Wapres JK Ajak 18 Negara Bersinergi Demi Perdamaian Indo-Pasifik

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 20 Mar 2019, 11:17 WIB
Diperbarui 20 Mar 2019, 11:17 WIB
Wakil Presiden RI Jusuf Kalla membuka dialog tingkat tinggi Indo Pasifik di Jakarta, Rabu 20 Maret 2019 (kredit: Kemlu RI)
Perbesar
Wakil Presiden RI Jusuf Kalla membuka dialog tingkat tinggi Indo Pasifik di Jakarta, Rabu 20 Maret 2019 (kredit: Kemlu RI)

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Presiden RI Jusuf Kalla membuka dialog tingkat tinggi Indo-Pasifik di Jakarta, Rabu 20 Maret 2019. Perhelatan bernama High-Level Dialogue on Indo-Pacific Cooperation (HLD-IPC) itu dihadiri pejabat tinggi setingkat menteri, wakil menteri, atau direktur jenderal dari 18 negara kunci di kawasan Indo-Pasifik.

"Pertemuan ini menekankan pentingnya untuk menjaga kawasan Indo-Pasifik yang damai, stabil, dan berkelanjutan secara ekonomi," kata Wapres JK dalam pidato pembukaannya.

Sebagai sebuah kawasan, Indo-Pasifik mengalami sejumlah perubahan lanskap geo-politik dan geo-ekonomi dalam beeberapa waktu terakhir, kata Wapres.

"Belum lagi masalah-masalah lain seperti persengkataan maritim dan tanah, peredaran narkotika, penyelundupan manusia, perompakan, kekerasan ekstremisme dan terorisme, kejahatan siber dan berbagai kejahatan lintas negara lainnya," tambahnya.

"Oleh karenanya, kita perlu bekerjasama mengatasi masalah itu untuk menjamin perdamaian dan kesejahteraan yang berkelanjutan," lanjut JK.

JK menekankan strategi yang bisa dilakukan bersama oleh negara-negara yang memiliki kepentingan di Indo-Pasifik, seperti "memperkuat kerja sama maritim dan meningkatkan konektivitas yang menguntungkan bagi semua."

"Indo-Pasifik yang terkoneksi dengan baik juga harus membuka jalan bagi berkembangnya aspek-aspek kerja sama baru."

Bagi Indonesia, kata JK, kerja sama Indo-Pasifik haruslah berdasarkan pada inklusivitas, transparansi, mempromosikan kerja sama konkret, membiasakan habit of dialog, dan menghargai hukum internasional.

Peran ASEAN dalam Arsitektur Indo-Pasifik

Wapres JK juga menekankan pentingnya peran ASEAN dalam perkembangan arsitektur kawasan Indo-Pasifik.

"ASEAN mendorong konsep arsitektur Indo-Pasifik yang bukan untuk menggeser infrastruktur kawasan yang telah ada, namun justru memperkuat dan menambah nilai dari mekanisme regional tersebut."

Jusuf Kalla juga tak ingin sejumlah negara yang telah mengajukan konsep arsitektur kawasan Indo-Pasifik sesuai versi-nya masing-masing untuk 'mencampur-adukkan atau membenturkan gagasan.'

"Yang kita butuhkan adalah sinergitas bersama untuk mencapai perdamaian, stabilitas dan kesejahteraan ekonomi."

"Oleh karenanya, Indonesia memandang ASEAN dan negara lain yang hadir dalam pertemuan tingkat tinggi ini sebagai partner penting bagi kerjasama Indo-Pasifik," lanjutnya.

 

Simak video pilihan berikut:

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

AS, China, Korea Selatan dan Para Negara yang Hadir

Delegasi 18 negara dalam dialog tingkat tinggi Indo Pasifik di Jakarta, Rabu 20 Maret 2019 (kredit: Kemlu RI)
Perbesar
Delegasi 18 negara dalam dialog tingkat tinggi Indo Pasifik di Jakarta, Rabu 20 Maret 2019 (kredit: Kemlu RI)

Beberapa negara mengirimkan Menteri Luar Negerinya untuk hadiri pertemuan tersebut, antara lain tiga Menteri Luar Negeri dari: Australia, Brunei Darussalam, Selandia Baru. ​

Sedangkan 8 negara diwakili oleh pejabat pada tingkat Wakil Menteri (China, India, Jepang, Korea Selatan, Laos, Malaysia, Singapura, Vietnam), dan 4 negara diwakili oleh pejabat level Eselon I (Kamboja, Myanmar, Thailand, Amerika Serikat), dan 2 negara diwakili oleh pejabat level Permanent Representative to the ASEAN (Rusia dan Filipina)​​.

HLD-IPC diadakan untuk meningkatkan kerja sama dan trust-building di kawasan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, yang mengarah pada kerjasama yang saling menguntungkan dan akan dibuka oleh Wakil Presiden RI.

​Pertemuan akan dibagi menjadi dua, yakni general debate dipimpin oleh Menlu RI Retno Marsudi dimana semua head of delegates akan menyampaikan posisi negara masing-masing. Setelah general debate, para delegasi akan dibagi ke thematic debates ke tiga tema, yaitu sustainable development goals, kerjasama maritim serta infrastruktur dan konektivitas.

Lanjutkan Membaca ↓