Sempat Jadi Anak Tiri NATO, Langkah Turki Beli Rudal Rusia Bikin AS Murka

Oleh Siti Khotimah pada 05 Apr 2019, 09:02 WIB
Ilustrasi Rudal THAAD (AFP Photo)

Liputan6.com, Washington DC - Langkah Turki membeli sistem rudal S-400 Rusia dikecam keras AS. Negeri Paman Sam mengatakan, transaksi itu akan membahayakan NATO.

Wakil Presiden AS Mike Pence mengatakan, Ankara dapat dikeluarkan dari program besar NATO F-35 Joint Strike Fighter (JSF) sebagai sanksinya. Hal itu akan berdampak buruk bagi industri komponen pesawat Turki.

"Turki harus memilih," kata Pence, mengutip Al Jazeera pada Jumat (5/4/2019). "Apakah ia tetap ingin menjadi mitra penting dalam aliansi militer paling sukses dalam sejarah dunia, atau ingin mengambil risiko dengan membuat keputusan sembrono yang merusak aliansi kita?"

Ancaman dikeluarkannya Turki dari program F-35 JSF itu ditegaskan oleh anggota kongres AS kubu Republik, Eliot Engel dan Michael McCaul.

Menjawab tentangan yang datang, Turki tidak gentar. Ankara sudah bertekad bulat. Wakil Presiden Turki, Fuad Oktay membalikkan ancaman kepada AS.

"AS harus memilih, apakah akan tetap bersekutu dengan Ankara atau bersama teroris," kata Oktay dalam sebuah twit. Ia menyebut Washington DC telah bersekutu dengan musuh Turki yang disebut teroris, yakni Pasukan Kurdi dalam pertempuran di Suriah.

Sebelumnya, Turki sempat menolak tawaran untuk membeli sistem pertahanan Patriot dari AS karena dianggap tidak akan datang tepat waktu.

"(Karena) kami tidak bisa mendapatkannya dalam 10 tahun," kata Mevlut Cavusoglu, menteri luar negeri. "Kami harus membeli dari Rusia."

Cavusoglu mengklaim, pihaknya telah berusaha membeli dari sekutu NATO yang lain, namun tidak pernah berhasil.

 

Simak pula video pilihan berikut

2 of 2

Sempat Jadi Anak Tiri

Angkat Bicara, Pejabat Dunia Kecam Kebijakan Trump Soal Yerusalem
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memberi keterangan saat menggelar pertemuan di Ankara, Turki (5/12). Karena kebijakan Trump soal Yerusalem, Erdogan akan memutus semua hubungan diplomatik dengan Israel. (Yasin Bulbul / Pool via AP)

Pada pertengahan Februari lalu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam NATO yang dianggap pilih kasih terhadap negaranya. Dalam sebuah pernyataan, NATO dinilai memberikan persenjataan besar-besaran untuk menumpas teroris, namun menolak Turki untuk membeli sebagian.

"Aliansi NATO macam apa ini?" kata Erdogan yang ditemui pada kampanye pemilihan di Kota Burdur.

"Kalian memberikan (untuk penumpasan) teroris 23.000 truk senjata dan peralatan militer melalui Irak, namun ketika kami memohon, kalian jawab tidak akan menjualnya kepada Turki," lanjut Erdogan menyesalkan.

Adapun negara anggota NATO pemasok senjata melalui Irak, sama sekali tidak disebutkan secara eksplisit.

Ia menambahkan, Turki memiliki ancaman yang konstan datang dari militan. Hal itu mengingat 911 kilometer wilayahnya diklaim berbatasan dengan Suriah.

Lanjutkan Membaca ↓