Sama-Sama Miskin pada 1950-an, Ini Rahasia Korea Selatan Bisa Ungguli RI

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 04 Apr 2019, 12:33 WIB
Diperbarui 05 Apr 2019, 09:15 WIB
Ilustrasi bendera Korea Selatan (AP/Chung Sung-Jun)

Liputan6.com, Seoul - Sebagai salah satu negara ekonomi terbesar di dunia, sulit membayangkan bahwa Korea Selatan dulunya senasib sepenanggungan seperti Indonesia.

Pada 1949, Republik Indonesia baru saja berkonflik dengan agresi militer Belanda, dan beberapa tahun kemudian pada awal 1950-an, Semenanjung Korea bergejolak oleh perang saudara.

Sebelumnya, setelah Perang Dunia II, Semenanjung Korea telah lebih dulu dibagi menjadi dua wilayah, Korea Utara yang didukung oleh Uni Soviet, dan Korea Selatan yang diboncengi oleh Amerika Serikat dan sekutu, demikian sebagaimana dikutip dari New York Times pada Kamis (4/4/2019).

Saat itu, Korea Selatan termasuk sebagai salah satu negara termiskin di dunia, dan bahkan terus berlangsung hingga lebih dari satu dekade setelahnya.

Sejumlah faktor berkontribusi terhadap kemiskinan tersebut, demikian menurut laporan situs Oxfordre.com. Kala itu, sebagian besar masyarakat Korea Selatan bermata pencaharian di sektor agraris, berbeda dengan industrialisasi besar-besaran di saudara serumpunnya di utara, yang didukung oleh Uni Soviet.

Korea Selatan sendiri sebenarnya pernah mengalami masa industrialisasi di awal Abad ke-20, yakni pada periode sekitar 1910 hingga 1945, ketika Jepang kian agresif dalam memperluas pengaruhnya di Asia Timur.

Pemerintahan kolonial Jepang menciptakan layanan sipil profesional dan pembangunan efisien yang bekerja erat dengan bisnis swasta dan bank, untuk mencapai target ekonomi.

Bendera Korea Utara dan Korea Selatan berkibar berdampingan - AFP

Banyak industri tersebut dibangun di area utara, di wilayah sekitar perbatasan Korsel dan Korut saat ini. Sayangnya, itu adalah pembangunan eksploitatif, yang dirancang tidak lebih untuk menguntungkan Jepang semata.

Korea Utara Pernah Lebih Unggul 

Selain itu, pasca-pemisahan Semenanjung Korea pada 1945, Republik Rakyat Demokratik Korea (nama resmi Korut) mewarisi sebagian besar industri yang ditinggalkan oleh kolonial Jepang, termasuk 80 persen sumber pembangkit listrik. Hal itu membuat Pyongyang lebih berjaya selama hampir satu dekade dibandingkan Seoul. 

Di lain pihak, Republik Korea (nama lain Korsel) memiliki sebagian besar wilayah pertanian produktif, tetapi ini hampir tidak cukup untuk memberi makan populasi padat penduduk yang tumbuh di negara tersebut.

Masalah tidak hanya berhenti di situ, Korea Selatan kehilangan banyak pekerja terampil dan profesional ketika populasi besar penduduk Jepang angkat kaki, setelah kalah dalam Perang Dunia II.

Negeri Ginseng mendapat tambahan masalah ketika mau tidak mau terlibat perang saudara selama tiga tahun, dari 1950-1953, di mana menewaskan hampir 4 juta orang di seluruh Semenanjung Korea.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 dari 2 halaman

Melesat Sejak Pemerintahan Park Chung-hee

Keindahan Tarian Api Sambut Bulan Purnama di Korsel
Warga Korea Selatan membuat lingkaran api selama perayaan Bulan Purnama pertama tahun baru Imlek di Seoul (17/2). Permainan ini dipercaya dapat menyuburkan tanah dan menyingkirkannya hama sehingga memastikan hasil panen melimpah. (AFP Photo/Jung Yeon-je)

Lepas landas ekonomi Korea Selatan, percepatan industrialisasi, dan pertumbuhan ekonomi tinggi, dimulai pada awal 1960-an di bawah arahan pemerintah militer setempat.

Selama hampir tiga dekade pemerintahan militer, kondisi ekonomi Korea Selatan berubah cepat menuju kemakmuran meluas. Banyak pihak kerap menyebut momen tersebut sebagai "Keajaiban Han", mengacu pada Sungai Han yang mengalir melalui Seoul.

Keajaiban ekonomi Korea Selatan dimulai di bawah pemerintahan Jenderal Park Chung-hee, yang berkuasa sejak kudeta terhadap rezim otoriter Syngman Rhee pada Mei 1961.

Beberapa langkah diambil untuk membangun Korea Selatan, termasuk pengembangan rencana ekonomi lima tahun, pengalihan substitusi impor ke pengembangan industri berorientasi ekspor, dan kontrol negara atas kredit.

Rezim Park menciptakan Dewan Perencanaan Ekonomi (EPB) yang dikelola oleh para teknokrat untuk mengarahkan pertumbuhan ekonomi. Kepala EPB menjabat sebagai wakil perdana menteri, mengungguli semua anggota kabinet lainnya.

Selain itu, negara juga menasionalisasi semua bank komersial dan mengatur kembali sistem perbankan untuk memberikan kontrol atas kredit. Negara kemudian memberikan pinjaman berbunga rendah kepada pelaku bisnis lokal, sesuai dengan kebutuhan rencana ekonomi.

Kebanyakan sejarawan menganggap Rencana Pembangunan Lima Tahun Pertama sebagai titik lepas landas ekonomi Korea Selatan. Diluncurkan pada tahun 1962, ia menyerukan tingkat pertumbuhan ekonomi 7,1 persen untuk periode 1962-1966, dengan mendorong pengembangan industri ringan untuk ekspor.

Terlepas dari keraguan banyak penasihat Amerika bahwa itu tidak realistis, target tersebut dilampaui dengan tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata 8,9 persen, mendorong Korea Selatan dalam jalur menuju industrialisasi yang cepat.

Ekspor tumbuh 29 persen per tahun dan kapasitas manufaktur meningkat 15 persen per tahun.

Lanjutkan Membaca ↓