinfeksi HIV agar berhenti mengonsumsi obat-obatan mereka.

Lanjutkan Membaca ↓