Ini 7 Cara Mengatasi Perubahan Iklim, Merujuk pada UNEP

Oleh Afra Augesti pada 24 Mar 2019, 18:00 WIB
Diperbarui 25 Sep 2019, 15:18 WIB
ilustrasi pemanasan global (AP/J David)

Liputan6.com, New York - Banyak orang di seluruh dunia, termasuk anak-anak sekolah, menjalankan aksi damai yang menuntut agar pemerintah mereka, pebisnis dan investor, mengambil sikap tegas terhadap perubahan iklim.

Merespons perubahan iklim adalah kunci untuk menuju sustainable (keberlanjutan). Menurut United Nations Environment Programme atau UNEP, sikap ini merupakan bagian dari upaya yang disepakati secara global, sejalan dengan Paris Climate Agreement (Perjanjian Iklim Paris) dan Sustainable Development Goals (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan).

“Meskipun skala dan langkah tindakan saat ini tidak cukup untuk mencapai sustainable, masih ada waktu bagi kita untuk secara radikal mengatur cara produksi, konsumsi, dan investasi,” kata Niklas Hagelberg, spesialis iklim di UN Environment.

Inilah tujuh 'area' yang harus difokuskan oleh seluruh orang di dunia, untuk menangani perubahan iklim, merujuk pada pernyataan UNEP yang dikutip pada Minggu (24/3/2019).

 

Saksikaan video pilihan berikut ini:

2 of 8

1. Pertanian dan Makanan

foto ilustrasi penggunaan drone untuk pertanian gandum barley di Inggris - AP
foto ilustrasi penggunaan drone untuk pertanian gandum barley di Inggris - AP

Menurut Emissions Gap Report 2018 dari UN Environment, sistem pangan --dari produksi hingga konsumsi-- berpotensi mengurangi hingga 6,7 gigaton CO2. Pangan merupakan urutan kedua setelah sektor energi.

"Kita membutuhkan transformasi pangan global dalam 12 tahun ke depan, di mana limbah makanan dikurangi, serta menjalankan diet dan pola hidup sehat melalui penurunan asupan protein hewani," menurut badan PBB ini.

UNEP menambahkan, penduduk dunia juga perlu memberi insentif pada pertanian agar lebih tanggap terhadap iklim dan berkelanjutan, serta mengakhiri situasi pangan yang tidak adil saat ini --di mana lebih dari 820 juta orang kekurangan gizi.

3 of 8

2. Pembanguan Gedung dan Kota

Ilustrasi perubahan iklim
Ilustrasi perubahan iklim (AFP)

Sekitar 70 persen penggunaan energi, bangunan dan konstruksi menyumbang 39 persen dari emisi karbon dioksida. Infrastruktur perkotaan dalam jumlah besar akan dibangun dalam 15 tahun mendatang, seiring percepatan migrasi desa ke kota (atau sebaliknya).

UNEP menuturkan, ada peluang besar untuk memperbaiki bangunan yang didirikan, meningkatkan standar bangunan, dan memikirkan kembali perencanaan kota seperti memberikan insentif untuk mini-grid solutions atau solusi jaringan mini.

"Kita juga perlu mengatasi emisi metana, nitro oksida, dan CF11 yang diinduksi manusia, dan menemukan solusi yang lebih cerdas untuk pendinginan, pemanasan, dan pengelolaan limbah," UNEP menjelaskan.

4 of 8

3. Pendidikan

Ilustrasi Sekolah dan Anak (iStockphoto)
Sebenarnya, seberapa efektif kebijakan Sekolah Ramah Anak untuk Mengurangi Angka Kekerasan yang Terjadi pada si Kecil (iStockphoto)

Kata UNEP, menyekolahkan perempuan hingga tingkat tertinggi adalah sesuatu yang penting, sebab wanita yang berpendidikan akan memprogram masa suburnya untuk memiliki anak dalam jumlah sedikit, lebih sehat, meningkatkan akses global, dan menjalankan keluarga berencana.

"Kita perlu fokus pada inklusi ekonomi, sosial dan politik agar tidak merugikan siapa pun. Pendidikan, keterampilan, dan pembentukan kesadaran pada kaum Hawa adalah unsur-unsur penting untuk inklusi yang bermakna," papar UNEP.

5 of 8

4. Energi

10  Bukti Keganasan Pemanasan Global
Ilustrasi pemanasan global. (AFP)

"Kita sudah harus memulai berinvestasi dalam energi terbarukan dan menghentikan pengembangan pembangkit listrik berbahan bakar batubara. Kita perlu mengarahkan subsidi bahan bakar fosil untuk mendorong investasi skala besar dan penciptaan lapangan kerja dalam energi terbarukan," menurut UNEP.

Pada saat yang sama, masyarakat global membutuhkan standar efisiensi energi untuk peralatan listrik (penerangan, mesin listrik, transformer) dan transisi menuju peralatan listrik berlabel efisiensi.

6 of 8

5. Pembiayaan Energi

Pabrik dan Industri Kertas
Ilustrasi Foto Pabrik dan Industri Kertas (iStockphoto)

Bantu negara-negara miskin mengurangi dan beradaptasi dengan perubahan iklim. Menurut Emissions Gap Report 2018, energi terbarukan dan proyek efisiensi energi di negara-negara berkembang dapat secara signifikan mengurangi emisi pada tahun 2020, jika negara-negara industri mau untuk memobilisasi pendanaan iklim senilai US$ 100 miliar per tahun.

7 of 8

6. Hutan dan Penggunaan Lahan

Ilustrasi hutan
Ilustrasi hutan. Sumber foto: unsplash.com/Julien R.

Melindungi dan memulihkan hutan tropis. Tanam satu triliun pohon untuk mengurangi karbon dioksida, menyelamatkan keanekaragaman hayati, meningkatkan ketahanan pangan, membuka mata pencaharian dan menolong ekonomi pedesaan.

Untuk melakukan hal ini, kita perlu meningkatkan investasi yang mengurangi separuh deforestasi hutan tropis pada 2020, menghentikan deforestasi pada tahun 2030 secara global, dan mengumpulkan sekitar US$ 50 miliar per tahun untuk mencapai target 350 juta hektar hutan dan restorasi bentang alam pada 2030 --sejalan dengan Bonn Challenge.

Sejauh ini, 168 juta hektar restorasi telah dijanjikan oleh 47 negara. "Kita perlu menanam lebih banyak pohon di tanah pertanian dan padang rumput, juga pemulihan lahan gambut," pungkas UNEP.

8 of 8

7. Transportasi

Ilustrasi kemacetan di India
Ilustrasi kemacetan di India (iStock)

Kendaraan bermotor bertanggung jawab atas sekitar seperempat dari semua emisi CO2 (sektor energi), dan akan meningkat menjadi sepertiga pada tahun 2050, tumbuh lebih cepat daripada sektor lain mana pun.

Dengan kebijakan dan insentif yang tepat, pengurangan emisi yang signifikan dapat dicapai. "Agar hal ini terjadi, kita perlu menerapkan standar efisiensi kendaraan, insentif untuk transportasi tanpa emisi dan berinvestasi dalam mobilitas tidak bermotor," tegas UNEP.

Misalnya, seperti pemerintah India yang memprioritaskan kebijakan yang membantu mengalihkan angkutan barang dari jalan ke kereta.

Lanjutkan Membaca ↓