Jokowi: Bantu Rohingya hingga Perdamaian di Afghanistan, Indonesia Negara Netral

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 30 Mar 2019, 22:05 WIB
Diperbarui 30 Mar 2019, 22:05 WIB
Keakraban Jokowi dan Prabowo Usai Debat Kedua Pilpres
Perbesar
Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kanan) bersalaman usai debat kedua Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2). (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Peran penting Indonesia dalam upaya perdamaian dunia ditekankan oleh calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) dalam debat presiden keempat pada Sabtu, 30 Maret 2019.

Menurut Jokowi, eksistensi RI di dunia internasional terjadi lantaran Indonesia adalah negara yang netral. Sejumlah contoh ia paparkan dalam debat tersebut.

Di antaranya keterlibatan Indonesia dalam perdamaian di Myanmar dan Afghanistan.

"Indonesia, kita diberi kesempatan dalam upaya perdamaian dunia di negara lain. Di Rakhine State, kita diminta oleh PBB untuk mengupayakan proses kembalinya pengungsi Rohingya ke Myanmar," kata Jokowi.

"Di Afghanistan, Indonesia sebagai penengah dalam konflik yang terjadi di negara tersebut. Kita tidak ada kepentingan apapun, baik di Rakhine dan Afghanistan," tambah Jokowi.

Namun, menurut calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto, diplomasi tak hanya bisa dengan menjadi mediator.

Ada pandangan lain dari Ketua Umum Partai Gerindra tersebut. Menurut Prabowo ujung dari diplomasi itu harus berlandaskan pada kepentingan nasional.

"Jalan-jalan perundingan, pertukaran diplomasi memang dilakukan, tetapi diplomasi tidak bisa hanya dengan menjadi mediator. Itu penting. Diplomasi itu harus melupakan bagian dari upaya mempertahankan kepentingan internasional inti sebuah negara," tegasnya.

"Untuk itu, diplomasi hanya bisa di-back up oleh kekuatan. Kalau negara kita tidak kuat, negara lain hanya senyum saja ke kita. Ini memang tugasnya diplomat, diplomat dibayar untuk itu. Tapi kalau diplomasi hanya senyum-senyum ... ya jadi nice guy saja," pungkas Prabowo.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

2 dari 2 halaman

Tema Debat Keempat

Peluk Hangat Jokowi dan Prabowo Awali Debat Kedua Capres
Perbesar
Capres nomor urut 01 Joko Widodo atau Jokowi dalam debat kedua Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2). KPU memenuhi permintaan publik dengan tidak membocorkan pertanyaan sebelum debat. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Debat keempat Pilpres 2019 hanya diikuti capres Jokowi dan Prabowo Subianto. Keduanya beradu gagasan terkait tema ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan, serta hubungan internasional.

Secara umum, mekanisme dan aturan debat keempat ini hampir sama dengan sebelumnya.

"Untuk debat keempat, format dan mekanisme sama dengan debat ketiga. Hanya untuk sesi empat dan lima, sesi debat itu diatur penggunakaan waktunya," ujar Komisioner KPU, Wahyu Setiawan di lokasi, Jakarta.

Pada sesi empat dan lima, moderator memberikan kesempatan kedua kandidat untuk saling bertanya dan menjawab. Setiap pertanyaan diberikan waktu selama delapan menit. Dari waktu tersebut dibagi secara adil kepada Jokowi dan Prabowo masing-masing empat menit.

"Sehingga dengan pengaturan waktu ini, kedua calon mendapat alokasi waktu yang sama, dan prinsip keadilan dapat diterapkan dalam debat keempat ini," tuturnya.

Sesi pertama debat akan diisi dengan pemaparan visi, misi, serta program dari masing-masing kandidat. Kemudian di sesi dua dan tiga dilakukan pendalaman visi, misi, dan program melalui beberapa pertanyaan yang diajukan moderator.

Sementara sesi keenam diisi dengan penyampaian pernyataan penutup oleh masing-masing kandidat. 

Lanjutkan Membaca ↓