Komentar Presiden Turki soal Teror Selandia Baru Bikin Australia Marah

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 20 Mar 2019, 14:02 WIB
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (AP/Yasin Bulbul)

Liputan6.com, Jakarta - Perdana Menteri Australia, Scott Morrison bereaksi keras terhadap komentar Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan yang mengemukakan komentar negatif seputar teror penembakan di Christchurch, Selandia Baru.

Penembakan di Christchurch, yang menargetkan dua masjid lokal dan menewaskan 50 orang, dilakukan oleh seorang pelaku warga negara Australia, Brenton Tarrant yang mengklaim sebagai pendukung "supremasi kulit putih."

Tarrant telah ditahan dan didakwa dengan pasal pembunuhan pada 16 Maret dan akan dijerat dengan banyak tuntutan lain dalam persidangan lanjutan pada April mendatang.

Menyikapi situasi di Christchurch, Presiden Erdogan pada Senin 18 Maret mengatakan dalam sebuah kampanye pemilu di Provinsi Canakkale bahwa teror tersebut merupakan "serangan terhadap Turki dan Islam."

Ia kemudian mengatakan bahwa "para orang Australia dan Selandia Baru yang anti-Islam akan mengalami nasib yang sama seperti pendahulu mereka dalam pertempuran berdarah Gallipoli dalam Perang Dunia I."

Erdogan merujuk pada Kampanye Gallipoli, pertempuran yang terjadi di Gallipoli dari April 1915 sampai Desember 1915 selama Perang Dunia I. Operasi gabungan Britania Raya dan Anzacs (Koalisi Militer Australia-Selandia Baru pada Perang Dunia) serta Prancis, dilaksanakan untuk merebut ibukota Kesultanan Ottoman, Istanbul dan menyediakan rute laut yang aman untuk perdagangan militer dan agrikultur dengan Rusia.

Koalisi Britania kalah dari Ottoman, dengan kedua belah pihak menderita korban jiwa yang besar.

Menanggapi, PM Morrison mengecam komentar Erdogan, menyebutnya "sangat ofensif ... dan sangat ceroboh dalam kondisi yang sangat sensitif ini," demikian seperti dikutip dari The Guardian, Rabu (20/3/2019).

Ia menambahkan bahwa Erdogan telah "menghina memori Anzacs" dan "melanggar janji yang terukir di batu di Gallipoli" oleh pendiri Turki modern, Mustafa Kemal Atatürk.

Itu merujuk pada sebuah prasasti perdamaian di Anzac Cove di Gallipoli, yang dikaitkan dengan Ataturk. Monumen itu bertuliskan bahwa tentara yang dikubur di sana "terbaring di tanah negara sahabat" dan "setelah kehilangan nyawa di tanah ini, mereka telah menjadi putra kami juga."

Morrison menyerukan agar komentar Erdogan menarik kembali ucapannya dan memperingatkan "semua opsi ada di meja" untuk memaksanya melakukan hal itu, meskipun niatnya adalah untuk "menurunkan perang" kata-kata.

Ia mencatat bahwa pemerintah Australia dan Selandia Baru telah mencela "terorisme sayap kanan ekstremis" dan menawarkan dukungan kepada komunitas Muslim mereka setelah serangan Christchurch.

"Tanggung jawab dalam situasi ini, dari semua pemimpin, adalah untuk menurunkan suhu, dan saya tidak berusaha untuk meningkatkan itu dalam respons yang saya berikan hari ini," katanya.

Morrison juga dilaporkan telah memanggill Duta Besar Turki untuk Australia guna menghadap dan memberikan keterangan atas komentar Presiden Erdogan.

Sementara itu, dalam kesempatan terpisah, Deputi Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Winston Peters mengatakan bahwa komentar Erdogan mencerminkan "orang yang tidak memahami konteks" dari teror di Christchurch, ujarnya di Jakarta, Rabu 20 Maret 2019.

Peters juga telah mengatakan bahwa aksi pelaku "tidak mencerminkan bangsa Selandia Baru."

Erdogan telah menerima teguran keras dari Selandia Baru atas komentarnya dan karena menggunakan video streaming yang mengerikan yang direkam oleh Brenton Tarrant saat melakukan aksi teror masjid Christchurch sebagai pendukung kampanye pemilu.

Partai oposisi utama Turki juga telah mengkritik Erdogan karena menunjukkan klip "hanya demi memenangkan tiga atau lima suara" pada pemilihan.

 

Simak video pilihan berikut:

2 of 2

Khawatir Komentar Erdogan Menyulut Aksi Balas Dendam

Pemakaman jenazah korban penembakan masjid di Christchurch, Selandia Baru (AFP Photo / Anthony Wallace)
Pemakaman jenazah korban penembakan masjid di Christchurch, Selandia Baru (AFP Photo / Anthony Wallace)

Komisioner Polisi Selandia Baru, Mike Bush, mengatakan kepada wartawan di Christchurch sebelumnya bahwa ia mengetahui komentar yang dibuat oleh Erdogan menyalahkan Selandia Baru atas serangan anti-Muslim dan "waspada" terhadap risiko balas dendam.

"Kami berhati-hati untuk waspada terhadap semua jenis percakapan dan akan menginformasikan kewaspadaan itu kepada seluruh aparat kami," kata Bush.

"Apa yang bisa saya katakan saat ini yang paling positif adalah hanya ada satu penyerang. Fokus investigasi adalah untuk mengetahui apakah ada orang lain yang terlibat dalam mendukung atau dengan cara lain dan kami masih melakukan bagian dari penyelidikan."

Mike Bush telah mengatakan bahwa "Tersangka adalah satu-satunya orang yang dituduh melakukan penembakan," jelasnya yang kemudian menambahkan bahwa hal tersebut masih belum konklusif.

Senada, Deputi PM Peters mengatakan, "Yang saya lihat, dia (Brenton Tarrant) melakukannya sendiri ... tapi kami akan mencari tahu apakah ada orang lain," ujarnya di Jakarta.

"Tidak menutup kemungkinan ada orang-orang yang ikut berbagi perilakunya (Brenton Tarrant) yang tidak berperasaan, idiot, dan pengecut. Dan orang-orang seperti itu mungkin diterma di seluruh dunia, namun tidak di Selandia Baru," lanjut Peters.

Lanjutkan Membaca ↓