3 Anaknya Tewas di Suriah, Ini Kisah Wanita Inggris Menyesal Gabung ISIS

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 02 Apr 2019, 18:23 WIB
Ilustrasi wanita pengikut ISIS di Singapura. (AFP)

Liputan6.com, Damaskus - Perempuan pengantin ISIS asal Inggris, Shamima Begum (19) mengaku menyesal membesarkan anak-anak dalam 'kekhalifahan' yang mematikan - setelah mengubur tiga bayi hanya dalam lima bulan.

Berbicara untuk pertama kalinya sejak kematian sang bayi bernama Jarrah yang baru lahir, mantan simpatisan ISIS itu mengatakan awalnya dia dengan aneh percaya bahwa kelompok teror itu akan menjadi tempat yang aman untuk membesarkan keluarga, the Sun melaporkan, dikutip dari News.com.au, Selasa (2/4/2019).

Berbicara kepada surat kabar Inggris the Times dari kamp pengungsi Suriah Al Roj, Begum mengatakan: "Saya menyesal memiliki anak di 'kekhalifahan (ISIS)'."

"Saya berpikir itu akan menjadi tempat di mana saya dapat membesarkan keluarga dengan aman. Tapi itu bukan tempat untuk punya anak."

Setelah melarikan diri dari kantung pertahanan terakhir ISIS di Baghuz, Begum dipindahkan ke kamp penampungan yang dikuasai paramiliter Kurdi untuk keselamatannya sendiri, sepekan sebelum anak bayinya jatuh sakit.

Dia terbangun di tendanya pada 7 Maret dan menemukan Jarrah mengalami masalah pernapasan serius dan kulitnya membiru.

Keduanya dibawa dari kamp ke rumah sakit terdekat, di mana si jabang bayi diberikan infus dan oksigen. Malang, Jarrah meninggal beberapa jam kemudian.

Ibunya yang masih muda dilaporkan tinggal sendirian di tempat tidur kamar rumah sakit bersama jasad buah hatinya sampai subuh. Namun, ketika dia kembali ke kamp, ​​jasad bayinya dibawa pergi dan dikubur di luar periimeter di sekeliling pagar.

"Tidak ada seorang imam di sana, tetapi beberapa orang yang bekerja di luar gerbang, mereka berdoa untuknya," kata Begum.

 

Simak video pilihan berkut:

2 of 2

Anak Ketiga Tewas

Ilustrasi Anggota ISIS (AFP Photo)
Ilustrasi Anggota ISIS (AFP Photo)

Jarrah adalah anak ketiga Shamima Begum yang meninggal di Suriah. Putra pertamanya tutup usia pada November 2018 dan putri keduanya pada Januari 2019. Keduanya meninggal karena kekurangan gizi dan menderita sejumlah penyakit.

Salah satu penjaga kamp mengatakan kepada the Times, "dia tidak pernah meneteskan air mata" saat Jarrah dimakamkan tanpa upacara.

Meskipun masa lalunya kelam, warga London itu mengatakan dia sekarang menyesali semua yang telah dia lakukan dan memohon agar diizinkan kembali ke Inggris untuk memulai hidupnya kembali.

"Sejak saya meninggalkan Baghuz, saya sangat menyesali semua yang saya lakukan, dan saya merasa ingin kembali ke Inggris untuk kesempatan kedua untuk memulai hidup saya lagi," katanya.

"Saya dicuci otak. Saya datang ke sini memercayai semua yang telah saya ketahui, sementara hanya tahu sedikit tentang kebenaran agama saya."

Suami Begum, Yago Riedijk dari Arnhem, Belanda --yang bergabung dengan ISIS pada 2015-- sebelumnya menceritakan "mimpi buruk" mereka setelah anak bungsu mereka meninggal di kamp pengungsi Suriah.

Riedijk (27) saat ini ditahan di sebuah kamp yang dikelola Kurdi di Suriah, menggambarkan Begum sebagai "istri yang sempurna" dan mengatakan mereka patah hati atas kematian tersebut.

Dia berkata, "Saya dan dia, kami sangat mencintai mereka. Ini mimpi buruk."

"Itu hal terburuk yang bisa terjadi. Dia sendirian, patah hati, kehilangan tiga anak."

Menteri Dalam Negeri Inggris, Sajid Javid telah mencopot kewarganegaraan Shamima Begum karena kekhawatiran akan keselamatan publik dan dia sekarang tinggal di kamp pengungsi dekat perbatasan Irak. Masa depan perempuan muda itu tak menentu.

Kasusnya sekarang menjadi subjek dari dua banding yang menantang pencabutan kewarganegaraan yang diajukan menteri dalam negeri, dan perjuangan hukum atas statusnya diperkirakan akan berlangsung berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Lanjutkan Membaca ↓