Dua Kecelakaan 737 MAX Renggut 346 Nyawa, Boeing Minta Maaf

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 05 Apr 2019, 15:05 WIB
Ilustrasi pesawat Boeing 737 Max 8 (AFP/Stephen Brashear)

Liputan6.com, Chicago - CEO Boeing, Dennis A Muilenburg, meminta maaf atas hilangnya total 346 nyawa dalam dua kecelakaan nahas yang semuanya melibatkan 737 MAX 8 pada Oktober 2018 dan Maret 2019; Lion Air JT 610 dan Ethiopian Airlines ET 302.

"Kami, Boeing, meminta maaf atas hilangnya nyawa dalam kecelakaan 737 baru-baru ini dan dengan giat berfokus pada keselamatan untuk menjamin agar tragedi seperti ini tidak pernah terjadi lagi," kata Muilenburg lewat akun Twitter @BoeingCEO tertanggal 4 April 2019.

Unggahan itu juga disertai video di mana Muilenburg menyampaikan permohonan maaf secara lisan.

"Tragedi ini membebani pikiran dan perasaan kami. Kami berbelasungkawa pada keluarga korban penumpang dan awak di pesawat Lion Air 610 dan Ethiopian Airlines 302."

"Kami semua merasakan bela sungkawa dan ikut merasakan duka mereka yang ditinggalkan orang-orang tercinta."

"Detail lengkap mengenai apa yang terjadi pada dua kecelakaan ini akan dirilis oleh pemerintah setempat dalam laporan final mereka."

"Tapi, dengan dirilisnya laporan awal dari penyelidikan kecelakaan Ethiopian Airlines 302, tampaknya pada dua penerbangan (termasuk JT 610, red), perangkat Maneuvering Characteritics Augmentation System (MCAS) teraktivasi saat merespons informasi Angle of Attack (AOA) yang keliru."

"Sejarah sejumlah industri penerbangan menunjukkan bahwa kecelakaan terjadi akibat faktor berantai, dan inilah yang terjadi lagi. Dan kami tahu kami bisa menunjukkan salah satu mata rantainya dalam dua kecelakaan itu."

"Seperti yang telah dikatakan para pilot kepada kami, 'aktivasi keliru dari fungsi MCAS bisa menambah beban pada lingkungan kerja yang penuh dengan tekanan."

"Ini menjadi tanggung jawab kami untuk mengeliminasi risiko tersebut."

"Kami memilikinya dan kami tahu cara melakukannya."

--CEO Boeing, Dennis A Muilenburg--

Lokasi jatuhnya maskapai Ethiopian Airlines (AFP)

 

Sistem Bermasalah?

Pilot di atas pesawat Ethiopian Airlines ET 302 melawan sistem kontrol penerbangan otomatis pesawat selama hampir seluruh durasi penerbangan enam menit, menurut laporan awal ke dalam kecelakaan yang diperoleh CNN pada hari Kamis.

Kapten dan perwira pertama (kopilot) berjuang ketika salah satu sistem Boeing 737 MAX 8, yang dirancang untuk mencegah pesawat mengalami kondisi stall/stalling, berulang kali memaksa hidung pesawat turun (nose-dive).

Dalam dinamika aviasi, stall adalah pengurangan koefisien gaya angkat yang dihasilkan oleh foil sebagai Angle of Attack (AOA) yang bertambah dari batas normal. Hal ini terjadi ketika sudut kritis AOA pada foil itu telah melewati batas wajar.

Demi keluar dari stall, pilot biasanya meningkatkan AOA dan sudut kritis AOA dengan tujuan untuk memperlambat kecepatan stall dalam level flight.

Namun, jika langkah antisipasi tidak dilakukan, kondisi stall mengakibatkan airflow menjadi terpisah dari airfoil. Itu akan memicu pesawat mengalami hentakan (buffeting) atau perubahan attitude (perubahan pada rotasi tiga dimensi sudut) --yang salah satunya adalah penurunan altitude secara mendadak.

Selama hampir enam menit, laporan menunjukkan, para pilot bekerja melalui serangkaian prosedur untuk mencoba mendapatkan kembali kendali atas pesawat.

