Saat Karpet Jadi Saksi Bisu Penembakan Masjid Selandia Baru

Oleh Tanti Yulianingsih pada 23 Mar 2019, 19:40 WIB
Masjid Al Noor Selandia Baru dijaga ketat kepolisian setempat (AP Photo)

Liputan6.com, Christchurch - Masjid Al-Noor di Christchurch, salah satu lokasi penembakan di Selandia Baru untuk pertama kalinya dibuka sejak tragedi sepekan yang lalu. Para jemaah telah kembali ke rumah ibadah tersebut.

Bangunan ibadah itu sebelumnya ditutup agar polisi dapat melakukan penyelidikan di lokasi penembakan Selandia Baru. Hari Sabtu 23 Maret 2019 ini, kelompok kecil orang yang hendak beribadah diizinkan untuk menggunakannya kembali.

Dua masjid yang menjadi sasaran penembakan pada 15 Maret lalu, Masjid Al Noor dan Linwood City Mosque, sejatinya dijadwalkan kembali digunakan untuk salat Jumat pada 22 Maret. Kendati demikian batal dibuka tepat waktu karena masih dilakukan penyelidikan.

Ketika Masjid Al Noor akhirnya dibuka kembali, sekitar 3.000 orang berjalan melalui Christchurch pada hari Sabtu untuk 'pawai cinta' yang dimaksudkan untuk menghormati para korban.

Banyak yang berjalan dalam diam dan beberapa membawa plakat yang menyerukan perdamaian dan menentang rasisme.

"Kami merasa seperti kebencian telah membawa banyak kemuraman. Cinta adalah obat terkuat untuk menerangi kota dari kemuraman itu," kata Manaia Butler, seorang siswa berusia 16 tahun yang membantu mengatur pawai seperti dikutip dari BBC, Sabtu (23/3/2019).

Aden Diriye, yang kehilangan putra berusia 3 tahun dalam serangan itu, kembali ke masjid Al-Noor pada hari Sabtu. "Saya sangat senang," katanya setelah berdoa. "Aku kembali begitu sudah diperbaikii,, untuk berdoa."

Brenton Tarrant dari Australia, yang memproklamirkan dirinya seorang supremasi kulit putih berusia 28 tahun, telah didakwa satu pembunuhan terkait penembakan di masjid Selandia Baru. Ia diperkirakan akan menghadapi tuntutan lebih lanjut.

Reformasi Hukum Kepemilikan Senjata

Sementara itu, Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern pada hari Kamis mengumumkan larangan semua jenis senjata semi-otomatis pascapenembakan di masjid Selandia Baru.

Dia memperkirakan undang-undang baru tersebut akan berlaku pada 11 April.

"Sejarah kita berubah selamanya. Sekarang, hukum kita juga," tutur PM Ardern.

"Enam hari setelah serangan ini, kami mengumumkan larangan terhadap semua semi-otomatis gaya militer (MSSA) dan senapan serbu di Selandia Baru," kata Ardern dalam konferensi pers.

"Bagian terkait yang digunakan untuk mengubah senjata ini menjadi MSSA juga dilarang, bersama dengan semua senjata berkapasitas tinggi."

Amnesti telah diberlakukan sehingga pemilik senjata yang terkena dampak dapat menyerahkannya, dan skema pembelian diterapkan.

Pembelian kembali dapat menelan biaya hingga 200 juta dolar Selandia Baru, tetapi Ardern mengatakan "itu adalah harga yang harus kita bayar untuk memastikan keamanan masyarakat kita".

Ardern juga mengumumkan bahwa Layanan Peringatan Nasional untuk para korban sedang direncanakan pekan depan.

Sebanyak 50 orang tewas dalam penembakan di masjid Selandia Baru pada 15 Maret.

 

 

Saksikan juga video berikut ini:

2 of 2

Tak Ada Lagi Lubang Peluru...

Salat Jumat di Selandia Baru
Umat muslim menunaikan salat Jumat di Hagley Park, Kota Christchurch, Selandia Baru, Jumat (22/3). Ibadah itu digelar satu minggu selepas serangan mengerikan terhadap dua masjid di kota Christchurch yang menewaskan 50 orang. (AP/Mark Baker)

Sabtu ini salah satu masjid lokasi penembakan di Selandia Baru, Al Noor Mosque akhirnya dibuka kembali untuk publik.

Tak ada lagi lubang peluru yang jadi saksi penembakan di masjid Selandia baru itu. Dindingnya pun dicat ulang setelah investigasi di tempat kejadian perkara (TKP) selesai.

Meskipun kurangnya karpet di lantai seolah menjadi pengingat tragedi yang telah terjadi di dalamnya.

Kini Masjid Al-Noor, tempat mayoritas korban tewas dalam serangan masjid di Christchurch, dikembalikan ke komunitas Muslim kota.

Sekitar tengah hari waktu setempat, sekelompok kecil jamaah diizinkan kembali ke masjid tersebut, sementara polisi bersenjata berpatroli di lokasi.

"Kami mengizinkan 15 orang pada satu waktu, hanya untuk melihat normalitasnya," ujar Saiyad Hassen, seorang sukarelawan di masjid, mengatakan kepada kantor berita AFP. Kendati demikian dia tidak mengatakan kapan masjid akan sepenuhnya dibuka kembali.

Para jemaah beribadah di atas sisa karpet berwarna abu-abu yang menempel di lantai.

"Ini adalah tempat di mana kita berdoa, di mana kita bertemu, kita akan kembali," ungkap Ashif Shaikh, yang berada di masjid pada saat penembakan.

Polisi mengatakan masjid Linwood di dekatnya, yang merupakan yang kedua diserang, juga telah dibuka kembali. Kendati demikian belum ada laporan lebih lanjut mengenai bangunan tersebut.

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by