Demo 40.000 Orang di Perbatasan Gaza Berbalas Peluru Israel, 3 Remaja Tewas

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 31 Mar 2019, 08:32 WIB
Diperbarui 31 Mar 2019, 09:16 WIB
Seorang remaja asal Palestina berusia 15 tahun tewas dalam bentrokan di jalur Gaza (AFP)

Liputan6.com, Gaza - Puluhan ribu warga Palestina telah berdemonstrasi di Gaza untuk menandai peringatan satu tahun dimulainya protes mingguan di perbatasan Jalur Gaza - Israel.

Demonstran melemparkan batu dan membakar ban, dengan pasukan Israel menggunakan gas air mata dan peluru tajam sebagai tanggapan, demikian seperti dikutip dari BBC, Minggu (31/3/2019).

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) memperkirakan jumlah pengunjuk rasa sekitar 40.000 dan beberapa ribu tentara Israel dikerahkan di sepanjang perbatasan.

Israel mengatakan alat peledak telah dilemparkan ke pagar perbatasan dan pasuka IDF telah menanggapi dengan "teknik pembubaran kerusuhan" dan peluru hidup.

Tiga pemrotes --semuanya remaja laki-laki-- tewas dalam puncak bentrokan pada Minggu 31 Maret 2019, dengan seorang tewas sebelumnya pada Sabtu 30 Maret, kata para pejabat Kementerian Kesehatan Gaza. Sementara 300 orang Palestina terluka.

Para pejabat kesehatan mengatakan seorang pria lain ditembak mati oleh pasukan Israel di dekat pagar semalam.

Hamas mengatakan akan berusaha menjaga jarak aman dari pagar perbatasan Gaza - Israel, ketika mediator Mesir dan PBB berusaha mencegah eskalasi lebih lanjut.

Protes mereda pada malam menjelang dini hari Minggu 31 Maret waktu lokal. Namun terbesit kekhawatiran di kalangan pejabat dan kelompok humaniter bahwa kekerasan akan kembali memuncak pada hari-hari mendatang.

 

Simak video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Satu Tahun Demonstrasi The Great March of Return

 

Aksi protes itu merupakan bagian dari perayaan satu tahun demo mingguan 'the Great March of Return' yang perdana pada 30 Maret 2018. Demonstrasi itu digelar rutin guna menuntut hak pengungsi Palestina untuk kembali ke rumah leluhur mereka di tempat yang sekarang diduduki Israel.

Pemerintah Israel menuduh Hamas menunggangi protes sebagai kedok untuk menyeberang ke wilayahnya dan melakukan serangan.

Israel kemudian mengerahkan tentara di sepanjang pagar perbatasan, yang katanya diperintahkan untuk menembak hanya ketika benar-benar diperlukan dan ketika ada ancaman yang akan terjadi.

Paling tidak 189 warga Palestina dan seorang tentara Israel tewas dalam rangkaian demo the Great March of Return antara Maret dan Desember 2018, kata tim penyelidik Dewan HAM PBB.

Data itu juga menyebut, 35 dari 189 warga Palestina yang tewas adalah anak-anak. Lima dari total korban tewas juga merupakan paramedis (3) dan jurnalis (2).

Penyelidikan menemukan alasan yang masuk akal untuk percaya bahwa penembak jitu Israel telah sengaja menembaki anak-anak, petugas medis dan wartawan.

Investigasi PBB mengatakan, tentara Israel mungkin telah melakukan kejahatan perang selama pawai protes. Kecuali dilakukan secara sah dalam hal pembelaan diri, sengaja menembak warga sipil yang tidak secara langsung berpartisipasi dalam aksi kekerasan atau mengancam nyawa pasukan perbatasan merupakan kejahatan perang.

Israel membantah tuduhan. Menteri luar negeri Israel mengatakan pihaknya menolak temuan penyelidik PBB.

"Temuan absurd Dewan Hak Asasi Manusia sekali lagi menghasilkan laporan yang memusuhi, membenci dan bias terhadap Israel," kata Menlu Israel, Yisrael Katz.

"Tidak ada yang bisa menyangkal Israel hak untuk membela diri dan kewajiban untuk melindungi warganya dan perbatasannya dari serangan kekerasan."

Rangkaian protes itu adalah ujian serius dari ketenangan yang rapuh antara Israel dan Hamas, faksi politik Palestina yang memerintah Jalur Gaza. Pekan lalu, kedua wilayah dilaporkan saling balas-membalas serangan udara. Sejumlah serangan udara Israel menargetkan pos-pos vital Hamas di Gaza City, sementara roket rakitan dari Gaza menghantam rumah warga di utara Tel Aviv -melukai satu keluarga di dalamnya.

Lanjutkan Membaca ↓