Masalah-masalah di atas pesawat jet Ethiopian Airlines mencerminkan apa yang terjadi pada Lion Air JT 610 - yang mengoperasikan model 737 MAX 8 yang sama dan jatuh pada bulan Oktober - dalam apa yang bisa menjadi pukulan signifikan bagi Boeing.

Kapten Ethiopian Airlines telah meminta melakukan "pitch up, pitch up, pitch up! (naik)" untuk memberi tahu ko-pilot untuk mengangkat hidung pesawat, menurut laporan awal.

Ethiopian Airlines. Foto:AFP/ISSOUF SANOGO

Kedua pilot mencoba untuk mengangkat hidung pesawat bersama-sama agar pesawat tetap terbang, tetapi mereka tidak dapat mendapatkan kembali kendali.

Sistem anti-stall terus mendorong hidung ke bawah empat kali selama penerbangan.

Pada akhirnya, setelah para pilot kembali ke Addis Ababa, sistem otomatis melempar pesawat itu menukik curam yang tidak memungkinkannya untuk kembali ke level-flight.

Pada akhirnya, pesawat itu jatuh menukik ke tanah. Semua 157 orang di dalamnya tewas.

Laporan mengenai kecelakaan Ethiopian Airlines tidak secara khusus menyebutkan sistem anti-stall pesawat Boeing 737 MAX 8 - disebut Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) - yang juga diduga berkontribusi pada bencana Lion Air.

Namun temuan itu memungkinkan sistem MCAS mendorong pesawat untuk melakukan nose-dive, karena dipicu oleh kesalahan pembacaan sensor Angle of Attack (AOA).

Ilustrasi Angle of Attack (Wikimedia / Creative Commons)

Sistem MCAS secara otomatis menurunkan hidung pesawat ketika menerima informasi - yang diduga keliru - dari sudut luar sensor AOA, di mana sensor mengindikasikan kepada pilot bahwa pesawat terbang terlalu lambat atau curam, dan berisiko mengalami stalling.

 

Simak video pilihan berikut:

2 of 2

ET 302 dalam Kondsi Menukik 40 Derajat Saat Jatuh

Pesawat Lion Air
Ilustrasi Pesawat Lion Air (ROSLAN RAHMAN / AFP)

Kronologi penerbangan, yang dirinci dalam laporan awal, mengungkapkan bahwa perjuangan pilot untuk mengendalikan pesawat dimulai beberapa saat setelah pesawat lepas landas dari Bandara Internasional Addis Ababa Bole, dalam perjalanan ke Nairobi.

Tepat setelah lepas landas, salah satu sudut sensor AOA di atas pesawat mulai memberikan informasi yang salah ke sistem pesawat, menunjukkan kondisi stalling kepada pilot di kokpit. Sebuah tongkat getar (stick shaker) - sistem lain yang dimaksudkan untuk memperingatkan pilot tentang kondisi stall yang akan segera datang - mulai menggetarkan kontrol kendali pilot (yoke).

Sistem pesawat -MCAS- salah mengartikan sensor dan kemudian berusaha melakukan nose-dive.

Menyadari masalah dengan trim otomatis, pilot mengikuti prosedur darurat dan mematikan sistem.

Namun, pilot mencoba menggunakan roda trim manual cadangan untuk menyesuaikan trim, tetapi pesawat terbang terlalu cepat dan roda trim manual secara fisik tidak mungkin untuk beroperasi, menurut seorang pilot 737 yang menjadi narasumber CNN.

Di menit terakhir penerbangan, pilot memberi tahu ko-pilot bahwa mereka harus menaikkan hidung (pitch-up/nose-up) bersama.

Tiga puluh dua detik sebelum kecelakaan, kedua pilot mencoba menaikkan hidung, dan untuk sesaat, penstabil pesawat, dikendalikan oleh trim, membuat perubahan yang sesuai.

Tetapi lima detik kemudian, sistem otomatis pesawat sekali lagi melakukan nose-dive, menukikkan sudut hidung lebih jauh. Pesawat itu miring 40 derajat ke bawah, meluncur ke tanah dengan kecepatan 575 mil per jam saat jatuh.

Lanjutkan Membaca ↓