Abaikan Sentimen Barat, Prancis Terima Investasi Rp 481 Triliun dari China

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 26 Mar 2019, 16:34 WIB
Diperbarui 26 Mar 2019, 16:34 WIB
Presiden China Xin Jinping (kedua dari kiri) dan Presiden Prancis Emmanuel Macron (kedua dari kanan) bertemu di Paris (AFP/Jean-Paul Pellisier)
Perbesar
Presiden China Xin Jinping (kedua dari kiri) dan Presiden Prancis Emmanuel Macron (kedua dari kanan) bertemu di Paris (AFP/Jean-Paul Pellisier)

Liputan6.com, Paris - Safari kenegaraan Presiden China Xi Jinping berakhir di Prancis pada Senin 25 Maret, di mana menghasilkan kontrak investasi bernilai fantastis, meski menuai kritik dari rekan-rekan negara Barat.

Bersama dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, Xi meneken 15 kesepakatan ekonomi senilai 30 miliar euro (setara Rp 481 triliun), termasuk di dalamnya berupa proyak energi terbarukan, pelayaran, dan perbankan.

Dikutip dari Abc.net.au pada Selasa (26/3/2019), China juga sepakat untuk membeli 300 pesawat Airbus, menyusul kebijakan penangguhan seluruh operasional Boeing 737 MAX pasca-jatuhnya Ethiopian Airlines ET 302.

Kesepakatan ekonomi skala besar itu berkebalikan dengan apa yang dikatakan oleh Macron pada pertemuan puncak Uni Eropa di Brussels, Jumat lalu, yang menyebut izin perusahaan China untuk membeli infrastruktur Eropa sebagai "kesalahan strategis".

Namun kini, Macron mengetwit bahwa Prancis dan China bukan saling bersaing, tetapi merupakan "mitra jangka panjang".

Komentar tersebut membuat Uni Eropa berada di persimpangan jalan, terlebih dengan keputusan pemerintah Italia sebelumnya, yang memilih bergabung dengan inisiatif Jalur Sutera Baru besutan China.

"Kami bisa menjadi mitra jangka panjang dalam kerja sama keamanan, pendidikan, infrastruktur, dan pengembangan lainnya," ujar Marcron.

Meski begitu, Macron menyatakan dengan tegas bahwa Prancis belum berminat untuk bergabung dalam Belt and Road Initiatives, dan mengatakan hal itu tidak memenuhi norma internasional.

Macron juga menambahkan bahwa setiap kerjasama terkait proyek internasional paing ambisius itu, perlu dilakukan secara seimbang dua arah.

Kedua pemimpin tidak menggelar konferensi pers setelah penandatanganan kesepakatan itu, tetapi mengeluarkan pesan bersama yang mengatakan: "Eropa harus bersatu dan memiliki pesan yang koheren".

 

Simak video pilihan berikut: 

2 dari 2 halaman

Italia Ambil Bagian dari Inisiatif Jalur Sutera Baru

Presiden Chna Xi Jinping (berjabat tangan dengan Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte (AFP)
Perbesar
Presiden Chna Xi Jinping (berjabat tangan dengan Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte (AFP)

Sementara itu, pemerintah Italia meyatakan ikut ambil peran sentral dalam inisiatif Jalur Sutera Baru untuk perdagangan global, meskipun hal tersebut "membuat gerah" Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE).

Pemerintah populis Italia menyatakan siap mendukung keikutsertaannya dalam proyek Jalur Sutera Baru senilai US$ 1 triliun besutan China, di mana akan menjadikannya sebagai proyek perdagangan global paling terpadu.

Dikutip dari The Guardian, proyek tersebut akan menghubungkan perniagaan antara Asia, Timur Tengah, Afrika dan Eropa melalui jaringan pelabuhan, kereta api, terowongan dan infrastruktur lainnya.

Uni Eropa khawatir perjanjian Italia dan China akan memicu perpecahan dengan negara-negara anggota lainnya, yang tengah mewaspadai tujuan ekspansionis Beijing.

Manlio Di Stefano, seorang wakil menteri di kementerian luar negeri Italia dan anggota M5S, menepis kekhawatiran di atas, mengatakan bahwa kesepakatan itu berkenaan tentang Italia yang hendak "menciptakan peluangnya sendiri".

"Ini adalah inisiatif kolaboratif yang akan memungkinkan Italia untuk mengekspor lebih banyak, dan berpartisipasi dalam infrastruktur Jalur Sutera Baru," katanya.

"Ini pasti akan menjadi hal yang baik bagi perekonomian Italia. Banyak negara Uni Eropa telah memiliki perjanjian komersial besar dengan China, jadi mengapa harus khawatir?" lanjut Di Stefano.

Lanjutkan Membaca ↓