Polisi Cabut Imbauan Menjauhi Masjid Usai Penembakan di Selandia Baru, tapi...

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 17 Mar 2019, 12:32 WIB
Diperbarui 18 Mar 2019, 20:14 WIB
Penembakan di Masjid Selandia Baru

Liputan6.com, Wellington - Masjid-masjid di seluruh Selandia Baru bebas untuk dikunjungi kembali setelah kepolisian negara, pada Minggu 17 Maret 2019, mencabut imbauan untuk menjauhi tempat peribadatan muslim pasca-penembakan di Christchurch pada 15 Maret 2019 lalu.

Tetapi, polisi mengatakan kehadiran polisi dalam jumlah besar di tempat peribadatan akan tetap ada.

"Polisi akan terus berdiri teguh mendukung mereka, apakah itu terbuka atau tertutup. Kehadiran polisi tetap ada di semua masjid di Selandia Baru," kata Kepolisian Selandia Baru, seperti dikutip dari Stuff.co.nz, Minggu (17/3/2019).

Seorang juru bicara polisi mengeluarkan imbauan untuk menjauh dari masjid setelah penembakan yang terjadi di dua masjid di Christchurch, tepatnya di Masjid Al Noor dan Linwood Islamic Centre.

Brenton Harrison Tarrant, pria berusia 28 tahun telah didakwa dengan pembunuhan dan dua lainnya ditahan setelah penembakan di dua masjid Christchurch, tepatnya di Masjid Al Noor dan Linwood Islamic Centre.

Total 50 orang tewas dalam insiden terorisme itu, dengan perincian 42 tewas di Masjid Al Noor, sementara tujuh orang meninggal di Linwood dan satu lagi di rumah sakit.

Polisi Selandia Baru mendorong umat Islam untuk kembali ke kehidupan sehari-hari mereka tetapi juga waspada dan melaporkan sesuatu yang mencurigakan.

Namun, polisi juga maklum jika sejumlah masjid masih menutup diri demi alasan keamanan.

Sebagian besar masjid di sekitar Auckland tetap ditutup pada hari Minggu.

Sementara Masjid Baitul Muqeet di Wiri dan Masjid Ponsonby masih tutup, mengatakan bahwa mereka belum menerima kabar dari polisi.

 

Simak video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Respons Warga Lintas Agama bagi Korban Penembakan di Selandia Baru

Warga Selandia Baru dari berbagai latar belakang agama bersolidaritas terhadap korban dan komunitas muslim (AFP photo)
Warga Selandia Baru dari berbagai latar belakang agama bersolidaritas terhadap korban dan komunitas muslim (AFP photo)

Warga Selandia Baru dari berbagai latar belakang agama menggalang aksi solidaritas, menyusul insiden penembakan masjid yang terjadi di dua masjid Kota Christchurch pada Jumat, 15 Maret 2019.

Aksi solidaritas itu ditunjukkan dengan berbagai cara, mulai dari memberikan makanan halal kepada komunitas Muslim, bantuan merawat jenazah, serta menawarkan bantuan untuk menemani penduduk beragama Islam yang saat ini takut keluar rumah dan berjalan sendiri. Baca selengkapnya...

Lanjutkan Membaca ↓