Salat Jumat di Christchurch, Saat Kebencian Menjelma Jadi Kasih...

Oleh Siti Khotimah pada 22 Mar 2019, 11:42 WIB
Diperbarui 24 Mar 2019, 11:13 WIB
Salat Jumat di Selandia Baru

Liputan6.com, Christchurch - Ribuan orang menghadiri salat Jumat pertama pasca-terjadinya insiden penembakan dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru, yang menewaskan 50 orang pada 15 Maret lalu.

Ibadah dilaksanakan di Taman Hagley, tepat di seberang jalan Deans Avenue, sekitar 100 meter dari Masjid Al Noor.

Jumlah hadirin bukan hanya jemaah salat, namun juga warga yang bersolidaritas dengan komunitas muslim di Negeri Kiwi.

Salat Jumat dipimpin Imam Masjid Al Noor, Gamal Fouda, yang selamat dari kejadian pekan lalu. Angin sepoi-sepoi, membawa lantunan ayat suci melintasi taman. 

Dalam ceramahnya, ia membandingkan kejadian hari ini dengan tragedi nahas seminggu lalu.

"Jumat lalu, saya berdiri di masjid ini, di belakang kami, dan melihat kebencian dan kemarahan dari mata seorang teroris, yang membunuh 50 orang tak bersalah, melukai 42 korban dan menghancurkan hati jutaan orang di seluruh dunia. Hari ini, dari tempat yang sama, saya melihat keluar dan menyaksikan cinta dan kasih sayang," kata Fouda, sebagaimana dikutip dari Arab News pada Jumat (22/3/2019).

"Teroris berusaha memisahkan kita dengan melakukan tindakan kejahatan, tetapi Selandia Baru tidak bisa dipatahkan," lanjutnya, mengapresiasi kedatangan warga yang bersolidaritas.

Imam salat Jumat juga mengingatkan tentang bahayanya ideologi ekstrem yang memberikan stereotip negatif terhadap umat Muslim, yang mampu membahayakan manusia secara global.

"Islamofobia membunuh. Islamofobia itu nyata. Ini adalah kampanye yang ditargetkan untuk memengaruhi orang agar tidak memanusiakan dan menakuti umat Muslim secara tidak rasional," kata Foudi.

Sebagai Contoh Dunia

Umat muslim menunaikan salat Jumat di Hagley Park, Kota Christchurch, Selandia Baru, Jumat (22/3). Salat Jumat digelar di Taman Hagley yang terletak di seberang Masjid Al Noor yang menjadi salah satu lokasi insiden teror pada 15 Maret lalu (AP/Mark Baker)

Dalam ceramah, sang imam menyerukan kepada pemimpin di dunia untuk mengakhiri tindakan teror dan kebencian. Ia mendorong agar dunia mencontoh Selandia Baru dalam menghadapi ekstremisme sayap kanan.

"Dunia dapat melihat kita sebuah contoh cinta dan persatuan. Kita patah hati tetapi tidak "patah" (bercerai). Kita hidup. Kita bersama. Kita bertekad untuk tidak membiarkan siapa pun memecah belah kita."

Dalam kesempatan yang sama, Fouda mengucapkan terima kasih kepada publik, polisi, serta Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern.

"Terima kasih atas air mata Anda. Terima kasih atas tarian haka Anda. Terima kasih untuk bunga dari Anda. Terima kasih atas cinta dan kasih sayang Anda. Kepada Perdana Menteri kami, terima kasih. Terima kasih atas kepemimpinan Anda. Itu telah menjadi pelajaran bagi para pemimpin dunia. Terima kasih telah menghormati kami dengan kerudung itu," kata Imam Fouda.

Pidato sang imam kemudian disambut gemuruh tepuk tangan dari para pengunjung yang hadir.

 

Simak pula video pilihan berikut:

2 of 2

Meski Tak Bisa Berjalan, Saya Harus Berada di Sini

Salat Jumat di Selandia Baru
Umat muslim melaksanakan salat Jumat di Hagley Park, Kota Christchurch, Selandia Baru, Jumat (22/3). Ibadah itu digelar satu minggu selepas serangan mengerikan terhadap dua masjid di kota Christchurch yang menewaskan 50 orang. (AP/Mark Baker)

Seorang korban luka akibat penembakan masjid di Selandia Baru, mengatakan bahwa ia berkeinginan kuat untuk hadir dalam salat Jumat, terlepas dari keadaan fisiknya saat ini.

Mustafa Boztas, pria dari Turki, menghadiri acara itu dengan kursi roda. Pekan lalu dia ditembak di halaman Masjid Al Noor.

"Bahkan jika aku tidak bisa berjalan, aku ingin tetap di sini. Benar saya tidak bisa berjalan tetapi saya berhasil berada di sini," kata Boztas.

Ia percaya bahwa serangan teroris akan membuat komunitas Muslim lebih kuat dari sebelumnya.

"Kita harus berdiri lagi dan tetap kuat," kata Boztas.

Lanjutkan Membaca ↓