Sebelum Insiden, PM Selandia Baru Terima Manifesto Pelaku Penembakan di Masjid

Oleh Liputan6.com pada 17 Mar 2019, 18:00 WIB
Diperbarui 17 Mar 2019, 18:16 WIB
Jacinda Ardern

Liputan6.com, Wellington - Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern membenarkan kantornya adalah salah satu dari lebih dari 30 penerima manifesto yang ditulis oleh tertuduh pelaku penembakan di Christchurch. Manifesto itu dikirim sembilan menit sebelum serangan di masjid di Selandia Baru dilakukan pada Jumat 15 Maret 2019.

Berbicara pada konferensi pers pada Minggu 17 Maret setelah serangan yang menewaskan 50 orang, Perdana Menteri (PM) Selandia Baru, Jacinta Ardern mengatakan jika kantornya bisa melakukan apa saja terkait informasi yang dikirim oleh tertuduh pelaku penembakan Brenton Tarrant, "tentu saja kita akan melakukannya".

Dalam waktu dua menit setelah diterimanya, PM Jacinta Ardern mengatakan email - yang dia konfirmasi telah dibacanya - diteruskan oleh kantornya ke otoritas keamanan parlementer.

Perdana Menteri Arden mengatakan saran yang dia terima dari polisi menunjukkan bahwa waktu email itu diterima dan informasi yang terkandung di dalamnya tidak memberikan cukup waktu untuk melakukan tanggapan jelang penembakan di Christchurch.

"Saya ingin memberikan jaminan bahwa (jika saja manifesto itu) memberikan rincian yang bisa ditindaklanjuti dengan segera, pasti kami akan segera melakukan tindak lanjut," katanya, seperti dikutip dari ABC Indonesia, Minggu (17/3/2019).

"Sayangnya, tidak ada detail seperti itu di email tersebut."

Dia mengatakan pada saat polisi mengetahui email tersebut, panggilan darurat sudah diterima "dan seseorang kemudian ditahan 36 menit kemudian".

Ketika ditanya mengapa kantornya tidak segera mengirim email itu langsung ke polisi, Ardern mengatakan ada kebijakan khusus yang memastikan bahwa email semacam itu "harus selalu segera dikirim ke otoritas keamanan parlemen".

Email tersebut, yang dikirim ke alamat email umum untuk kantor PM Jacinta Ardern, juga dikirim ke kantor Pemimpin Oposisi, juru bicara parlemen, dan meja tur parlemen, bersama dengan sejumlah outlet media.

Berbicara melalui email sebelumnya hari ini, Komisaris Polisi Selandia Baru Mike Bush mengatakan: "Manifesto itu diteruskan kepada kami di siang hari. Jelas oleh beberapa penerima, tetapi tidak pada saat sebelum serangan berlangsung," kata Komisaris Bush.

 

Simak video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Respons Kepolisian

Wajah dan Senjata Terduga Pelaku Penembakan di Masjid Selandia Baru
Wajah Brenton Tarrant terduga pelaku penambakan di Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3). Warga Australia berusia 28 tahun tersebut melepaskan tembakan secara brutal ke dua masjid di Christchurch. (AP Photo)

Menanggapi komentar tentang waktu respons yang dilakukan polisi terhadap serangan itu, Komisaris Mike Bush mengatakan: "Saya dapat memberi tahu Anda bahwa dalam waktu enam menit polisi dipanggil ... staf polisi sudah ada di tempat kejadian."

"Dalam 10 menit, anggota pasukan AOS (Armed Offenders Squad) kami sudah berada di lokasi."

"Dan dalam waktu 36 menit, kita sudah berhasil meringkus pelaku."

Ketika ditanya apakah ini adalah waktu respons yang normal, Komisaris Bush mengatakan respon yang dilakukan pihaknya telah memenuhi harapan.

"Saya pikir masyarakat harus yakin bahwa kita telah berlatih untuk (menghadapi situasi kritis) ini, dan kami berharap, kami tidak pernah harus merespon peristiwa seperti ini," katanya.

Lanjutkan Membaca ↓